Foto Budaya Debus
![]()
![]()
![]()
![]()
Dalam proses pembelajaran wawancara dalam mencari berita, tentunya tidak langsung pada tataran kita mencari berita, tapi bagaimana kita perkenalkan siswa kita pada pelaku wawancara mungkin lebih dikenalnya wartawan. Dialah yang bertanggung jawab dalam meliput berita, namun pada kenyataannya ada saja wartawan yang tidak menjalankan fungsinya sebagai wartawan. Bagaimana dijelaskan oleh Kijing selaku redaktur Radar Junior, bahwa wartawan merupakan kontrol sosial. Wartawan harus sanggup mencari berita, mendapatkan berita, mengolahnya, dan menginformasikan pada halayak. Sehingga wartawan dapat dikatakan sebagai sumber informasi dari berbagai peristiwa yang tersaji di media massa, maupun media elektronik.
Apabila fungsi wartawan terjalankan dengan baik, satu tugas yang sangat mulya telah ia kerjakan untuk kepentingan publik. Bagaimana tidak dikatakan mulya? ketika khalayak memerlukan informasi tentang pembunuhan misalnya, pembunuhan tersebut terjadi di Lampung dan orang yang dibunuh adalah orang Jakarta. Karena wartawan saat itu meliputnya dan keluarga korban membaca berita yang ditulis si wartawan tersebut, antara senang dan sedih saudaranya yang telah lama menghilang ternyata dibunuh orang. Mungkin kalau keluarga korban saat itu, tak membaca mencari kesana kemari berapa langkah telah terkorbankan, tapi dengan membaca berita tersebut keluarga korban menemukan saudaranya yang dicari walau tinggal raga yang tak bernyawa. Dalam istilah bahasa sunda kapendak bugangna bae geus sukur daripada teu kependak sama sekali (ketemu bangkainya saja sudah syukur tinimbang tidak diketemukan).
Namun, tidaklah mudah bagi seorang wartawan dalam menjalankan tugasanya, butuh keberanian, baik fisik dan mental. Karena tidak sedikit wartawan yang bertugas memerlukan waktu 24 jam dalam kerjanya. Terbukti peristiwa yang menjadi jona liputan, tidak siang bahkan malam bisa mengusik tidur untuk sesaat, sehingga tersita waktu istirahatnya. Selain itu wartwan dibutuhkan keberanian yang mantap, ditempat liputan banyak sumber yang menjadi ancaman bagi dirinya, baik disaat meliput maupun sesudah meliput berita, apabila mendapatkan berita tetang kasus KKN. Apabila berita tersebut tayang, wartawan kadang kena intimidasi, dari pihak yang merasa nama baiknya telah dicemarkan dihadapan publik. Bagi wartawan yang tak kuat mentalnya mungkin sudah kena setruk atau tekanan jiwa, tapi bagi wartawan yang sudah berpengalaman. Mungkin hal seperti ini, dijadikan hal yang biasa dalam menjalankan tugasanya.
Wartawan Bodrek
Akan tetapi, ada peristiwa yang berbalik dari kenyataan wartwan karena menyelewengkan tugas kewartawanannya. Tidak sedikit oknum wartawan yang mengintimidasi narasumber, ketika mewawancara narasumber karena kasus narasumber dianggap cukup serius contoh kasus korupsi. Ujung-ujungnya oknum wartawan minta duit walau tak memintanya, agar kasusnya tidak naik tayang. Nah ini onum wartawan dinamakan wartawan bodrek yang membahayakan khalayak yang berkepenting dan merugikan khalayak memerluka informasi penyalahgunaan uang rakyat. Tugas warawan seperti ini hanya pada tataran mencari berita dan mendapatkan berita saja. Menurut Kijing.
Tingkah laku wartawan bodrek mencemarkan nama baik wartawan dimata masyarakat mengurangi kefungsian wartawan sebagai kontrol sosial. Selain itu, ada nilai kurang percaya serta mempersulit kerja wartawan di masyarakat karena wartawan oknum wartawan tersebut.
Akan tetapi, satu kenikmatan dalam koran Radar Banten terdapat tulisan “wartawan tidak menerima bingkisan apapun ketika menjalankan tugasnya” semoga ini tidak sekedar motto untuk menarik perhatian publik, tapi sebuah langkah tugas wartawan akan kontrol sosial dalam menjalankan tugasnya. Sehingga terbangun kembali pada masyarakat Banten dan sekitarnya.
Siapa sangka pelepah dadap dan singkong dapat dijadikan modal keuletan Heri, menggeluti profesinya yang kini meroket dalam permintaan pelanggan pangkas rambutnya di kampung Bondol, kampung dimana telah memberikan kesempatan melihat dunia pana. Menurut penuturannya selama bulan ramadhan, Heri sempat mengantongi keuntungan sebesar 4 juta. Mungkin sangat mustahil, apabila Heri tidak mempunyai modal kepercayaan dari pelanggan yang selalu bertambah, dari waktu kewaktu. Pasalnya Heri dalam mengerjakan profesinya mempangkas rambut dikerjakan oleh dirinya sendiri ini, ternyata lokasinya berada di pedesaan yang jauh dari perkotaan. Menurut pengakuan pelanggannya yang tak mengungkapkan namanya “ saya suka dengan tempatnya yang alami, tinimbang dipinggir jalan panas, udaranya berpolusi, lagi sumpek dengan asap dan debu mobil yang melintas” ungkapnya dengan tawa. Mungkin itulah yang menjadikan modal ramain pangkas rambut Heri.
Akan tetapi, Heri yang perawakannya “jangkung leutik” (jangkung tapi badannya kecil red) ini memiliki sifat ramah pada pengunjung bahkan pada siapapun yang datang ketempatnya. Sifat keramahan ini, kadang melekat pada setiap orang yang datang ketempat pangkas rambutnya. Menurut penuturan Heri “kalau lagi kumat yang datang tidak sekedar ingin pangkas rambut, tapi niatan untuk refresing, mengobati kepenatan otak, mengobati rasa boring. Kalau udah kaya gini paling saya suruh masak pisang goreng, itupun kalau ada. Ya kalau ga ada paling liliweutan” dengan nada ngakak. Kedati demikian keroyalan Heri pada para pemuda ada saja yang ngomongin and ngomentarin, tapi menurutnya walau saya royal pada mereka ikhlas saya lakukan. Tandasnya
Dengan keikhlasannya Heri menjadi lebih yakin dengan usahanya yang sedang dirintis saat ini. Heri mempunyai cita-cita mendirikan kios salon di kampung sendiri, dimana ia dilahirkan dan dimana ia dibesarkan oleh kedua orang tuanya. Dia ingin memberikan citra pada kampung halaman yang ia tinggali saat ini. Dia ingin menciptakan lapangan kerja di kampung halamannya, dia pun tak ada rasa untuk pergi meninggalkan kampung halamannya. Justru menurutnya yang paling nikmat adalah berada di kampung sendiri bersama keluarganya, berbagi kesedihan dan kesenangan disaat ada serta disaat diperlukan. Ia pun menuturkan untuk saat ini 70 persen sudah tercapi cita-citanya, tinggal mencari tanah yang tak jauh dari kampung, tepatnya yang ada di depan jalan.Di penghujung Ramadhan semua masyarakat Islam sibuk menyiapkan acara untuk menyambut hari kemenangan yakni hari Raya Idul Fitri. Dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri banyak budaya yang disajikan oleh masyarakat termasuk budaya ziarah kubur atau berkunjung kesanak saudara yang sudah dikuburkan atau dikebumikan. Budaya ziarah kubur banyak dilakukan masyarakat muslim setelah menjalani ritual salat sunat Idul Fitri termasuk di kampung Cilaki.
Ritual ziarah kubur di kampung Cilaki tidak ada bedanya dengan di tempat lainya, tapi pada pelaksanaan ziarah kubur masyarakat menangkap keanehan atau hal yang ganjil ketika ada bunga tumbuh di pusara bayi. Awalnya keluarga jenazah tersebut biasa-biasa saja dengan kehadiran bunga tersebut, tapi setelah melewati beberapa hari bunga tersebut mekar dan membesar persis bunga bangkai yang tumbuh di Kebun Raya Bogor.
Bunga ini ternyata benar bunga Bangkai, setelah ada penelitian dari salah satu masyarakat yang tahu bentuk bunga Bangkai dan kabar bunga Bangkai tersiar ke seluruh kampung di kawasan kecamatan Cimarga. Dalam kabar tersebut meluas hingga bunga tersebut mendapat julukan dari masyarat bunga ajaib, mungkin kejaiban itu dikarenakan bunga tersebut tumbuh di pusara makam bayi dan bunga tersebut belum pernah ada sebelumnya ditempat tersebut.
Menurut sumber yang diungkapkan oleh seorang pemuda yang mengetahui sejarah singkat bunga tersebut. Bunga tersebut diketemukan oleh keluarga jenazah ketika ziarah kubur tepat tanggal 1 Oktober 2008 atau lebih dikenalnya 1 Syawal 1429 H dan pada 4 Oktober 2008 bunga tersebut mekar dengan indahnya hingga menarik perhatian yang lewat di tempat itu. Saking menariknya bunga itu jadi bahan tontonan masyarakat, tidak hanya masyarakat setempat bahkan luar wilayah kecamatan Cimarga juga ikut nimrung melihat bunga tersebut, bahkan kehadiran bunga tersebut dapat memberikan income bagi yang kreatif dengan situasi tersebut. Wujud kreatif tersebut terlihat dengan adanya penjualan foto bunga Bangkai yang dijual Rp. 10.000 per foto.
Dengan kehadiran bunga di pusara bayi yang tidak jauh dari jalan raya. Masyarakat menjadi terhibur dan dengan kreatifnya, agar bunga Bangkai tetap terjaga dari tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab, pusara jenazah bayi itu pun dipagar dengan tralis serta malamnya ada lampu penerang, walau di setiap malam tak ada pengunjung. Ini adalah salah satu wujud kepedulian warga mencoba menjaga kelestarian bunga Bangkai yang tumbuh di wilayah mereka. Sedikit ada kekhawatiran dengan penampilan bunga Bangkai yang unik lagi ajaib. Masyarakat menganggap bunga ajaib, padahal kejaiban itu telah Allah ciptakan agar makhluknya mensyukuri tentang keindahan ciptaanNya, bukan takjub sepenuhnya akan ciptaannya atau kata lain mendewakan ciptaannya.
Artinya Allah akan mensajikan dalam bentuk apapun, apabila Allah telah berkehendak dimanapun kehendak itu Allah sajikan seperti kata “Kun” dalam surat Yassin yang tidak ada keragu-raguan lagi, bagi makhluknya yang bertaqwa padaNya. Semoga kehadiran bunga Bangkai ini adalah rahmat untuk masyarakat Cilaki dan sekitarnya. Amin
Kabar Pengkramatan Bunga Bangkai
Dari hasil survai Alabarok ke TK bunga tersebust tumbuh, saya tidak menemukan praktik pengkeramatan. Di TK bunga Bankai tumbuh, hanya ada pemanfaatan situasi masyarakat setempat yang halal lagi terhormat diantaranya, masyarakat mencoba berkreasi menjual foto bunga Bangkai yang sudah dilaminating, ada pun pemagaran yang dilakukan oleh masyarakat. Alasan masyarakat, agar bunga tersebut terjaga dari tangan-tangan jahil, baik disegaja maupun tidak disegaja, sehingga terlihat terlindungi.
Dalam aktivitas warga yang hendak menonton keberadaan bunga Bangkai di makam tersebut, tidak memperlihatkan adanya sebuah aktivitas pengkeramatan. Seperti terlihat aktivitas ziarah berlebihan atau makam bayi tersebut diziarahi oleh pengunjung yang hendak mengunjungi tempat tersebut. Ada pun penamaan bunga ajaib, mungkin karena kekaguman pengunjung saja, akan keindahannya.
Ketika pengunjung menonton bunga tersebut, para pegunjung juga diberi penjelasan oleh Pemuda yang ada di tempat bunga bangkai tersebut, tentang bermacam-macam nama dan bentuk bunga Bangkai yang tumbuh di Indonesia. ketika Alabarok bertanya pada pemuda tersebut, pemuda tersebut menjelaskan pengetahuan akan jenis bunga tersebut berasal dari internet. Dengan bukti beberapa gambar bunga bangkai, lengkap dengan nama ilmiahnya di bawah pagar. Alabarok menyimpulkan tumbuhnya bunga Bangkai tersebut tidak lantas diberi nama bunga Bangkai, ada penelitian dulu melalui literatur internet.
Sumber berita diambil ketika pulang mudik, akan tetapi kabar tersebut sudah terdengar oleh penulis ketika pulang dari pasar Rangkasbitung, di mobil ada salah satu penumpang yang hendak mengunjungi bunga Bangkai dengan julukan bunga ajaib.
Satu acara yang aku hadiri senin ini tanggal 4 sampai dengan tanggal 5 selasa, pelatihan menulis kreatif untuk guru dan mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia dengan pemateri Nenden Lilis dan Moderator Firman Vanayaksa diselenggarakan oleh Hima Prodi Diksatrasia di gedung Auditorium Untirta Banten. Satu acara yang sangat menarik untuk disimak, terutama olah para guru bahasa Indonesia yang selama ini selalu dijadikan kambing hitam oleh para kaum intetektul terutama dalam pidato yang di bawakan oleh bapak Muhyidin, M.Pd selaku Ketua Prodi Diksatrasia menurutnya pembelajaran sastra di sekolah terutama menulis kreatif sering dikesampngkan oleh para guru hingga pelajaran bahasa Indonesia menjadi menjenuhkan, lantaran guru tak memahami sepenuhnya tetang sastra.
Ungkapan di atas apakah hasil riset atau hanya opini saja, saya kira ini perlu diperbaiki bagaimanapun juga guru menjadikan tolak ukur pemahaman muridnya ketika pelajaran disampaikan. Yang perlu diubah sekarang adalah program dulu “sastrawan bicara siswa bertanya” saya kira dipending dulu, sebab kalau diteruskan guru bahasa Indonesia dikencingi muridnya, bagaimana tidak dikencingi muridnya? muridnya tahu tentang sastra dari hasil Tanya jawab pada Sastrwan melalui acara program “Sastrawan Bicara Siswa Bertanya” gurunya belum pernah melakukan ini. Tentunya tidak harus dibahas pembaca yang budiman yang akan menelaahnya
Sungguh lucu bukan pemeparan tadi? Tapi ini bukan untuk diketawakan sebagai orang berpikir dan ingin menyumbangkan pemecahanya. Saya selaku penulis lebih tepat masalah ini ditangkis oleh “Sastrawan Bicara Guru Bertanya” intinya bertanya untuk muridnya, untuk bahan pembelajaran kedepan dan penembahan amalibadah para Sastrawan tidak sekedar berkaya untuk dibaca, tetapi pengalaman proses dalam berkarya dapat terbagikan pada para Guru.
Terima kasih pada Ibu Nenden Lilis yang telah memberikan seribu pengalaman pada saya dan teman-teman semoga ini langkah awal Sastrwan Bicara Guru Bertanya yang jelas saya menunggu gagasan hangat untuk saya transfer pada siswa saya di kelas
Anda kenal dengan panjang mulud? Kalau anda melintasi kawasan Palka (Palima, Pabuaran, Padarincang, Cinangka dan sekitarnya), pada bulan Maulid, pasti anda akan menemukan orang-orang memanggul aneka bentuk panggulan. Diantaranya bentuk yang dipanggul dapat berupa perahu, menara Masjid, burung Merpati, atau bentuk laninnya. Dibalut dengan sarung atau samping perempuan dan kalau anda sempatkan terhenti sejenak di Masjidnya, semuan panggulan itu dikumpulkan di halaman Masjid, dari mulai pembukaan acara sampai selesai membaca doa, baru dapat Panjang Mulud akan dibongkar, didalam terdapat nasi satu bakul, aneka ikan yang sudah dimasak bahkan mie instan ada didalamnya dan lain sebagainya bias disajika di Panjang Mulud asal berupa makanan yang layak makan.
Ketika pembongkaran Panjang Mulud, serasa seperti ada nilai kebersamaan dan ada berbagi disitu karena masyarakat setempat tidak memakan hidangan yang dimasukan kedalam Panjang Mulud. Yang intinya Panjang Mulud disajikan untuk para tamu undangan yang datang ke Masjid tersebut. Panjang Mulud memang sudah menjadi tradisi masyarakat Serang dan sekitarnya. Entah sejarah dari mana, tapi tradisi itu tercipta di bulan Maulid, sebagai perayaan Maulid Nabi Muhammad. Alabarok sempat bertanya kapan tradisi Panjang Mulud ternyata tak ada yang tahu atau mungkin Alabarok belum menemukan orang yang tahu sejarah Panjang Maulid.
Akan tetapi, Panjang Mulud menurut Alabarok mempunyai nialai yang sangat berharga. Nilai kekeluargaan antar kampung, baik kampung terdekat maupun kampung yang jauh. Momen kekeluargaan yang lebih mendalam dapat dirasakan dengan tradisi seperti ini. Kalau tradisi ini dapat berjalan terus. Tradisi ini sacara tidak langsung dapat menghilangkan permusuhan antar warga yang selama ini, kita dapat lihat ditayangan televisi. Tentang konflik antar kampung, padahal konflik tersebut berawal dari masalah sepele dan diantara mereka awalnya sodara, tapi proses penyelesainya seperti berabe untuk diselesaikan. Inilah satu cermin persaudaraan masyarakat Indonesia harus melalu tradisi masayarakat. Intinya penyelesaian butuh ada rasa nyaman dan dibangun melalui situasi tradisi kemasyarakatannya atau tidak terburu-buru.
Foto ini diambil ketika perayan Maulid Nabi di wilayah Padarincang minggu pagi
Heboh Bunga ajaib Ti Kampung Cilaki
Di penghujung Ramadhan semua masyarakat Islam sibuk menyiapkan acara untuk menyambut hari kemenangan yakni hari Raya Idul Fitri. Dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri banyak budaya yang disajikan oleh masyarakat termasuk budaya ziarah kubur atau berkunjung kesanak saudara yang sudah dikuburkan atau dikebumikan. Budaya ziarah kubur banyak dilakukan masyarakat muslim setelah menjalani ritual salat sunat Idul Fitri termasuk di kampung Cilaki.
Ritual ziarah kubur di kampung Cilaki tidak ada bedanya dengan di tempat lainya, tapi pada pelaksanaan ziarah kubur masyarakat menangkap keanehan atau hal yang ganjil ketika ada bunga tumbuh di pusara bayi. Awalnya keluarga jenazah tersebut biasa-biasa saja dengan kehadiran bunga tersebut, tapi setelah melewati beberapa hari bunga tersebut mekar dan membesar persis bunga bangkai yang tumbuh di Kebun Raya Bogor.
Bunga ini ternyata benar bunga Bangkai, setelah ada penelitian dari salah satu masyarakat yang tahu bentuk bunga Bangkai dan kabar bunga Bangkai tersiar ke seluruh kampung di kawasan kecamatan Cimarga. Dalam kabar tersebut meluas hingga bunga tersebut mendapat julukan dari masyarat bunga ajaib, mungkin kejaiban itu dikarenakan bunga tersebut tumbuh di pusara makam bayi dan bunga tersebut belum pernah ada sebelumnya ditempat tersebut.
Menurut sumber yang diungkapkan oleh seorang pemuda yang mengetahui sejarah singkat bunga tersebut. Bunga tersebut diketemukan oleh keluarga jenazah ketika ziarah kubur tepat tanggal 1 Oktober 2008 atau lebih dikenalnya 1 Syawal 1429 H dan pada 4 Oktober 2008 bunga tersebut mekar dengan indahnya hingga menarik perhatian yang lewat di tempat itu. Saking menariknya bunga itu jadi bahan tontonan masyarakat, tidak hanya masyarakat setempat bahkan luar wilayah kecamatan Cimarga juga ikut nimrung melihat bunga tersebut, bahkan kehadiran bunga tersebut dapat memberikan income bagi yang kreatif dengan situasi tersebut. Wujud kreatif tersebut terlihat dengan adanya penjualan foto bunga Bangkai yang dijual Rp. 10.000 per foto.
Dengan kehadiran bunga di pusara bayi yang tidak jauh dari jalan raya. Masyarakat menjadi terhibur dan dengan kreatifnya, agar bunga Bangkai tetap terjaga dari tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab, pusara jenazah bayi itu pun dipagar dengan tralis serta malamnya ada lampu penerang, walau di setiap malam tak ada pengunjung. Ini adalah salah satu wujud kepedulian warga mencoba menjaga kelestarian bunga Bangkai yang tumbuh di wilayah mereka. Sedikit ada kekhawatiran dengan penampilan bunga Bangkai yang unik lagi ajaib. Masyarakat menganggap bunga ajaib, padahal kejaiban itu telah Allah ciptakan agar makhluknya mensyukuri tentang keindahan ciptaanNya, bukan takjub sepenuhnya akan ciptaannya atau kata lain mendewakan ciptaannya.
Artinya Allah akan mensajikan dalam bentuk apapun, apabila Allah telah berkehendak dimanapun kehendak itu Allah sajikan seperti kata “Kun” dalam surat Yassin yang tidak ada keragu-raguan lagi, bagi makhluknya yang bertaqwa padaNya. Semoga kehadiran bunga Bangkai ini adalah rahmat untuk masyarakat Cilaki dan sekitarnya. Amin
Kabar Pengkramatan Bunga Bangkai
Dari hasil survai Alabarok ke TK bunga tersebust tumbuh, saya tidak menemukan praktik pengkeramatan. Di TK bunga Bankai tumbuh, hanya ada pemanfaatan situasi masyarakat setempat yang halal lagi terhormat diantaranya, masyarakat mencoba berkreasi menjual foto bunga Bangkai yang sudah dilaminating, ada pun pemagaran yang dilakukan oleh masyarakat. Alasan masyarakat, agar bunga tersebut terjaga dari tangan-tangan jahil, baik disegaja maupun tidak disegaja, sehingga terlihat terlindungi.
Dalam aktivitas warga yang hendak menonton keberadaan bunga Bangkai di makam tersebut, tidak memperlihatkan adanya sebuah aktivitas pengkeramatan. Seperti terlihat aktivitas ziarah berlebihan atau makam bayi tersebut diziarahi oleh pengunjung yang hendak mengunjungi tempat tersebut. Ada pun penamaan bunga ajaib, mungkin karena kekaguman pengunjung saja, akan keindahannya.
Ketika pengunjung menonton bunga tersebut, para pegunjung juga diberi penjelasan oleh Pemuda yang ada di tempat bunga bangkai tersebut, tentang bermacam-macam nama dan bentuk bunga Bangkai yang tumbuh di Indonesia. ketika Alabarok bertanya pada pemuda tersebut, pemuda tersebut menjelaskan pengetahuan akan jenis bunga tersebut berasal dari internet. Dengan bukti beberapa gambar bunga bangkai, lengkap dengan nama ilmiahnya di bawah pagar. Alabarok menyimpulkan tumbuhnya bunga Bangkai tersebut tidak lantas diberi nama bunga Bangkai, ada penelitian dulu melalui literatur internet.
Sumber berita diambil ketika pulang mudik, akan tetapi kabar tersebut sudah terdengar oleh penulis ketika pulang dari pasar Rangkasbitung, di mobil ada salah satu penumpang yang hendak mengunjungi bunga Bangkai dengan julukan bunga ajaib.
Kita Evaluasi Diri
Saefullah Cavin Al-Abarokms
Ketika kita melihat saudara kita yang sempat terbujuk dengan keadan yang mengharuskan keluar dari agamanya. Apakah kita akan mengecap mereka kafir, saya kira kurang bijak. Saya kira kita tidak perlu menyalahkan mereka, justru kita harus bertanya kenapa mereka harus keluar dari agamanya? Dan sudahkah kita bertanya tetang penyebabnya? Kalau belum jangan salahkan mereka. Kalau sudah apa penyebabnya? Apa karena kenyamanan? Atau kebutuhan hidup? Atau mungkin yang lainnya yang seharusnya kita kaji, jadikan evaluasi buat kita yang awalnya seagama.
Memang tidak banyak saudara kita yang terjebak dengan masalah perut, hingga ia berani untuk mempertaruhkan keyakinannya demi perut. Saya yakin semua umat Islam mempunyai iman tapi apakah yang diterangkan dalam cerpen “Mas Umar” karya Sentoso, Arief Budi (104:2006). Tak heran juga kalau orang menukar imannya dengan sejumlah beras dan beberapa bungkus mie. Kemudian orang-orang menyalahkan umat lainnya. Memang kemana mereka saat saudara-saudaranya membutuhkan makan? Kelaparan dan kedinginan. Pantas kalau hati yang lemah itu condong atas kemurahan hati orang lain. Jangan cuma salahkan orang, salahkan diri yang tak mau ambil peduli. Iman memang tak kenal perut kenyang dan lapar, tapi mungkinya butuh makan. Mukmin juga manusia.
Ini mungkin salah satu eveluasi kita yang bisa saja, tak mau ambil peduli dengan saudara kita yang seiman dan tak mau mengarahkan mereka pada kebutuhan mereka. Padahal kalau kita kaji lebih dalam tentang zakat, saya kira saudara kita yang seiman tak akan kelaparan. Saya yakin dari sekian umat Islam banyak yang kaya, yang sanggup mengeluarkan 2,5 dari penghasilkan dan umat Islam di Indonesia ini bisa dikatakan agama mayoritas. Tapi aneh yang peduli kok agama minoritas, terlepas bentuk kepedulian itu untuk membujuk umat Islam.
Kita juga jangan sampai seperti tokoh Mas Umar yang terdapat dalam cerpen “Mas Umar” bahwa hidup dan berekerja cukup dengan ikhlas. Tapi ikhlas juga perlu untuk dihargai agar orang-orang yang merasa mempekerjakan diri kita tahu diri, bahwa bekerja perlu keringat dan bayaran untuk keringat juga perlu untuk makan serta istirahat yang nyaman. Apalagi dengan hidup di jaman sekarang ini segala sesuatu pasti dijadikan bayaran sampai kita kalau ke kota barak saja bayar. Yang mingkin kalau hidup di kampung yang namanya berak itu cukup di kali saja atau di cubluk atau di WC umum yang dibuatkan dengan dana pemerintah kalau ada. Atau kalau ingin nikmat nebeng kerumah tetangga yang dianggap mampu mempunyai WC enak, tapi kan orang tersebut tidak selamanya suka menerima kita, mungkin saja jadi runyam masalahnya kalau kita banyak nebeng. Karena perasaan tak bisa disembunyikan terus.
Sehingga tokoh Mas Umar telah diberikan hidayah oleh Allah yang awalnya ketakutan terlena akan gemerlap harta. Juga akan istri, anak atau tahta, yang itu semua pitrahnya dunia. Namun ternyata itu semua bukan berarti harus dihindari. Guru ngaji seperti Mas Umar mungkin tidak butuh bayaran saing ikhlasnya, tapi dakwah agak perlu materi. Dakwah yang bermartabat juga perlu cara yang terhormat. Dakwah perlu kemandirian ekonomi, bukan mengemiskan diri. Bila tidak, dakwah akan kehilangan berkahnya, ulama tak lagi berwibawa, umat bisa gocang keyakinannya(Santoso, 104: 2006). Sehingga guru nagaji seperti Mas Umar juga perlu kaya, apalagi dalam dirinya niatan untuk membantu saudaranya yang seiman, sangat bersemangat setelah menemukan peristiwa yang memilukan.
Berpijak dari pengalaman yang telah dilaluinya Mas Umar mencoba mengubah hidupnya dengan berdagang bubur kacang ijo dan membuka privat baca Quran atau ngaji pada malam hari. Mas Umar pun memiliki tekad boleh punya banyak uang di tangan, tapi jangan dimasukan kehati. Dunia boleh dimiliki, tapi jangan dimiliki oleh dunia. Bahkan orang-orang yang berimanlah yang berhak menguasai dunia. Bila tidak dunia akan semakin rusak di bawah orang-orang durjana. Dalam prinsip yang pernah kita dengan kita jangan mau kaya tapi kita harus kaya. Artian itu kita jangan sampai ketika diberi kesempatan kaya hanya bisa memperkaya diri kita, disekitar kita tak dipedulikan. Setelah orang sekitar berpaling karena masalah kelaparan, kita menyalahkan penyebabnya tanpa mengoreksi langkah dan kepedulian selama ini. Sebelumnya penulis mohon maaf dengan tuisan ini semoga jadi jawaban bagi umat Islam yang kaya, yang belum peduli dengan saudaranya yang lemah.
Saefullah Cavin Al-Abarokms Jalan menuju ke indahan banyak cara untuk diciptakan orang dengan aneka nama termasuk pesta. Pesta yang selalu identik dengan keindahan bahkan kesesatan didalamnya kadang ada, kadang tidak tergantung penyajian pesta itu sendiri. Namun penyajian perta kali ini agak berbeda, kami hanya sekedar makan-makan sesuai kesepakatan bersama, sesuai keingin bersama baik yang telah lama kami janjikan atau secara mendadak kami buat. Sekumpulan para pemuda yang bertemapt di asrama The Flawers, kali ini malam senin, tepatnya tanggal 24 setelah usai mengghadiri acara bedah kampus di Universitas Indonesia dari mulai pagi sampai sore. Kami baru tiba di tempat kami pukul 18.40, namun sebelum kami tiba ke tempat kami. Kami sempatkan berhenti di pasar Ayer tepatnya pukul 17.30, kami manfaatkan untuk berbelanja, teman kami Heru mempunyai ide kalau uang sisa jajan kami dibelikan martabak Bangka dan martabak telor. Tidak banyak martabak yang kami beli Cuma dua Loyang saja, tapi agak berbeda nunsanya walaupun hanya dua Loyang. Karena martabak yang kami beli adalah martabak yang benuansa pertemanan kalau yang sering diungkapkan MT dalam tulisannya. Kami bersepakat mala mini untuk tidak kembali ke asrama masing-masing, kami bersepakat untuk menyantap makanan itu di asrama The Flawers. Ketika tiba bus yang kami tumpangi di bumi Nurul Fikri yang menjadikan jantung hidup, kami langsung menurunkan peserta kunjungan untuk melaksanakan shalat magrib, setelah usai para tholib diminta untuk kembali ke asramanya masing-masing. Sepertinya benak mereka yang berjanji akan menyantap martabak di asrama The Flawers, sama seperti saya ingin cepat-cepat menyantap martabak. Salah satu kasus penguat yaitu ketika martabak dibuka dari bungkusannya semuanya untuk perseta pesta makan dalam setegah jam tak henti-hentinya mengunyah walaupun martabaknya sudah habis. Entah apa ya yang dikunyah? Tapi yang jelas martabak yang kami santap cukup puas. Kerena dalam pesta tersebut tidak hanya martabak yang kami nikmati tapi guyon yang kami nikmati. Dari mulai guyon yang cerdas, mencerdaskan, sampai dicerdaskan. Sajaian pesta dirasakan oleh peserta pesta makan The Flawers itu berlangsung sampai pukul 09.00 itu yang dirasakan oleh saya. Tepi bagi yang masih ingin melek itu sampai pukul 10.00. Entah ya? Kerena saya sempat bangun pukul 03 peserta pesta The Flawer masih menikmatinya dengan nonton bola. Saya bukan tidak menghargai teman, tapi saya sedang menghargai ngantuk saya. Jadi saya tidur lagi karena esok saya harus piket. Oh ya maaf teman-teman yang tinggal di asrama Marbela tak sempat kami undang. Karena kami tak sempat membuat undangan pestanya, lagian acaranya juga dadakan. sekali lagi maaf ya.
Antara puisi dan prosa
Saefullah Cavin Al-Abarokms
Pada perlombaan menulis puisi Pelestina kemarin entah penulis lupa tanggal dan hari penyenggaraan lomba tersebut. Yang jelas penyelenggaraan lomba penulisan puisi diadakan untuk momen menyambut tamu NF kalau tidak salah dari KISPA. Jelasnya saya diminta oleh panitian penyenggara acara tersebut, untuk menjadi juri lomba puisi, sebenarnya berat hati ini untuk menjadi juri kerana untuk menilai puisi di masa sekarang ini, tidak jelas patokan menilai tulisan puisi. Walau saya genar menulis puisi belum tentu gemar menilai puisi dalam artian menilai secara pendekatan konteks sastra secara utuh, baik dalam pendekatan struktruralisme, pendekatan persepsi sastra, dan pendekatan-pendekatan lainya yang menyangkut telaah teks sastra serta apresiasi sastra.
Saya menilai puisi baru tataran rasa saya pribadi, yang saya lihat pada keindahan kata, konkrit kata, Familiars kata dan susunan puisi yang dianggap menarik oleh saya. Karena ketika saya diajarkan tentang menulis puisi oleh dosen saya Moh.Wan. Anwar. Dia mengajarkan saya ketika puisi ditulis terangkai dengan memperhatikan konkrit katanya, familiars katanya yang intinya kata-kata puisi tersebut ditulis dengan tidak vulgar seperti dalam catatan harian kita, seperti dalam pesanan prosa kita.
Kata Moh. Wan Anwar kalau mau menulis puisi, ya puisi saja tidak usah disamakan dengan prosa. Seorang penyair juga perlu mengenal etika menulis, sehingga tulisannya tidak vulgar, menggelegar seperti tak terkendali. Walaupun media tulis adalah salah satu sarana penulis untuk mengungkapkan batin tulisan, tapi ini akan berakar pada citraan puisi si penulis kalau tidak dikendalikan. Ya penulis mengakui selama ini belum menuju kearah tulisan puisi yang diungkapkan di atas, tapi ketika menuju ruang lomba insya Allah hal-hal seperti itu akan saya perhatikan yang dimulai dengan tulisan di bloger saya.
Memang kalau kita lihat beberapa tulisan penyair terkemukan yang hadir di media Nasional bahkan regional. Kita sempat bingung, kita harus memakai gaya siapa dalam menulis puisi? Bentuk apa saja yang selalu disajikan, dari mulai kata-kata yang ngalir (mudah dimengerti) sampai dengan tulisan yang absut atau sur-realis (tidak mudah dipahami begitu saja layaknya puisi mengalir). Tapi kita tidak usah terjebak dengan tulisan mereka mulailah dari apa yang kita pahami, mulai lah dari apa yang kita kuasai, kita punya. Sebab puisi tercipta dari mulai terikat sampai ke hal yang tidak terikat. Kalau yang saya ungkapakan itu persepsi saya selaku penilai.
Ada beberepa kemungkinan yang akan terjadi pada beberapa orang ketika mengikuti, mendampingi anak didiknya dalam perlombaan. Ada satu kejanggalan dalam melakukan penilaian hasil lomba yang telah diselenggarakan. Makanya ketika selesai ada pendapat ini pasti jurinya disogok, saya katakan ini tidak ada kaitan dengan sogok menyogok, tapi yang jelas ini berkaitan denga rasa si juri itu sendiri. Mengapa demikian, saya ungkapkan karena ini berkaitan dengan pengalaman saya, ketika itu seorang penulis sekaligus pemerhati dan penggiat sastra yaitu Arif Senjaya. Kita tidak usah malu untuk mencoba tampil dalam perlombaan yang waktu itu ada perlombaan peksiminas di Lampung, tidak ada kata berpengalaman atau tidak berpengalaman. Juri dalam menilai berdasarkan rasanya, berdasarkan prediksinya yang saat itu pasti terjadi kemungkinan-kemungkinan pada peserta lomba yang tidak mungkin terjadi. Ia menuturkan ketika ada pembaca puisi dengan nada teratur, sesuai teks dan serba anggun disampaikan pada penonton. Tapi ada salah satu peserta membaca puisi dengan nada tidak teratur atau mungkin menyimpang dari yang sesungguhnya, tapi kok bisa menang. Itulah kekuatan rasa
Maaf apabila ada sesautu hal dalam menilai hasil tulisan anda yang ikut lomba tapi ini jujur berdasarkan rasa saya. Yang saya dapat dari pengalaman jangan putus asa dalam mengikuti lomba, sutu saat akan ada peluang menjadi pemenang atau anda yang menjadi pemenang. Tapi sebenarnya semua peserta lomba sudah menjadi pemenang dalam menaklukan keraguan diri yang ada pada diri peserta lomba, tinimbang orang-orang yang mau ikut lomba, tapi tidak jadi. Sungguh orang tersebut sudah kalah beberapa langkah. Saya selaku pemerhati, penilai meresa bahwa tampilan puisi peserta lomba bagus semua walau pun, diri saya merasa tersiksa untuk memberikan keputusan dalam menentukan siapa pemenangnya. Wallahu alam.
Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Naoko M