catatan perjalanan

May 5, 2009

Puisi Desember 2009

Filed under: Puisi

Usai

 

Usai sudah panorama yang kemarin tersimak

Karena kini telah melebur kegelisahan

Yang dulu tersimpan resah

Dalam-dalam hanya menyimpan riwayat

Dilubuh hati yang masih berpapas senyum

Dan ku jadikan catatan

Dikala lembar-lembar album mengingatkan

 

Cihideung, 17 Desember 2009

 

Dalam

 

Dalam satu detik kita akan hancur

Apa melaju mujur?

Dalam satu langkah kita akan terpaku

Apa melenggang kaki?

Dalam satu napas kita akan terhenti

satu rindu seolah jauh

satu rindu seolah dekat

satu rindu tertinggal

dalam ketenggelaman

kelupaan kita diingatkan akan peristiwa

cinta

siksa

maksa

tidak terasa

seolah kita!

Cihideung, Desember 2008

 

 

Tidak

 

Tidak ada rasa ini terpenjara

Yang ada orang bego yang memenjarakan aku

mengangap bego

padahal?

Tak jauh sama begonya

Tak akan enyah

Apabila hati ini belum karena titahMu

Suatu saat

Tak perlu kau

Tak mengharap kabarpun

Aku sudah berkemas

Karena telah menungguku

Hanya lillah hita’ala

 

Cihideung, Desember 2008

 

Hai

Murtadha Muthari

 

Hai, pagi ….

Pagi ini kau ingatkan kami tentang kebersihan

Kami tahu. Tapi kami jarang melakukan

Kadang kala ada saja

Kelakuan kami yang menjengkelkan

Tapi, buat ….

Entah itu sadar apa pasrah

Jelas kau tetap tersenyum

Aku rindu senyum itu

Aku rindu akan keramahanmu

Aku rindu semua ….

Waktu tak seberapa lama lagi disini

Dan ku mohon kau mau memaafkan

Kehilafanku

Disengaja atau pun tidak

Yang kau tahu

Mau pun tidak kau tahu

Sorry aku rindu itu semua

 

Cihideung, Desember 200

 

Menyisakan Gelisah
 

Kedamaian yang masih menyisakan gelisah

Dalam segores resah

Tertuju pada kerut muka

Yang gembira, tapi mencari solusi api-api

Saat itu

Derit meja mesih dimainkan tangan

Dalam memainkan nyaman

Tapi sang pemerhati

Melukis masa depan yang begitu panjang

Begitu rumit

Tapi mesih menanti harapan

Dalam kanvas barunya segumpal kepal

Baru tersandar

Menyadari riwayat di hutan ini

Selesai sudah

Dikala secarik kertas berharap lain

Sudah tak bermakna lagi

Seutas senyum masih!

 

Cihideung, Desember 2008

 

Ngeh

 

Senandung rindu berjalan begitu saja

Setelah kita tersandung di isyarat

Yang lagi mendung

Menunggu

Akan lelakunya

Dimana pasrah sudah tak lagi

Pasrah wah!

Itulah perjalanan kita

Seperti saja kita bertemu

Antara kaprah

Kaprah

Kita seperti kembali lagi

Mengeja peristiwa

Kita seperti saja masa tua

Padahal

Hidup kita hanya beberapa kepal tangan

Tak tahu

Tak?

 

Cihideung, Desember 2008

 


Ku Cari

Saefullah Cavin Al-Abarokms

 

Sunyi masih dicari, dimana kediaman masih belum,

sesunyi yang dicari.

Dalam gelisah yang tanpa pasrah. Ingin terarah langkah

Kini masih terpatah-patah, mengarungi kekonyolan. Ketika

Sadar menerpa, seperti diselingi noda-noda yang tiada terkira.

Mungkin hijrah kembali bernasib, dijalanan ini.

Meneruskan artefak-artefak yang telah didapat disini.

Yang patut disyukuri untuk beberapa ketidak tahuan

akan anugrah.

Tapi kesanggupan ini pantaskah dipaksakan, ditiang malam

kubiarkan mengupat damprat.

Allah kira memberikan keputusan yang lurus lagi tak terulang

Ditempat, yang sempat kusinggahi nanti.

Kalau saja itu masih

Harus apakah ya Allah pengusa alam,  nasib makhluk ini,

Pengusa yang tak terhingga.

Hati ini ingin selalu liburan dalam jiwa yang kerja, Allah tunjukan

Apabila ada kan ku kejar ia, dengan izinMU yang mulya.  

 

Cinangka, 22 Desember 2008

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://alabarokms.blogsome.com/2009/05/05/puisi-desember-2009/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Naoko M