Foto Budaya Debus
![]()
![]()
![]()
![]()
<!– @page { margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>
Dari laut
Sepasang sungai kau pertemukan
Di pesisir tak sirna bumbu pertanyaan
Yang siap bergemuruh bersama ombak silih berganti
Di liang bilik para kiai
Dalam memapar dakwah-dakwah tentang para istri
Yang nyantri
Dalam mengumpulkan kalimat-kalimat baktinya
Ia menjawab tanpa basa basi tabir merenggut
Akan bukti yang telah dijelajahi para lelaki
Blingsing blingsatan akan wanita
Yang tanpa dipikir cinta atau tidak
Ketika ijab di mata saksi
Pandeglang, 2009
<!– @page { margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>
Untuk Ibu Nenden Lilis
Di atas kepala mengepal
Mata melesat, tersenyum lepas
Dalam mimbar berbagi cerita, untai
demi untai menyibak layar negri ziran
Tanpa harap benih-benih padi siap tunai
di pematang.
Walau si kuda jantan miliknya terkulai
Dipungut bumi, di bungkus kapan
Yang lalu
Kini tinggal bersama lahat-lahat tak bertuan
Seperti saja usai berzarah memungut kata
Yang tak habis
dan sanggup melukisnya dari jaman ke jaman
Dengan paruh baja ia sulut apinya menyengat
cemburu para wanita
Yang tak sempat banyak diberi restu kakanda
Ia pun tersenyum ketika menatap langit sunggasanaNya.
Cisitu, Mei 2009
<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:""; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
Kini telah lunas
Hutan firdaus dimata mayapada
Tidak ditanganku yang selalu terlukis padang diri
Tak bertuan, ranting tak berdaun
Walau dihuni aneka belukar jenaka
Dan rerumputan yang selalu tersenyum kekecutan
Ada seribu Tanya, ketika ku menatap alis
Yang hilang garis lengkungnya.
Seolah tersembunyi di balik akar kemunafikan
Yang menyodorkan emas berganti perak saat ku melaut
Tidak juga aku!
Seperti saja wajah yang sempat kulupakan
Membelai kearifan
Memberiku pergi dalam kekalutan
Dalam keberpilihan
Menatap zarah yang sempat ku basuh telapak kakinya
Di kala malam purba datang kepangkuan
Menjadi prisai
Menjadi hijab
Di mihrab peluh ratap dzikirku
Dalam terpaan ampunanku
Cimayang, Mei 2008
Siapa sangka pelepah dadap dan singkong dapat dijadikan modal keuletan Heri, menggeluti profesinya yang kini meroket dalam permintaan pelanggan pangkas rambutnya di kampung Bondol, kampung dimana telah memberikan kesempatan melihat dunia pana. Menurut penuturannya selama bulan ramadhan, Heri sempat mengantongi keuntungan sebesar 4 juta. Mungkin sangat mustahil, apabila Heri tidak mempunyai modal kepercayaan dari pelanggan yang selalu bertambah, dari waktu kewaktu. Pasalnya Heri dalam mengerjakan profesinya mempangkas rambut dikerjakan oleh dirinya sendiri ini, ternyata lokasinya berada di pedesaan yang jauh dari perkotaan. Menurut pengakuan pelanggannya yang tak mengungkapkan namanya “ saya suka dengan tempatnya yang alami, tinimbang dipinggir jalan panas, udaranya berpolusi, lagi sumpek dengan asap dan debu mobil yang melintas” ungkapnya dengan tawa. Mungkin itulah yang menjadikan modal ramain pangkas rambut Heri.
Akan tetapi, Heri yang perawakannya “jangkung leutik” (jangkung tapi badannya kecil red) ini memiliki sifat ramah pada pengunjung bahkan pada siapapun yang datang ketempatnya. Sifat keramahan ini, kadang melekat pada setiap orang yang datang ketempat pangkas rambutnya. Menurut penuturan Heri “kalau lagi kumat yang datang tidak sekedar ingin pangkas rambut, tapi niatan untuk refresing, mengobati kepenatan otak, mengobati rasa boring. Kalau udah kaya gini paling saya suruh masak pisang goreng, itupun kalau ada. Ya kalau ga ada paling liliweutan” dengan nada ngakak. Kedati demikian keroyalan Heri pada para pemuda ada saja yang ngomongin and ngomentarin, tapi menurutnya walau saya royal pada mereka ikhlas saya lakukan. Tandasnya
Dengan keikhlasannya Heri menjadi lebih yakin dengan usahanya yang sedang dirintis saat ini. Heri mempunyai cita-cita mendirikan kios salon di kampung sendiri, dimana ia dilahirkan dan dimana ia dibesarkan oleh kedua orang tuanya. Dia ingin memberikan citra pada kampung halaman yang ia tinggali saat ini. Dia ingin menciptakan lapangan kerja di kampung halamannya, dia pun tak ada rasa untuk pergi meninggalkan kampung halamannya. Justru menurutnya yang paling nikmat adalah berada di kampung sendiri bersama keluarganya, berbagi kesedihan dan kesenangan disaat ada serta disaat diperlukan. Ia pun menuturkan untuk saat ini 70 persen sudah tercapi cita-citanya, tinggal mencari tanah yang tak jauh dari kampung, tepatnya yang ada di depan jalan.Sore itu Aku dan Heri baru tiba di kampung halamanku. Aku disambut Ema, Bapak, beberapa adikku. Mereka seperti senang dengan kedatanganku, wujud senang terlihat senyum Ema dan Bapakku yang membuat aku tersenyum lucu akan gigi Ema dan Bapak hi yang makin hitam, mungkin keseringan memakan sirih. Ema memelukku dengan meneteskan air mata “gima keadaanmu Ujang di Serang” Aku terhenti sejenak mengikuti napasku yang tersengal.
“Allhamdulillah baik-baik saja Mak!”
“terus denga Emak gimana?”
Emak menjawab setelah senyum dan tetes air mata Ema terseka, “Alhamdulillah baik juga, tapi masuk dulu atuh”
“gak enak sama tetangga, ayo ujang bawa babaturana ke dalam”
“ya ma!, Her ayo masuk “ ungkapku pada Heri
Heri masuk, langsung ku persilakan duduk di ruang tamu. Heri menatap sekeliling ruang tamu rumahku, Aku diam sejenak membiarkan Heri menikmati suasan ruang tamu rumah ku dan terhenti pada sekumpulan anak kecil. Lantas Aku menjelaskan sebelum Heri bertanya,
“itu teman-teman Aku di Bungin kali Ciberang ketika main bola yang tinggal kenangan”
“kenapa tinggal kenangan” tukas Heri
Aku meneteskan air mata, teringat akan kisah teman-teman di foto tersebut. Tak lama Aku menjawab pertanyaan Heri yang tertunda. Sepertinya Heri sudah menduga ada tragedi dalam foto tersebut.
“Dulu kami hidup bersama dengan mereka, bercengkrama, bermain bola, memanjat pohon kecapi. Tapi tragedi kilat menimpa mereka, ketika mereka ngurek Belut di sawah Lega. Aku pun tak habis pikir, dengan nasib mereka yang begitu cepat dijemput maut lantaran sambaran kilat yang begitu dahsyat. Padahal teman-teman Aku sudah berlindung di saung pak Sawira, tapi kilat itu tetap menyambarnya. Hanya satu orang yang selamat si Sapri, entah orangnya ada dimana sekarang.”
Aku menyeka air mata, mengakhiri cerita. Heri mengangguk seperti telah paham dengan pristiwa yang Aku ceritakan.
Tak lama Ema membawakan dua gelas air dengan ditemani singkong rebus, umbi rebus, dan gula aren. Aku tersenyum pada Ema.
“Ema tahu aja makanan kesukaan saya”
Sambil mempersilakan pada Heri untuk memcicipi rebus singkong dan rebus Umbi. Aku ngasing cara makannya.
“Her cara makannya gini, dicocol sama gula, am deh”
Sambil ketawa kecil. Heri pun mengikuti cara makan Aku, lalu ia tersenyum,” bener enak euy” ungkapnya sambil ketawa. Ema tersenyum sambil ketawa juga, sambil duduk di sampingku.
Tak lama Aku teringat sama si Sapri, lalu Aku bertanya.
“Ma gimana keadaan si Sapri?”
Ema terdiam sejenak, terus ia menjawab pertanyaanku dengan membagi napasnya.
“Si Sapri baik-baik saja, tapi keberadaannya seperti aneh, kadang ada di kampung kadang gak ada”
“Kata Emanya sih si Sapri, kerja di Jakarta sama sodaranya, tapi semenjak si Sapri kerja di Jakarta banyak kambing yang mati tinggal kepalanya, bahkan Kerbau mang Emeh juga mati tinggal kepalanya juga. Kata para tetangga, si Sapri nyupang, karena pengakuan Emanya. Si Sapri sangat tidak masuk diakal, masa kerja di Jakarta hari senin, selasa, rabu, dan kamis ada dirumah. Jumatnya baru berangkat ke Jakarta. Pulang hari minggu.”
Aku tersentak, lalu dengan refleksnya Aku membela si Sapri.
“Ah di jaman modern sepeti ini masih percaya sama gituan, biasa saja si Sapri kaya karena hasil jerih payahnya. Aku yakin ma, ada yang memanfaatkan situasi ini, Aku udah tahu siapa si Sapri. Dia selama berteman dengan ku belum pernah ketinggalan sembahyang”
Ema memotong pembicaraanku
“Itu sifat Sapri dulu, sewaktu Sapri masih kecil, sekarang mah agak berbeda. Kalau dia ada di kampung, masyarakat belum pernah melihat si Sapri ke Mesjid. Kalau tidak percaya nanti kalau si Sapri lagi ada di kampung. Semua masyarakat disini sudah banyak membicarakan si Sapri, bahkan mang Jarman pernah meminta bantuan dukun untuk meneropong sebab nusabab kematian kambingnya. Kata dukunya kambingnya mang Jarman dimakan demitnya si Sapri”
Aku memotong pembicaraan Ema
“Aduh dijaman saiki masih saja percaya pada yang namanya dukun, Aku tidak percaya”
“Ya uda kalo gak percaya” Ema melengos, kaya sewot
“Her Aku yakin ini bukan kerjaannya si Sapri, ini kerjaan orang-orang yang memanfaatkan situasi Si Sapri”
Heri merenung sejenak, lalu berbicara.
“Ya! Aku juga yakin seyakin-yakinnya, walaupun Aku belum melihat temamu si Sapri itu”
Tiba-tiba suara beduk dipukul disana-sini, dengan diselingi sayup-sayup suara azdan. Ema memberika sarung. Aku mengajak Heri ke Masjid menunaikan salat Magrib, diperjalanan terusaja membicarakan masalah Si Sapri, tak lama Aku sampai di Masjid. Aku bersalaman dengan beberapa orang dengan sapa menyapa. Aku ambil wudu di kobak, belakang Masjid. Tak lama sura Iqimah berkumandang. Aku memulai salat, tapi dalam salatku masih terpikirkan tentang isu Si Sapri itu. Bahkan lebih bergejolak, ingin membuktikan bahwa Si Sapri bukan dalang, dari kejadian yang sedang berkembang di kampungku.
Kepenasaranku begitu menukuik, sampai tiba di rumah. Makan malam pun seperti tak berselera, walau pun Aku memperlihatkan pada Heri begitu berselera dengan makan malam ini karena tak enak pada Heri yang sedang bersemangat makan. Padahal hatiku terpengruh dengan persoalan yang sedang bergejolak. Hingga sampai selesai makan pun, masih tetap gelisah dan Aku ingin sekali ke rumah Si Sapri. Tapi Aku teringat dengan tubuhku yang bau belum mandi, Aku mengajak Heri mandi sambil berjalan ke dapur mengabil handuk dan sabun. Lalu Aku melangkah ke pentu dapur, tak lama Ema, bertanya
“Jangan madi ke keli, banyak bejanya! Demit si Sapri sedang beraksi, kamu jadi korbannya. “
“Ah! Aku gak percaya sama yang gituan, Aku lebih percaya sama Allah”
“Kamu maksa amat, gak ngedengerin nasihat orang tua. Nanti kamu kualat”
Aku tak mendengar nasihat Mak, Aku langsung saja menuju kali. Ma ku menjerit memerintahkan pada dua adiku untuk menemaniku, bahkan Bapak juga mengikutiku. Sedang Aku sudah sampai di kali, tak lama Bapak dan kedua Adiku datang.
“Kamu lain di rumah saja mandina” Kata Bapak dan kedua Adik-Adikku
“naon percaya ka demit, ka Allah pa!” dengan kesal Aku menjawab.
Tak lama gema Isya terdengar, Aku dengan manja menceburkan tubuhku kembali ke air yang segar, sebelum kutemui untuk satu tahun ini. Tak lama Heri seperti menangkap sesuatu, Heri mendekatiku.
“Sepertinya ada sinar yang berkilau ditanah lapang itu” ungkapnya sambil membisik
“kayanya ia Heri “
Aku diam sejenak menatap dua kalau sinar itu, Aku ajak Heri tuk mendekati dua sinar yang berkilau, Aku sudahi mandiku. Lalu Aku memakai celana sampai baju, ku dekati sinar itu, tak lama bapak berteriak kecil “Jang jang mendekat kesitu” tak ku gubris suara Bapakku. Aku bersama Heri terus mendekati kearah dua kemilau sinar itu. Setelah mendekat ku pegang sinar itu, menurut perasanku ini kepala Domba.
Aku penasaran hendak melihat jelas dengan lampu yang tak kunyalakan. Aku tersentak ada yang lari, tak jauh dari tempat itu. Mendengar sura yang lari, Aku lebih bersemagat untuk mengejar pasti ini pelakunya, ketika badanku sudah mendekat ku tentang ia. Heri membantunya dengan pukulan, ia terus saja berusahan berlari walau sudah jatuh. Sepertinya ia sempoyongan, Aku tak memberi kesempatan, kembali menendang dengan beberapa pukulan. Akhirnya jatuh tersungkur, Aku tak membuang kesempatan, ku tikam dia. Sepertinya dia sudah tidak biasa apa. Lalu ku buka tergos yang menutupi kepala dan mukanya. Aku tersentak ternyata “mang Jarman”.
“jadi selama ini yang menyebarkan isu yang kurang baik pada taman Aku mang Jarman”
Aku menghela napas, ingin rasa memukul kembali, tapi tak tega ketika yang kulihat mangku sendiri.
“sebentar Jang, Sapri juga ikut terlibat dalam sekenaryo ini”
“yang benar Mang!”
“jangan bikin pitnah aja” sambil kekerot gigi ku
Tiba-tiba datang warga dan Bapak ku menghampiriku, Aku langsung berbicara.
“ini yang jadi Demit” sambil memandang najis
“jangan salah Jang Bapak ujang juga ikut terlibat, ulang mungkir!”
Bapakku menunduk, sesudah Aku Tanya dan mengakuinya. Aku merasa malu pada masyarakat kampung halamanku, sambil memukul dada Bapakku dengan kesal.
Usai
Usai sudah panorama yang kemarin tersimak
Karena kini telah melebur kegelisahan
Yang dulu tersimpan resah
Dalam-dalam hanya menyimpan riwayat
Dilubuh hati yang masih berpapas senyum
Dan ku jadikan catatan
Dikala lembar-lembar album mengingatkan
Cihideung, 17 Desember 2009
Dalam
Dalam satu detik kita akan hancur
Apa melaju mujur?
Dalam satu langkah kita akan terpaku
Apa melenggang kaki?
Dalam satu napas kita akan terhenti
satu rindu seolah jauh
satu rindu seolah dekat
satu rindu tertinggal
dalam ketenggelaman
kelupaan kita diingatkan akan peristiwa
cinta
siksa
maksa
tidak terasa
seolah kita!
Cihideung, Desember 2008
Tidak
Tidak ada rasa ini terpenjara
Yang ada orang bego yang memenjarakan aku
mengangap bego
padahal?
Tak jauh sama begonya
Tak akan enyah
Apabila hati ini belum karena titahMu
Suatu saat
Tak perlu kau
Tak mengharap kabarpun
Aku sudah berkemas
Karena telah menungguku
Hanya lillah hita’ala
Cihideung, Desember 2008
Hai
Murtadha Muthari
Hai, pagi ….
Pagi ini kau ingatkan kami tentang kebersihan
Kami tahu. Tapi kami jarang melakukan
Kadang kala ada saja
Kelakuan kami yang menjengkelkan
Tapi, buat ….
Entah itu sadar apa pasrah
Jelas kau tetap tersenyum
Aku rindu senyum itu
Aku rindu akan keramahanmu
Aku rindu semua ….
Waktu tak seberapa lama lagi disini
Dan ku mohon kau mau memaafkan
Kehilafanku
Disengaja atau pun tidak
Yang kau tahu
Mau pun tidak kau tahu
Sorry aku rindu itu semua
Cihideung, Desember 200
Menyisakan Gelisah
Kedamaian yang masih menyisakan gelisah
Dalam segores resah
Tertuju pada kerut muka
Yang gembira, tapi mencari solusi api-api
Saat itu
Derit meja mesih dimainkan tangan
Dalam memainkan nyaman
Tapi sang pemerhati
Melukis masa depan yang begitu panjang
Begitu rumit
Tapi mesih menanti harapan
Dalam kanvas barunya segumpal kepal
Baru tersandar
Menyadari riwayat di hutan ini
Selesai sudah
Dikala secarik kertas berharap lain
Sudah tak bermakna lagi
Seutas senyum masih!
Cihideung, Desember 2008
Ngeh
Senandung rindu berjalan begitu saja
Setelah kita tersandung di isyarat
Yang lagi mendung
Menunggu
Akan lelakunya
Dimana pasrah sudah tak lagi
Pasrah wah!
Itulah perjalanan kita
Seperti saja kita bertemu
Antara kaprah
Kaprah
Kita seperti kembali lagi
Mengeja peristiwa
Kita seperti saja masa tua
Padahal
Hidup kita hanya beberapa kepal tangan
Tak tahu
Tak?
Cihideung, Desember 2008
Ku Cari
Saefullah Cavin Al-Abarokms
Sunyi masih dicari, dimana kediaman masih belum,
sesunyi yang dicari.
Dalam gelisah yang tanpa pasrah. Ingin terarah langkah
Kini masih terpatah-patah, mengarungi kekonyolan. Ketika
Sadar menerpa, seperti diselingi noda-noda yang tiada terkira.
Mungkin hijrah kembali bernasib, dijalanan ini.
Meneruskan artefak-artefak yang telah didapat disini.
Yang patut disyukuri untuk beberapa ketidak tahuan
akan anugrah.
Tapi kesanggupan ini pantaskah dipaksakan, ditiang malam
kubiarkan mengupat damprat.
Allah kira memberikan keputusan yang lurus lagi tak terulang
Ditempat, yang sempat kusinggahi nanti.
Kalau saja itu masih
Harus apakah ya Allah pengusa alam, nasib makhluk ini,
Pengusa yang tak terhingga.
Hati ini ingin selalu liburan dalam jiwa yang kerja, Allah tunjukan
Apabila ada kan ku kejar ia, dengan izinMU yang mulya.
Cinangka, 22 Desember 2008
Demokrasi Gelisah
Saefullah Cavin Al-Abarokms
Seperti tak sempat terampungkan
Tugas-tugas yang ada
Karena para gelisah tak menunggu
Sudah menghujam, menelusuk
Dikala tak sampai terselesaikan
Habislah kesempatan untuk bermimpi
Malam kian bingung
Untuk beberapa menit kedetik jadi linglung
Saraf-saraf otak menjadi keram
Denyut berloncata menghantam pilar
Yang sedang dijernihkan.
Di situ berjuta masalah bertumpuk
Lagi-lagi para dedenyut
Berdemontrasi meminta ada penyelesaian
Memaksa saat itu
“kalau lah tidak!
Penjarahan jiwa-jiwa jernih di ruko-ruko
Menelusuri toko-toko
Mungkin selanjutnya moneter
Sang pemimpin mengumpulkan para hakim
Bersama dewan sidang
Tak sempat naik banding
Karena pamplet, sepanduk mengepung
Menangkap gerah para terdakwa
Dewan sidang memutuskan dari para saksi
Yang kena sangsi
Hakim menjatuhkan keputusan
Menilai perekonomian bersama politik
Perlu berjalan sebagaimana mestinya.
Cisitu, Januari 2008
Hari Ini
Saefullah Cavin Al-Abraokms
Hari ini tak sanggup bersama gugup
Kumengungkap kata di muka para pembicara
Hari esok
Walau tak mampu seperti dulu
Ku coba kembali memupuk kata lantas jadi permanen
Dimuka para pembaca.
Seperti sejarah Cina dunia mengakuinya
saat ini masih tetap utuh karena referensinya
dulu sudah penuh
bukan dengan lisan
tapi dengan tulisan
yang terun temurun sebelum para kaisar dinobatkan
memerintah
kalimat-kalimat sastra sempat tergoreskan
sempat terhapalka
hingga dalam pemerintahannya tahu akan batas kekuasannya dengan penuh
sempat ilmunya menjebol gerbang dunia.
Menggetarkan Negara adikuasa, adidaya
Dengan kalimat-kalimat takut ia kutuk tindakan uji cobanya.
Rangkasbitung, 2005
Berjalan
Saefullah Cavin Al-Abarokms
Kini berjalanlah dengan kalimat yang tak
Sempat mampu terungkapkan.
Terungkapkan dengan aneka kepedihan disela-sela gembira
menjadikan relun-relung sakti
yang menghunus hari-hari penuh gelisah
menjadi tasbih hati
dalam memenuhi hidup sandang, pangan, bersama papan
agar nanti dapat berteduh dengan istikomah
untuk memupuk naluri yang dalam janji belum terpenuhi
sebagaimana masih menebak-nebak.
Sampai tiada henti berpikir
Sebelum malaikat maut mampir
Namun dibalik itu sudahkah menghilangkan kupur, kesombongan
Dikala menggap diri paling mampu
Paling tawadhu diantara orang-orang yang tawadhu
Dan sampai manakah memperkirakan hal itu
Teragungkan dengan baik.
Flower, Januari 2008
Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Naoko M