Ratap
<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:""; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
Kini telah lunas
Hutan firdaus dimata mayapada
Tidak ditanganku yang selalu terlukis padang diri
Tak bertuan, ranting tak berdaun
Walau dihuni aneka belukar jenaka
Dan rerumputan yang selalu tersenyum kekecutan
Ada seribu Tanya, ketika ku menatap alis
Yang hilang garis lengkungnya.
Seolah tersembunyi di balik akar kemunafikan
Yang menyodorkan emas berganti perak saat ku melaut
Tidak juga aku!
Seperti saja wajah yang sempat kulupakan
Membelai kearifan
Memberiku pergi dalam kekalutan
Dalam keberpilihan
Menatap zarah yang sempat ku basuh telapak kakinya
Di kala malam purba datang kepangkuan
Menjadi prisai
Menjadi hijab
Di mihrab peluh ratap dzikirku
Dalam terpaan ampunanku
Cimayang, Mei 2008
