catatan perjalanan

November 7, 2009

Foto Budaya Debus

Filed under: Puisi, Petualangan Kita

 

 

 

 

July 8, 2009

Dari Laut

Filed under: Puisi

<!– @page { margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>


Dari laut

Sepasang sungai kau pertemukan

Di pesisir tak sirna bumbu pertanyaan

Yang siap bergemuruh bersama ombak silih berganti

Di liang bilik para kiai

Dalam memapar dakwah-dakwah tentang para istri

Yang nyantri

Dalam mengumpulkan kalimat-kalimat baktinya

Ia menjawab tanpa basa basi tabir merenggut

Akan bukti yang telah dijelajahi para lelaki

Blingsing blingsatan akan wanita

Yang tanpa dipikir cinta atau tidak

Ketika ijab di mata saksi

 

Pandeglang, 2009

Paruh Baja

Filed under: Puisi

<!– @page { margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>


Untuk Ibu Nenden Lilis

Di atas kepala mengepal

Mata melesat, tersenyum lepas

Dalam mimbar berbagi cerita, untai

demi untai menyibak layar negri ziran

Tanpa harap benih-benih padi siap tunai

di pematang.

Walau si kuda jantan miliknya terkulai

Dipungut bumi, di bungkus kapan

Yang lalu

Kini tinggal bersama lahat-lahat tak bertuan

Seperti saja usai berzarah memungut kata

Yang tak habis

dan sanggup melukisnya dari jaman ke jaman

Dengan paruh baja ia sulut apinya menyengat

cemburu para wanita

Yang tak sempat banyak diberi restu kakanda

Ia pun tersenyum ketika menatap langit sunggasanaNya.

Cisitu, Mei 2009

May 10, 2009

Ratap

Filed under: Puisi

<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:""; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>

Kini telah lunas

Hutan firdaus dimata mayapada

Tidak ditanganku yang selalu terlukis padang diri

Tak bertuan, ranting tak berdaun

Walau dihuni aneka belukar jenaka

Dan rerumputan yang selalu tersenyum kekecutan

Ada seribu Tanya, ketika ku menatap alis

Yang hilang garis lengkungnya.

Seolah tersembunyi di balik akar kemunafikan

Yang menyodorkan emas berganti perak saat ku melaut

Tidak juga aku!

Seperti saja wajah yang sempat kulupakan

Membelai kearifan

Memberiku pergi dalam kekalutan

Dalam keberpilihan

Menatap zarah yang sempat ku basuh telapak kakinya

Di kala malam purba datang kepangkuan

Menjadi prisai

Menjadi hijab

Di mihrab peluh ratap dzikirku

Dalam terpaan ampunanku

 

Cimayang, Mei 2008

May 5, 2009

Pelepah Singkong

Filed under: Puisi, Petualangan Kita

Siapa sangka pelepah dadap dan singkong dapat dijadikan modal keuletan Heri,  menggeluti profesinya yang kini meroket dalam permintaan pelanggan pangkas rambutnya di kampung Bondol, kampung dimana telah memberikan kesempatan melihat dunia pana.  Menurut penuturannya selama bulan ramadhan, Heri sempat mengantongi keuntungan sebesar 4 juta. Mungkin sangat mustahil, apabila Heri tidak mempunyai modal kepercayaan dari pelanggan yang selalu bertambah, dari waktu kewaktu. Pasalnya Heri dalam mengerjakan profesinya mempangkas rambut dikerjakan oleh dirinya sendiri ini, ternyata lokasinya berada di pedesaan yang jauh dari perkotaan. Menurut pengakuan pelanggannya yang tak mengungkapkan namanya “  saya suka dengan tempatnya yang alami, tinimbang dipinggir jalan  panas, udaranya berpolusi, lagi sumpek dengan asap dan debu mobil yang melintas” ungkapnya dengan tawa. Mungkin itulah yang menjadikan modal ramain pangkas rambut Heri.

Akan tetapi, Heri yang perawakannya “jangkung leutik” (jangkung tapi badannya kecil red) ini memiliki sifat ramah pada pengunjung bahkan pada siapapun yang datang ketempatnya. Sifat keramahan ini, kadang melekat pada setiap orang yang datang ketempat pangkas rambutnya. Menurut penuturan Heri “kalau lagi kumat yang datang tidak sekedar ingin pangkas rambut, tapi niatan untuk refresing, mengobati kepenatan otak, mengobati rasa boring. Kalau udah kaya gini paling saya suruh  masak pisang goreng, itupun kalau ada. Ya kalau ga ada paling liliweutan” dengan nada ngakak. Kedati demikian keroyalan Heri pada para pemuda ada saja yang ngomongin and ngomentarin, tapi menurutnya walau saya royal pada mereka ikhlas saya lakukan. Tandasnya

Dengan keikhlasannya Heri menjadi lebih yakin dengan usahanya yang sedang dirintis saat ini. Heri mempunyai cita-cita mendirikan kios salon di kampung sendiri, dimana ia dilahirkan dan dimana ia dibesarkan oleh kedua orang tuanya. Dia ingin memberikan citra pada kampung halaman yang ia tinggali saat ini. Dia ingin menciptakan lapangan kerja di kampung halamannya, dia pun tak ada rasa untuk pergi meninggalkan kampung halamannya. Justru menurutnya yang paling nikmat adalah berada di kampung sendiri bersama keluarganya, berbagi kesedihan dan kesenangan disaat ada serta disaat diperlukan. Ia pun menuturkan untuk saat ini 70 persen sudah tercapi cita-citanya, tinggal mencari tanah yang tak jauh dari kampung, tepatnya yang ada di depan jalan.

Demit

Filed under: Puisi, Cerpen

Sore itu Aku dan Heri baru tiba di kampung halamanku. Aku disambut Ema, Bapak, beberapa adikku. Mereka seperti senang dengan kedatanganku, wujud senang terlihat senyum Ema dan Bapakku yang membuat aku tersenyum lucu akan gigi Ema dan Bapak hi yang makin hitam, mungkin keseringan memakan sirih. Ema memelukku dengan meneteskan air mata “gima keadaanmu Ujang di Serang” Aku terhenti sejenak mengikuti napasku yang tersengal.
“Allhamdulillah baik-baik saja Mak!”
“terus denga Emak gimana?”
Emak menjawab setelah senyum dan tetes air mata Ema terseka, “Alhamdulillah baik juga, tapi masuk dulu atuh”
“gak enak sama tetangga, ayo ujang bawa babaturana ke dalam”
“ya ma!, Her ayo masuk “ ungkapku pada Heri
Heri masuk, langsung ku persilakan duduk di ruang tamu. Heri menatap sekeliling ruang tamu rumahku, Aku diam sejenak membiarkan Heri menikmati suasan ruang tamu rumah ku dan terhenti pada sekumpulan anak kecil. Lantas Aku menjelaskan sebelum Heri bertanya,
“itu teman-teman Aku di Bungin kali Ciberang ketika main bola yang tinggal kenangan”
“kenapa tinggal kenangan” tukas Heri
Aku meneteskan air mata, teringat akan kisah teman-teman di foto tersebut. Tak lama Aku menjawab pertanyaan Heri yang tertunda. Sepertinya Heri sudah menduga ada tragedi dalam foto tersebut.
“Dulu kami hidup bersama dengan mereka, bercengkrama, bermain bola, memanjat pohon kecapi. Tapi tragedi kilat menimpa mereka, ketika mereka ngurek Belut di sawah Lega. Aku pun tak habis pikir, dengan nasib mereka yang begitu cepat dijemput maut lantaran sambaran kilat yang begitu dahsyat. Padahal teman-teman Aku sudah berlindung di saung pak Sawira, tapi kilat itu tetap menyambarnya. Hanya satu orang yang selamat si Sapri, entah orangnya ada dimana sekarang.”
Aku menyeka air mata, mengakhiri cerita. Heri mengangguk seperti telah paham dengan pristiwa yang Aku ceritakan.
Tak lama Ema membawakan dua gelas air dengan ditemani singkong rebus, umbi rebus, dan gula aren. Aku tersenyum pada Ema.
“Ema tahu aja makanan kesukaan saya”
Sambil mempersilakan pada Heri untuk memcicipi rebus singkong dan rebus Umbi. Aku ngasing cara makannya.
“Her cara makannya gini, dicocol sama gula, am deh”
Sambil ketawa kecil. Heri pun mengikuti cara makan Aku, lalu ia tersenyum,” bener enak euy” ungkapnya sambil ketawa. Ema tersenyum sambil ketawa juga, sambil duduk di sampingku.
Tak lama Aku teringat sama si Sapri, lalu Aku bertanya.
“Ma gimana keadaan si Sapri?”
Ema terdiam sejenak, terus ia menjawab pertanyaanku dengan membagi napasnya.
“Si Sapri baik-baik saja, tapi keberadaannya seperti aneh, kadang ada di kampung kadang gak ada”
“Kata Emanya sih si Sapri, kerja di Jakarta sama sodaranya, tapi semenjak si Sapri kerja di Jakarta banyak kambing yang mati tinggal kepalanya, bahkan Kerbau mang Emeh juga mati tinggal kepalanya juga. Kata para tetangga, si Sapri nyupang, karena pengakuan Emanya. Si Sapri sangat tidak masuk diakal, masa kerja di Jakarta hari senin, selasa, rabu, dan kamis ada dirumah. Jumatnya baru berangkat ke Jakarta. Pulang hari minggu.”
Aku tersentak, lalu dengan refleksnya Aku membela si Sapri.
“Ah di jaman modern sepeti ini masih percaya sama gituan, biasa saja si Sapri kaya karena hasil jerih payahnya. Aku yakin ma, ada yang memanfaatkan situasi ini, Aku udah tahu siapa si Sapri. Dia selama berteman dengan ku belum pernah ketinggalan sembahyang”
Ema memotong pembicaraanku
“Itu sifat Sapri dulu, sewaktu Sapri masih kecil, sekarang mah agak berbeda. Kalau dia ada di kampung, masyarakat belum pernah melihat si Sapri ke Mesjid. Kalau tidak percaya nanti kalau si Sapri lagi ada di kampung. Semua masyarakat disini sudah banyak membicarakan si Sapri, bahkan mang Jarman pernah meminta bantuan dukun untuk meneropong sebab nusabab kematian kambingnya. Kata dukunya kambingnya mang Jarman dimakan demitnya si Sapri”
Aku memotong pembicaraan Ema
“Aduh dijaman saiki masih saja percaya pada yang namanya dukun, Aku tidak percaya”
“Ya uda kalo gak percaya” Ema melengos, kaya sewot
“Her Aku yakin ini bukan kerjaannya si Sapri, ini kerjaan orang-orang yang memanfaatkan situasi Si Sapri”
Heri merenung sejenak, lalu berbicara.
“Ya! Aku juga yakin seyakin-yakinnya, walaupun Aku belum melihat temamu si Sapri itu”
Tiba-tiba suara beduk dipukul disana-sini, dengan diselingi sayup-sayup suara azdan. Ema memberika sarung. Aku mengajak Heri ke Masjid menunaikan salat Magrib, diperjalanan terusaja membicarakan masalah Si Sapri, tak lama Aku sampai di Masjid. Aku bersalaman dengan beberapa orang dengan sapa menyapa. Aku ambil wudu di kobak, belakang Masjid. Tak lama sura Iqimah berkumandang. Aku memulai salat, tapi dalam salatku masih terpikirkan tentang isu Si Sapri itu. Bahkan lebih bergejolak, ingin membuktikan bahwa Si Sapri bukan dalang, dari kejadian yang sedang berkembang di kampungku.
Kepenasaranku begitu menukuik, sampai tiba di rumah. Makan malam pun seperti tak berselera, walau pun Aku memperlihatkan pada Heri begitu berselera dengan makan malam ini karena tak enak pada Heri yang sedang bersemangat makan. Padahal hatiku terpengruh dengan persoalan yang sedang bergejolak. Hingga sampai selesai makan pun, masih tetap gelisah dan Aku ingin sekali ke rumah Si Sapri. Tapi Aku teringat dengan tubuhku yang bau belum mandi, Aku mengajak Heri mandi sambil berjalan ke dapur mengabil handuk dan sabun. Lalu Aku melangkah ke pentu dapur, tak lama Ema, bertanya
“Jangan madi ke keli, banyak bejanya! Demit si Sapri sedang beraksi, kamu jadi korbannya. “
“Ah! Aku gak percaya sama yang gituan, Aku lebih percaya sama Allah”
“Kamu maksa amat, gak ngedengerin nasihat orang tua. Nanti kamu kualat”
Aku tak mendengar nasihat Mak, Aku langsung saja menuju kali. Ma ku menjerit memerintahkan pada dua adiku untuk menemaniku, bahkan Bapak juga mengikutiku. Sedang Aku sudah sampai di kali, tak lama Bapak dan kedua Adiku datang.
“Kamu lain di rumah saja mandina” Kata Bapak dan kedua Adik-Adikku
“naon percaya ka demit, ka Allah pa!” dengan kesal Aku menjawab.
Tak lama gema Isya terdengar, Aku dengan manja menceburkan tubuhku kembali ke air yang segar, sebelum kutemui untuk satu tahun ini. Tak lama Heri seperti menangkap sesuatu, Heri mendekatiku.
“Sepertinya ada sinar yang berkilau ditanah lapang itu” ungkapnya sambil membisik
“kayanya ia Heri “
Aku diam sejenak menatap dua kalau sinar itu, Aku ajak Heri tuk mendekati dua sinar yang berkilau, Aku sudahi mandiku. Lalu Aku memakai celana sampai baju, ku dekati sinar itu, tak lama bapak berteriak kecil “Jang jang mendekat kesitu” tak ku gubris suara Bapakku. Aku bersama Heri terus mendekati kearah dua kemilau sinar itu. Setelah mendekat ku pegang sinar itu, menurut perasanku ini kepala Domba.
Aku penasaran hendak melihat jelas dengan lampu yang tak kunyalakan. Aku tersentak ada yang lari, tak jauh dari tempat itu. Mendengar sura yang lari, Aku lebih bersemagat untuk mengejar pasti ini pelakunya, ketika badanku sudah mendekat ku tentang ia. Heri membantunya dengan pukulan, ia terus saja berusahan berlari walau sudah jatuh. Sepertinya ia sempoyongan, Aku tak memberi kesempatan, kembali menendang dengan beberapa pukulan. Akhirnya jatuh tersungkur, Aku tak membuang kesempatan, ku tikam dia. Sepertinya dia sudah tidak biasa apa. Lalu ku buka tergos yang menutupi kepala dan mukanya. Aku tersentak ternyata “mang Jarman”.
“jadi selama ini yang menyebarkan isu yang kurang baik pada taman Aku mang Jarman”
Aku menghela napas, ingin rasa memukul kembali, tapi tak tega ketika yang kulihat mangku sendiri.
“sebentar Jang, Sapri juga ikut terlibat dalam sekenaryo ini”
“yang benar Mang!”
“jangan bikin pitnah aja” sambil kekerot gigi ku
Tiba-tiba datang warga dan Bapak ku menghampiriku, Aku langsung berbicara.
“ini yang jadi Demit” sambil memandang najis
“jangan salah Jang Bapak ujang juga ikut terlibat, ulang mungkir!”
Bapakku menunduk, sesudah Aku Tanya dan mengakuinya. Aku merasa malu pada masyarakat kampung halamanku, sambil memukul dada Bapakku dengan kesal.

Puisi Desember 2009

Filed under: Puisi

Usai

 

Usai sudah panorama yang kemarin tersimak

Karena kini telah melebur kegelisahan

Yang dulu tersimpan resah

Dalam-dalam hanya menyimpan riwayat

Dilubuh hati yang masih berpapas senyum

Dan ku jadikan catatan

Dikala lembar-lembar album mengingatkan

 

Cihideung, 17 Desember 2009

 

Dalam

 

Dalam satu detik kita akan hancur

Apa melaju mujur?

Dalam satu langkah kita akan terpaku

Apa melenggang kaki?

Dalam satu napas kita akan terhenti

satu rindu seolah jauh

satu rindu seolah dekat

satu rindu tertinggal

dalam ketenggelaman

kelupaan kita diingatkan akan peristiwa

cinta

siksa

maksa

tidak terasa

seolah kita!

Cihideung, Desember 2008

 

 

Tidak

 

Tidak ada rasa ini terpenjara

Yang ada orang bego yang memenjarakan aku

mengangap bego

padahal?

Tak jauh sama begonya

Tak akan enyah

Apabila hati ini belum karena titahMu

Suatu saat

Tak perlu kau

Tak mengharap kabarpun

Aku sudah berkemas

Karena telah menungguku

Hanya lillah hita’ala

 

Cihideung, Desember 2008

 

Hai

Murtadha Muthari

 

Hai, pagi ….

Pagi ini kau ingatkan kami tentang kebersihan

Kami tahu. Tapi kami jarang melakukan

Kadang kala ada saja

Kelakuan kami yang menjengkelkan

Tapi, buat ….

Entah itu sadar apa pasrah

Jelas kau tetap tersenyum

Aku rindu senyum itu

Aku rindu akan keramahanmu

Aku rindu semua ….

Waktu tak seberapa lama lagi disini

Dan ku mohon kau mau memaafkan

Kehilafanku

Disengaja atau pun tidak

Yang kau tahu

Mau pun tidak kau tahu

Sorry aku rindu itu semua

 

Cihideung, Desember 200

 

Menyisakan Gelisah
 

Kedamaian yang masih menyisakan gelisah

Dalam segores resah

Tertuju pada kerut muka

Yang gembira, tapi mencari solusi api-api

Saat itu

Derit meja mesih dimainkan tangan

Dalam memainkan nyaman

Tapi sang pemerhati

Melukis masa depan yang begitu panjang

Begitu rumit

Tapi mesih menanti harapan

Dalam kanvas barunya segumpal kepal

Baru tersandar

Menyadari riwayat di hutan ini

Selesai sudah

Dikala secarik kertas berharap lain

Sudah tak bermakna lagi

Seutas senyum masih!

 

Cihideung, Desember 2008

 

Ngeh

 

Senandung rindu berjalan begitu saja

Setelah kita tersandung di isyarat

Yang lagi mendung

Menunggu

Akan lelakunya

Dimana pasrah sudah tak lagi

Pasrah wah!

Itulah perjalanan kita

Seperti saja kita bertemu

Antara kaprah

Kaprah

Kita seperti kembali lagi

Mengeja peristiwa

Kita seperti saja masa tua

Padahal

Hidup kita hanya beberapa kepal tangan

Tak tahu

Tak?

 

Cihideung, Desember 2008

 


Ku Cari

Saefullah Cavin Al-Abarokms

 

Sunyi masih dicari, dimana kediaman masih belum,

sesunyi yang dicari.

Dalam gelisah yang tanpa pasrah. Ingin terarah langkah

Kini masih terpatah-patah, mengarungi kekonyolan. Ketika

Sadar menerpa, seperti diselingi noda-noda yang tiada terkira.

Mungkin hijrah kembali bernasib, dijalanan ini.

Meneruskan artefak-artefak yang telah didapat disini.

Yang patut disyukuri untuk beberapa ketidak tahuan

akan anugrah.

Tapi kesanggupan ini pantaskah dipaksakan, ditiang malam

kubiarkan mengupat damprat.

Allah kira memberikan keputusan yang lurus lagi tak terulang

Ditempat, yang sempat kusinggahi nanti.

Kalau saja itu masih

Harus apakah ya Allah pengusa alam,  nasib makhluk ini,

Pengusa yang tak terhingga.

Hati ini ingin selalu liburan dalam jiwa yang kerja, Allah tunjukan

Apabila ada kan ku kejar ia, dengan izinMU yang mulya.  

 

Cinangka, 22 Desember 2008

February 9, 2008

Demokrasi Gelisah

Filed under: Puisi

Demokrasi Gelisah

Saefullah Cavin Al-Abarokms

 

Seperti tak sempat terampungkan

Tugas-tugas yang ada

Karena para gelisah tak menunggu

Sudah menghujam, menelusuk

Dikala tak sampai terselesaikan

Habislah kesempatan untuk bermimpi

Malam kian bingung

Untuk beberapa menit kedetik jadi linglung

Saraf-saraf otak menjadi keram

Denyut berloncata menghantam pilar

Yang sedang dijernihkan.

Di situ berjuta masalah bertumpuk

Lagi-lagi para dedenyut

Berdemontrasi meminta ada penyelesaian

Memaksa saat itu

“kalau lah tidak!

Penjarahan jiwa-jiwa jernih di ruko-ruko

Menelusuri toko-toko

Mungkin selanjutnya moneter

Sang pemimpin mengumpulkan para hakim

Bersama dewan sidang

Tak sempat naik banding

Karena pamplet, sepanduk mengepung

Menangkap gerah para terdakwa

Dewan sidang memutuskan dari para saksi

Yang kena sangsi

Hakim menjatuhkan keputusan

Menilai perekonomian bersama politik

Perlu berjalan sebagaimana mestinya.

 

                                                Cisitu, Januari 2008

 

Hari Ini

Filed under: Puisi

Hari Ini

Saefullah Cavin Al-Abraokms

 

Hari ini tak sanggup bersama gugup

Kumengungkap kata di muka para pembicara

Hari esok

Walau tak mampu seperti dulu

Ku coba kembali memupuk kata lantas jadi permanen

Dimuka para pembaca.

Seperti sejarah Cina dunia mengakuinya

 saat ini masih tetap utuh karena referensinya

dulu sudah penuh

bukan dengan lisan

tapi dengan tulisan

yang terun temurun sebelum para kaisar dinobatkan

memerintah  

kalimat-kalimat sastra sempat tergoreskan

sempat terhapalka

hingga dalam pemerintahannya tahu akan batas kekuasannya dengan penuh

sempat ilmunya menjebol gerbang dunia.

Menggetarkan Negara adikuasa, adidaya

Dengan kalimat-kalimat takut ia kutuk tindakan uji cobanya.

 

                                                                Rangkasbitung, 2005

Berjalan

Filed under: Puisi

Berjalan

Saefullah Cavin Al-Abarokms

 

Kini berjalanlah dengan kalimat yang tak

Sempat mampu terungkapkan.

Terungkapkan dengan aneka kepedihan disela-sela gembira

menjadikan relun-relung sakti

yang menghunus hari-hari penuh gelisah

menjadi tasbih hati

dalam memenuhi hidup sandang, pangan, bersama papan

agar nanti dapat berteduh dengan istikomah

untuk memupuk naluri yang dalam janji belum terpenuhi

sebagaimana masih menebak-nebak.

Sampai tiada henti berpikir

Sebelum malaikat maut mampir

Namun dibalik itu sudahkah menghilangkan kupur, kesombongan

Dikala menggap diri paling mampu

Paling tawadhu diantara orang-orang yang tawadhu

Dan sampai manakah memperkirakan hal itu

Teragungkan dengan baik.

 

                                Flower,  Januari  2008






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Naoko M