Proses Wawancara Untuk Siswa Kita
Dalam proses pembelajaran wawancara dalam mencari berita, tentunya tidak langsung pada tataran kita mencari berita, tapi bagaimana kita perkenalkan siswa kita pada pelaku wawancara mungkin lebih dikenalnya wartawan. Dialah yang bertanggung jawab dalam meliput berita, namun pada kenyataannya ada saja wartawan yang tidak menjalankan fungsinya sebagai wartawan. Bagaimana dijelaskan oleh Kijing selaku redaktur Radar Junior, bahwa wartawan merupakan kontrol sosial. Wartawan harus sanggup mencari berita, mendapatkan berita, mengolahnya, dan menginformasikan pada halayak. Sehingga wartawan dapat dikatakan sebagai sumber informasi dari berbagai peristiwa yang tersaji di media massa, maupun media elektronik.
Apabila fungsi wartawan terjalankan dengan baik, satu tugas yang sangat mulya telah ia kerjakan untuk kepentingan publik. Bagaimana tidak dikatakan mulya? ketika khalayak memerlukan informasi tentang pembunuhan misalnya, pembunuhan tersebut terjadi di Lampung dan orang yang dibunuh adalah orang Jakarta. Karena wartawan saat itu meliputnya dan keluarga korban membaca berita yang ditulis si wartawan tersebut, antara senang dan sedih saudaranya yang telah lama menghilang ternyata dibunuh orang. Mungkin kalau keluarga korban saat itu, tak membaca mencari kesana kemari berapa langkah telah terkorbankan, tapi dengan membaca berita tersebut keluarga korban menemukan saudaranya yang dicari walau tinggal raga yang tak bernyawa. Dalam istilah bahasa sunda kapendak bugangna bae geus sukur daripada teu kependak sama sekali (ketemu bangkainya saja sudah syukur tinimbang tidak diketemukan).
Namun, tidaklah mudah bagi seorang wartawan dalam menjalankan tugasanya, butuh keberanian, baik fisik dan mental. Karena tidak sedikit wartawan yang bertugas memerlukan waktu 24 jam dalam kerjanya. Terbukti peristiwa yang menjadi jona liputan, tidak siang bahkan malam bisa mengusik tidur untuk sesaat, sehingga tersita waktu istirahatnya. Selain itu wartwan dibutuhkan keberanian yang mantap, ditempat liputan banyak sumber yang menjadi ancaman bagi dirinya, baik disaat meliput maupun sesudah meliput berita, apabila mendapatkan berita tetang kasus KKN. Apabila berita tersebut tayang, wartawan kadang kena intimidasi, dari pihak yang merasa nama baiknya telah dicemarkan dihadapan publik. Bagi wartawan yang tak kuat mentalnya mungkin sudah kena setruk atau tekanan jiwa, tapi bagi wartawan yang sudah berpengalaman. Mungkin hal seperti ini, dijadikan hal yang biasa dalam menjalankan tugasanya.
Wartawan Bodrek
Akan tetapi, ada peristiwa yang berbalik dari kenyataan wartwan karena menyelewengkan tugas kewartawanannya. Tidak sedikit oknum wartawan yang mengintimidasi narasumber, ketika mewawancara narasumber karena kasus narasumber dianggap cukup serius contoh kasus korupsi. Ujung-ujungnya oknum wartawan minta duit walau tak memintanya, agar kasusnya tidak naik tayang. Nah ini onum wartawan dinamakan wartawan bodrek yang membahayakan khalayak yang berkepenting dan merugikan khalayak memerluka informasi penyalahgunaan uang rakyat. Tugas warawan seperti ini hanya pada tataran mencari berita dan mendapatkan berita saja. Menurut Kijing.
Tingkah laku wartawan bodrek mencemarkan nama baik wartawan dimata masyarakat mengurangi kefungsian wartawan sebagai kontrol sosial. Selain itu, ada nilai kurang percaya serta mempersulit kerja wartawan di masyarakat karena wartawan oknum wartawan tersebut.
Akan tetapi, satu kenikmatan dalam koran Radar Banten terdapat tulisan “wartawan tidak menerima bingkisan apapun ketika menjalankan tugasnya” semoga ini tidak sekedar motto untuk menarik perhatian publik, tapi sebuah langkah tugas wartawan akan kontrol sosial dalam menjalankan tugasnya. Sehingga terbangun kembali pada masyarakat Banten dan sekitarnya.
