Paruh Baja
<!– @page { margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>
Untuk Ibu Nenden Lilis
Di atas kepala mengepal
Mata melesat, tersenyum lepas
Dalam mimbar berbagi cerita, untai
demi untai menyibak layar negri ziran
Tanpa harap benih-benih padi siap tunai
di pematang.
Walau si kuda jantan miliknya terkulai
Dipungut bumi, di bungkus kapan
Yang lalu
Kini tinggal bersama lahat-lahat tak bertuan
Seperti saja usai berzarah memungut kata
Yang tak habis
dan sanggup melukisnya dari jaman ke jaman
Dengan paruh baja ia sulut apinya menyengat
cemburu para wanita
Yang tak sempat banyak diberi restu kakanda
Ia pun tersenyum ketika menatap langit sunggasanaNya.
Cisitu, Mei 2009
