Puisi Desember 2009
Usai
Usai sudah panorama yang kemarin tersimak
Karena kini telah melebur kegelisahan
Yang dulu tersimpan resah
Dalam-dalam hanya menyimpan riwayat
Dilubuh hati yang masih berpapas senyum
Dan ku jadikan catatan
Dikala lembar-lembar album mengingatkan
Cihideung, 17 Desember 2009
Dalam
Dalam satu detik kita akan hancur
Apa melaju mujur?
Dalam satu langkah kita akan terpaku
Apa melenggang kaki?
Dalam satu napas kita akan terhenti
satu rindu seolah jauh
satu rindu seolah dekat
satu rindu tertinggal
dalam ketenggelaman
kelupaan kita diingatkan akan peristiwa
cinta
siksa
maksa
tidak terasa
seolah kita!
Cihideung, Desember 2008
Tidak
Tidak ada rasa ini terpenjara
Yang ada orang bego yang memenjarakan aku
mengangap bego
padahal?
Tak jauh sama begonya
Tak akan enyah
Apabila hati ini belum karena titahMu
Suatu saat
Tak perlu kau
Tak mengharap kabarpun
Aku sudah berkemas
Karena telah menungguku
Hanya lillah hita’ala
Cihideung, Desember 2008
Hai
Murtadha Muthari
Hai, pagi ….
Pagi ini kau ingatkan kami tentang kebersihan
Kami tahu. Tapi kami jarang melakukan
Kadang kala ada saja
Kelakuan kami yang menjengkelkan
Tapi, buat ….
Entah itu sadar apa pasrah
Jelas kau tetap tersenyum
Aku rindu senyum itu
Aku rindu akan keramahanmu
Aku rindu semua ….
Waktu tak seberapa lama lagi disini
Dan ku mohon kau mau memaafkan
Kehilafanku
Disengaja atau pun tidak
Yang kau tahu
Mau pun tidak kau tahu
Sorry aku rindu itu semua
Cihideung, Desember 200
Menyisakan Gelisah
Kedamaian yang masih menyisakan gelisah
Dalam segores resah
Tertuju pada kerut muka
Yang gembira, tapi mencari solusi api-api
Saat itu
Derit meja mesih dimainkan tangan
Dalam memainkan nyaman
Tapi sang pemerhati
Melukis masa depan yang begitu panjang
Begitu rumit
Tapi mesih menanti harapan
Dalam kanvas barunya segumpal kepal
Baru tersandar
Menyadari riwayat di hutan ini
Selesai sudah
Dikala secarik kertas berharap lain
Sudah tak bermakna lagi
Seutas senyum masih!
Cihideung, Desember 2008
Ngeh
Senandung rindu berjalan begitu saja
Setelah kita tersandung di isyarat
Yang lagi mendung
Menunggu
Akan lelakunya
Dimana pasrah sudah tak lagi
Pasrah wah!
Itulah perjalanan kita
Seperti saja kita bertemu
Antara kaprah
Kaprah
Kita seperti kembali lagi
Mengeja peristiwa
Kita seperti saja masa tua
Padahal
Hidup kita hanya beberapa kepal tangan
Tak tahu
Tak?
Cihideung, Desember 2008
Ku Cari
Saefullah Cavin Al-Abarokms
Sunyi masih dicari, dimana kediaman masih belum,
sesunyi yang dicari.
Dalam gelisah yang tanpa pasrah. Ingin terarah langkah
Kini masih terpatah-patah, mengarungi kekonyolan. Ketika
Sadar menerpa, seperti diselingi noda-noda yang tiada terkira.
Mungkin hijrah kembali bernasib, dijalanan ini.
Meneruskan artefak-artefak yang telah didapat disini.
Yang patut disyukuri untuk beberapa ketidak tahuan
akan anugrah.
Tapi kesanggupan ini pantaskah dipaksakan, ditiang malam
kubiarkan mengupat damprat.
Allah kira memberikan keputusan yang lurus lagi tak terulang
Ditempat, yang sempat kusinggahi nanti.
Kalau saja itu masih
Harus apakah ya Allah pengusa alam, nasib makhluk ini,
Pengusa yang tak terhingga.
Hati ini ingin selalu liburan dalam jiwa yang kerja, Allah tunjukan
Apabila ada kan ku kejar ia, dengan izinMU yang mulya.
Cinangka, 22 Desember 2008
