Demit
Sore itu Aku dan Heri baru tiba di kampung halamanku. Aku disambut Ema, Bapak, beberapa adikku. Mereka seperti senang dengan kedatanganku, wujud senang terlihat senyum Ema dan Bapakku yang membuat aku tersenyum lucu akan gigi Ema dan Bapak hi yang makin hitam, mungkin keseringan memakan sirih. Ema memelukku dengan meneteskan air mata “gima keadaanmu Ujang di Serang” Aku terhenti sejenak mengikuti napasku yang tersengal.
“Allhamdulillah baik-baik saja Mak!”
“terus denga Emak gimana?”
Emak menjawab setelah senyum dan tetes air mata Ema terseka, “Alhamdulillah baik juga, tapi masuk dulu atuh”
“gak enak sama tetangga, ayo ujang bawa babaturana ke dalam”
“ya ma!, Her ayo masuk “ ungkapku pada Heri
Heri masuk, langsung ku persilakan duduk di ruang tamu. Heri menatap sekeliling ruang tamu rumahku, Aku diam sejenak membiarkan Heri menikmati suasan ruang tamu rumah ku dan terhenti pada sekumpulan anak kecil. Lantas Aku menjelaskan sebelum Heri bertanya,
“itu teman-teman Aku di Bungin kali Ciberang ketika main bola yang tinggal kenangan”
“kenapa tinggal kenangan” tukas Heri
Aku meneteskan air mata, teringat akan kisah teman-teman di foto tersebut. Tak lama Aku menjawab pertanyaan Heri yang tertunda. Sepertinya Heri sudah menduga ada tragedi dalam foto tersebut.
“Dulu kami hidup bersama dengan mereka, bercengkrama, bermain bola, memanjat pohon kecapi. Tapi tragedi kilat menimpa mereka, ketika mereka ngurek Belut di sawah Lega. Aku pun tak habis pikir, dengan nasib mereka yang begitu cepat dijemput maut lantaran sambaran kilat yang begitu dahsyat. Padahal teman-teman Aku sudah berlindung di saung pak Sawira, tapi kilat itu tetap menyambarnya. Hanya satu orang yang selamat si Sapri, entah orangnya ada dimana sekarang.”
Aku menyeka air mata, mengakhiri cerita. Heri mengangguk seperti telah paham dengan pristiwa yang Aku ceritakan.
Tak lama Ema membawakan dua gelas air dengan ditemani singkong rebus, umbi rebus, dan gula aren. Aku tersenyum pada Ema.
“Ema tahu aja makanan kesukaan saya”
Sambil mempersilakan pada Heri untuk memcicipi rebus singkong dan rebus Umbi. Aku ngasing cara makannya.
“Her cara makannya gini, dicocol sama gula, am deh”
Sambil ketawa kecil. Heri pun mengikuti cara makan Aku, lalu ia tersenyum,” bener enak euy” ungkapnya sambil ketawa. Ema tersenyum sambil ketawa juga, sambil duduk di sampingku.
Tak lama Aku teringat sama si Sapri, lalu Aku bertanya.
“Ma gimana keadaan si Sapri?”
Ema terdiam sejenak, terus ia menjawab pertanyaanku dengan membagi napasnya.
“Si Sapri baik-baik saja, tapi keberadaannya seperti aneh, kadang ada di kampung kadang gak ada”
“Kata Emanya sih si Sapri, kerja di Jakarta sama sodaranya, tapi semenjak si Sapri kerja di Jakarta banyak kambing yang mati tinggal kepalanya, bahkan Kerbau mang Emeh juga mati tinggal kepalanya juga. Kata para tetangga, si Sapri nyupang, karena pengakuan Emanya. Si Sapri sangat tidak masuk diakal, masa kerja di Jakarta hari senin, selasa, rabu, dan kamis ada dirumah. Jumatnya baru berangkat ke Jakarta. Pulang hari minggu.”
Aku tersentak, lalu dengan refleksnya Aku membela si Sapri.
“Ah di jaman modern sepeti ini masih percaya sama gituan, biasa saja si Sapri kaya karena hasil jerih payahnya. Aku yakin ma, ada yang memanfaatkan situasi ini, Aku udah tahu siapa si Sapri. Dia selama berteman dengan ku belum pernah ketinggalan sembahyang”
Ema memotong pembicaraanku
“Itu sifat Sapri dulu, sewaktu Sapri masih kecil, sekarang mah agak berbeda. Kalau dia ada di kampung, masyarakat belum pernah melihat si Sapri ke Mesjid. Kalau tidak percaya nanti kalau si Sapri lagi ada di kampung. Semua masyarakat disini sudah banyak membicarakan si Sapri, bahkan mang Jarman pernah meminta bantuan dukun untuk meneropong sebab nusabab kematian kambingnya. Kata dukunya kambingnya mang Jarman dimakan demitnya si Sapri”
Aku memotong pembicaraan Ema
“Aduh dijaman saiki masih saja percaya pada yang namanya dukun, Aku tidak percaya”
“Ya uda kalo gak percaya” Ema melengos, kaya sewot
“Her Aku yakin ini bukan kerjaannya si Sapri, ini kerjaan orang-orang yang memanfaatkan situasi Si Sapri”
Heri merenung sejenak, lalu berbicara.
“Ya! Aku juga yakin seyakin-yakinnya, walaupun Aku belum melihat temamu si Sapri itu”
Tiba-tiba suara beduk dipukul disana-sini, dengan diselingi sayup-sayup suara azdan. Ema memberika sarung. Aku mengajak Heri ke Masjid menunaikan salat Magrib, diperjalanan terusaja membicarakan masalah Si Sapri, tak lama Aku sampai di Masjid. Aku bersalaman dengan beberapa orang dengan sapa menyapa. Aku ambil wudu di kobak, belakang Masjid. Tak lama sura Iqimah berkumandang. Aku memulai salat, tapi dalam salatku masih terpikirkan tentang isu Si Sapri itu. Bahkan lebih bergejolak, ingin membuktikan bahwa Si Sapri bukan dalang, dari kejadian yang sedang berkembang di kampungku.
Kepenasaranku begitu menukuik, sampai tiba di rumah. Makan malam pun seperti tak berselera, walau pun Aku memperlihatkan pada Heri begitu berselera dengan makan malam ini karena tak enak pada Heri yang sedang bersemangat makan. Padahal hatiku terpengruh dengan persoalan yang sedang bergejolak. Hingga sampai selesai makan pun, masih tetap gelisah dan Aku ingin sekali ke rumah Si Sapri. Tapi Aku teringat dengan tubuhku yang bau belum mandi, Aku mengajak Heri mandi sambil berjalan ke dapur mengabil handuk dan sabun. Lalu Aku melangkah ke pentu dapur, tak lama Ema, bertanya
“Jangan madi ke keli, banyak bejanya! Demit si Sapri sedang beraksi, kamu jadi korbannya. “
“Ah! Aku gak percaya sama yang gituan, Aku lebih percaya sama Allah”
“Kamu maksa amat, gak ngedengerin nasihat orang tua. Nanti kamu kualat”
Aku tak mendengar nasihat Mak, Aku langsung saja menuju kali. Ma ku menjerit memerintahkan pada dua adiku untuk menemaniku, bahkan Bapak juga mengikutiku. Sedang Aku sudah sampai di kali, tak lama Bapak dan kedua Adiku datang.
“Kamu lain di rumah saja mandina” Kata Bapak dan kedua Adik-Adikku
“naon percaya ka demit, ka Allah pa!” dengan kesal Aku menjawab.
Tak lama gema Isya terdengar, Aku dengan manja menceburkan tubuhku kembali ke air yang segar, sebelum kutemui untuk satu tahun ini. Tak lama Heri seperti menangkap sesuatu, Heri mendekatiku.
“Sepertinya ada sinar yang berkilau ditanah lapang itu” ungkapnya sambil membisik
“kayanya ia Heri “
Aku diam sejenak menatap dua kalau sinar itu, Aku ajak Heri tuk mendekati dua sinar yang berkilau, Aku sudahi mandiku. Lalu Aku memakai celana sampai baju, ku dekati sinar itu, tak lama bapak berteriak kecil “Jang jang mendekat kesitu” tak ku gubris suara Bapakku. Aku bersama Heri terus mendekati kearah dua kemilau sinar itu. Setelah mendekat ku pegang sinar itu, menurut perasanku ini kepala Domba.
Aku penasaran hendak melihat jelas dengan lampu yang tak kunyalakan. Aku tersentak ada yang lari, tak jauh dari tempat itu. Mendengar sura yang lari, Aku lebih bersemagat untuk mengejar pasti ini pelakunya, ketika badanku sudah mendekat ku tentang ia. Heri membantunya dengan pukulan, ia terus saja berusahan berlari walau sudah jatuh. Sepertinya ia sempoyongan, Aku tak memberi kesempatan, kembali menendang dengan beberapa pukulan. Akhirnya jatuh tersungkur, Aku tak membuang kesempatan, ku tikam dia. Sepertinya dia sudah tidak biasa apa. Lalu ku buka tergos yang menutupi kepala dan mukanya. Aku tersentak ternyata “mang Jarman”.
“jadi selama ini yang menyebarkan isu yang kurang baik pada taman Aku mang Jarman”
Aku menghela napas, ingin rasa memukul kembali, tapi tak tega ketika yang kulihat mangku sendiri.
“sebentar Jang, Sapri juga ikut terlibat dalam sekenaryo ini”
“yang benar Mang!”
“jangan bikin pitnah aja” sambil kekerot gigi ku
Tiba-tiba datang warga dan Bapak ku menghampiriku, Aku langsung berbicara.
“ini yang jadi Demit” sambil memandang najis
“jangan salah Jang Bapak ujang juga ikut terlibat, ulang mungkir!”
Bapakku menunduk, sesudah Aku Tanya dan mengakuinya. Aku merasa malu pada masyarakat kampung halamanku, sambil memukul dada Bapakku dengan kesal.
