catatan perjalanan

May 10, 2009

Ratap

Filed under: Puisi

<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:""; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>

Kini telah lunas

Hutan firdaus dimata mayapada

Tidak ditanganku yang selalu terlukis padang diri

Tak bertuan, ranting tak berdaun

Walau dihuni aneka belukar jenaka

Dan rerumputan yang selalu tersenyum kekecutan

Ada seribu Tanya, ketika ku menatap alis

Yang hilang garis lengkungnya.

Seolah tersembunyi di balik akar kemunafikan

Yang menyodorkan emas berganti perak saat ku melaut

Tidak juga aku!

Seperti saja wajah yang sempat kulupakan

Membelai kearifan

Memberiku pergi dalam kekalutan

Dalam keberpilihan

Menatap zarah yang sempat ku basuh telapak kakinya

Di kala malam purba datang kepangkuan

Menjadi prisai

Menjadi hijab

Di mihrab peluh ratap dzikirku

Dalam terpaan ampunanku

 

Cimayang, Mei 2008

May 5, 2009

Proses Wawancara Untuk Siswa Kita

Filed under: Petualangan Kita

Dalam proses pembelajaran  wawancara dalam mencari berita,  tentunya tidak langsung pada tataran kita mencari berita, tapi bagaimana kita perkenalkan siswa kita pada pelaku wawancara mungkin lebih dikenalnya wartawan. Dialah yang bertanggung jawab dalam meliput berita, namun pada kenyataannya ada saja wartawan yang tidak menjalankan fungsinya sebagai wartawan. Bagaimana dijelaskan oleh Kijing selaku redaktur Radar Junior, bahwa wartawan merupakan kontrol sosial. Wartawan harus sanggup mencari berita, mendapatkan berita, mengolahnya, dan menginformasikan pada halayak. Sehingga wartawan dapat dikatakan sebagai sumber informasi dari berbagai peristiwa yang tersaji di media massa, maupun media elektronik.

Apabila fungsi wartawan terjalankan dengan baik, satu tugas yang sangat mulya telah ia kerjakan untuk kepentingan publik. Bagaimana tidak dikatakan mulya? ketika khalayak memerlukan informasi tentang pembunuhan misalnya, pembunuhan tersebut terjadi di Lampung dan orang yang dibunuh adalah orang Jakarta. Karena wartawan saat itu meliputnya dan keluarga korban membaca berita yang ditulis si wartawan tersebut, antara senang dan sedih saudaranya yang telah lama menghilang ternyata dibunuh orang. Mungkin kalau keluarga korban saat itu, tak membaca mencari kesana kemari berapa langkah telah terkorbankan, tapi dengan membaca berita tersebut keluarga korban menemukan saudaranya yang dicari walau tinggal raga yang tak bernyawa. Dalam istilah bahasa sunda kapendak bugangna bae geus sukur daripada teu kependak sama sekali (ketemu bangkainya saja sudah syukur tinimbang tidak diketemukan).

Namun, tidaklah mudah bagi seorang wartawan dalam menjalankan tugasanya, butuh keberanian, baik fisik dan mental. Karena tidak sedikit wartawan yang bertugas memerlukan waktu 24 jam dalam kerjanya. Terbukti peristiwa yang menjadi jona liputan, tidak siang bahkan malam bisa mengusik tidur untuk sesaat, sehingga tersita waktu istirahatnya. Selain itu wartwan dibutuhkan keberanian yang mantap, ditempat liputan banyak sumber yang menjadi ancaman bagi dirinya, baik disaat meliput maupun sesudah meliput berita, apabila mendapatkan berita tetang kasus KKN. Apabila berita tersebut tayang, wartawan kadang kena intimidasi, dari pihak yang merasa nama baiknya telah dicemarkan dihadapan publik. Bagi wartawan yang tak kuat mentalnya mungkin sudah kena setruk atau tekanan jiwa, tapi bagi wartawan yang sudah berpengalaman.  Mungkin hal seperti ini, dijadikan hal yang biasa dalam menjalankan tugasanya.

Wartawan Bodrek

Akan tetapi, ada peristiwa yang berbalik dari kenyataan wartwan karena menyelewengkan tugas kewartawanannya. Tidak sedikit oknum wartawan yang mengintimidasi narasumber, ketika mewawancara narasumber karena kasus narasumber dianggap cukup serius contoh kasus korupsi. Ujung-ujungnya oknum wartawan minta duit walau tak memintanya, agar  kasusnya tidak naik tayang. Nah ini onum wartawan dinamakan wartawan bodrek yang membahayakan khalayak yang berkepenting dan merugikan khalayak memerluka informasi penyalahgunaan uang rakyat. Tugas warawan seperti ini hanya pada tataran mencari berita dan mendapatkan berita saja. Menurut Kijing.

Tingkah laku wartawan bodrek mencemarkan nama baik wartawan dimata masyarakat  mengurangi kefungsian wartawan sebagai kontrol sosial. Selain itu, ada nilai kurang percaya serta mempersulit kerja wartawan di masyarakat karena wartawan oknum wartawan tersebut.

Akan tetapi, satu kenikmatan dalam koran Radar Banten terdapat tulisan “wartawan tidak menerima bingkisan apapun ketika menjalankan tugasnya” semoga ini tidak sekedar motto untuk menarik perhatian publik, tapi sebuah langkah tugas wartawan akan kontrol sosial dalam menjalankan tugasnya. Sehingga terbangun kembali pada masyarakat Banten dan sekitarnya.

Pelepah Singkong

Filed under: Puisi, Petualangan Kita

Siapa sangka pelepah dadap dan singkong dapat dijadikan modal keuletan Heri,  menggeluti profesinya yang kini meroket dalam permintaan pelanggan pangkas rambutnya di kampung Bondol, kampung dimana telah memberikan kesempatan melihat dunia pana.  Menurut penuturannya selama bulan ramadhan, Heri sempat mengantongi keuntungan sebesar 4 juta. Mungkin sangat mustahil, apabila Heri tidak mempunyai modal kepercayaan dari pelanggan yang selalu bertambah, dari waktu kewaktu. Pasalnya Heri dalam mengerjakan profesinya mempangkas rambut dikerjakan oleh dirinya sendiri ini, ternyata lokasinya berada di pedesaan yang jauh dari perkotaan. Menurut pengakuan pelanggannya yang tak mengungkapkan namanya “  saya suka dengan tempatnya yang alami, tinimbang dipinggir jalan  panas, udaranya berpolusi, lagi sumpek dengan asap dan debu mobil yang melintas” ungkapnya dengan tawa. Mungkin itulah yang menjadikan modal ramain pangkas rambut Heri.

Akan tetapi, Heri yang perawakannya “jangkung leutik” (jangkung tapi badannya kecil red) ini memiliki sifat ramah pada pengunjung bahkan pada siapapun yang datang ketempatnya. Sifat keramahan ini, kadang melekat pada setiap orang yang datang ketempat pangkas rambutnya. Menurut penuturan Heri “kalau lagi kumat yang datang tidak sekedar ingin pangkas rambut, tapi niatan untuk refresing, mengobati kepenatan otak, mengobati rasa boring. Kalau udah kaya gini paling saya suruh  masak pisang goreng, itupun kalau ada. Ya kalau ga ada paling liliweutan” dengan nada ngakak. Kedati demikian keroyalan Heri pada para pemuda ada saja yang ngomongin and ngomentarin, tapi menurutnya walau saya royal pada mereka ikhlas saya lakukan. Tandasnya

Dengan keikhlasannya Heri menjadi lebih yakin dengan usahanya yang sedang dirintis saat ini. Heri mempunyai cita-cita mendirikan kios salon di kampung sendiri, dimana ia dilahirkan dan dimana ia dibesarkan oleh kedua orang tuanya. Dia ingin memberikan citra pada kampung halaman yang ia tinggali saat ini. Dia ingin menciptakan lapangan kerja di kampung halamannya, dia pun tak ada rasa untuk pergi meninggalkan kampung halamannya. Justru menurutnya yang paling nikmat adalah berada di kampung sendiri bersama keluarganya, berbagi kesedihan dan kesenangan disaat ada serta disaat diperlukan. Ia pun menuturkan untuk saat ini 70 persen sudah tercapi cita-citanya, tinggal mencari tanah yang tak jauh dari kampung, tepatnya yang ada di depan jalan.

Demit

Filed under: Puisi, Cerpen

Sore itu Aku dan Heri baru tiba di kampung halamanku. Aku disambut Ema, Bapak, beberapa adikku. Mereka seperti senang dengan kedatanganku, wujud senang terlihat senyum Ema dan Bapakku yang membuat aku tersenyum lucu akan gigi Ema dan Bapak hi yang makin hitam, mungkin keseringan memakan sirih. Ema memelukku dengan meneteskan air mata “gima keadaanmu Ujang di Serang” Aku terhenti sejenak mengikuti napasku yang tersengal.
“Allhamdulillah baik-baik saja Mak!”
“terus denga Emak gimana?”
Emak menjawab setelah senyum dan tetes air mata Ema terseka, “Alhamdulillah baik juga, tapi masuk dulu atuh”
“gak enak sama tetangga, ayo ujang bawa babaturana ke dalam”
“ya ma!, Her ayo masuk “ ungkapku pada Heri
Heri masuk, langsung ku persilakan duduk di ruang tamu. Heri menatap sekeliling ruang tamu rumahku, Aku diam sejenak membiarkan Heri menikmati suasan ruang tamu rumah ku dan terhenti pada sekumpulan anak kecil. Lantas Aku menjelaskan sebelum Heri bertanya,
“itu teman-teman Aku di Bungin kali Ciberang ketika main bola yang tinggal kenangan”
“kenapa tinggal kenangan” tukas Heri
Aku meneteskan air mata, teringat akan kisah teman-teman di foto tersebut. Tak lama Aku menjawab pertanyaan Heri yang tertunda. Sepertinya Heri sudah menduga ada tragedi dalam foto tersebut.
“Dulu kami hidup bersama dengan mereka, bercengkrama, bermain bola, memanjat pohon kecapi. Tapi tragedi kilat menimpa mereka, ketika mereka ngurek Belut di sawah Lega. Aku pun tak habis pikir, dengan nasib mereka yang begitu cepat dijemput maut lantaran sambaran kilat yang begitu dahsyat. Padahal teman-teman Aku sudah berlindung di saung pak Sawira, tapi kilat itu tetap menyambarnya. Hanya satu orang yang selamat si Sapri, entah orangnya ada dimana sekarang.”
Aku menyeka air mata, mengakhiri cerita. Heri mengangguk seperti telah paham dengan pristiwa yang Aku ceritakan.
Tak lama Ema membawakan dua gelas air dengan ditemani singkong rebus, umbi rebus, dan gula aren. Aku tersenyum pada Ema.
“Ema tahu aja makanan kesukaan saya”
Sambil mempersilakan pada Heri untuk memcicipi rebus singkong dan rebus Umbi. Aku ngasing cara makannya.
“Her cara makannya gini, dicocol sama gula, am deh”
Sambil ketawa kecil. Heri pun mengikuti cara makan Aku, lalu ia tersenyum,” bener enak euy” ungkapnya sambil ketawa. Ema tersenyum sambil ketawa juga, sambil duduk di sampingku.
Tak lama Aku teringat sama si Sapri, lalu Aku bertanya.
“Ma gimana keadaan si Sapri?”
Ema terdiam sejenak, terus ia menjawab pertanyaanku dengan membagi napasnya.
“Si Sapri baik-baik saja, tapi keberadaannya seperti aneh, kadang ada di kampung kadang gak ada”
“Kata Emanya sih si Sapri, kerja di Jakarta sama sodaranya, tapi semenjak si Sapri kerja di Jakarta banyak kambing yang mati tinggal kepalanya, bahkan Kerbau mang Emeh juga mati tinggal kepalanya juga. Kata para tetangga, si Sapri nyupang, karena pengakuan Emanya. Si Sapri sangat tidak masuk diakal, masa kerja di Jakarta hari senin, selasa, rabu, dan kamis ada dirumah. Jumatnya baru berangkat ke Jakarta. Pulang hari minggu.”
Aku tersentak, lalu dengan refleksnya Aku membela si Sapri.
“Ah di jaman modern sepeti ini masih percaya sama gituan, biasa saja si Sapri kaya karena hasil jerih payahnya. Aku yakin ma, ada yang memanfaatkan situasi ini, Aku udah tahu siapa si Sapri. Dia selama berteman dengan ku belum pernah ketinggalan sembahyang”
Ema memotong pembicaraanku
“Itu sifat Sapri dulu, sewaktu Sapri masih kecil, sekarang mah agak berbeda. Kalau dia ada di kampung, masyarakat belum pernah melihat si Sapri ke Mesjid. Kalau tidak percaya nanti kalau si Sapri lagi ada di kampung. Semua masyarakat disini sudah banyak membicarakan si Sapri, bahkan mang Jarman pernah meminta bantuan dukun untuk meneropong sebab nusabab kematian kambingnya. Kata dukunya kambingnya mang Jarman dimakan demitnya si Sapri”
Aku memotong pembicaraan Ema
“Aduh dijaman saiki masih saja percaya pada yang namanya dukun, Aku tidak percaya”
“Ya uda kalo gak percaya” Ema melengos, kaya sewot
“Her Aku yakin ini bukan kerjaannya si Sapri, ini kerjaan orang-orang yang memanfaatkan situasi Si Sapri”
Heri merenung sejenak, lalu berbicara.
“Ya! Aku juga yakin seyakin-yakinnya, walaupun Aku belum melihat temamu si Sapri itu”
Tiba-tiba suara beduk dipukul disana-sini, dengan diselingi sayup-sayup suara azdan. Ema memberika sarung. Aku mengajak Heri ke Masjid menunaikan salat Magrib, diperjalanan terusaja membicarakan masalah Si Sapri, tak lama Aku sampai di Masjid. Aku bersalaman dengan beberapa orang dengan sapa menyapa. Aku ambil wudu di kobak, belakang Masjid. Tak lama sura Iqimah berkumandang. Aku memulai salat, tapi dalam salatku masih terpikirkan tentang isu Si Sapri itu. Bahkan lebih bergejolak, ingin membuktikan bahwa Si Sapri bukan dalang, dari kejadian yang sedang berkembang di kampungku.
Kepenasaranku begitu menukuik, sampai tiba di rumah. Makan malam pun seperti tak berselera, walau pun Aku memperlihatkan pada Heri begitu berselera dengan makan malam ini karena tak enak pada Heri yang sedang bersemangat makan. Padahal hatiku terpengruh dengan persoalan yang sedang bergejolak. Hingga sampai selesai makan pun, masih tetap gelisah dan Aku ingin sekali ke rumah Si Sapri. Tapi Aku teringat dengan tubuhku yang bau belum mandi, Aku mengajak Heri mandi sambil berjalan ke dapur mengabil handuk dan sabun. Lalu Aku melangkah ke pentu dapur, tak lama Ema, bertanya
“Jangan madi ke keli, banyak bejanya! Demit si Sapri sedang beraksi, kamu jadi korbannya. “
“Ah! Aku gak percaya sama yang gituan, Aku lebih percaya sama Allah”
“Kamu maksa amat, gak ngedengerin nasihat orang tua. Nanti kamu kualat”
Aku tak mendengar nasihat Mak, Aku langsung saja menuju kali. Ma ku menjerit memerintahkan pada dua adiku untuk menemaniku, bahkan Bapak juga mengikutiku. Sedang Aku sudah sampai di kali, tak lama Bapak dan kedua Adiku datang.
“Kamu lain di rumah saja mandina” Kata Bapak dan kedua Adik-Adikku
“naon percaya ka demit, ka Allah pa!” dengan kesal Aku menjawab.
Tak lama gema Isya terdengar, Aku dengan manja menceburkan tubuhku kembali ke air yang segar, sebelum kutemui untuk satu tahun ini. Tak lama Heri seperti menangkap sesuatu, Heri mendekatiku.
“Sepertinya ada sinar yang berkilau ditanah lapang itu” ungkapnya sambil membisik
“kayanya ia Heri “
Aku diam sejenak menatap dua kalau sinar itu, Aku ajak Heri tuk mendekati dua sinar yang berkilau, Aku sudahi mandiku. Lalu Aku memakai celana sampai baju, ku dekati sinar itu, tak lama bapak berteriak kecil “Jang jang mendekat kesitu” tak ku gubris suara Bapakku. Aku bersama Heri terus mendekati kearah dua kemilau sinar itu. Setelah mendekat ku pegang sinar itu, menurut perasanku ini kepala Domba.
Aku penasaran hendak melihat jelas dengan lampu yang tak kunyalakan. Aku tersentak ada yang lari, tak jauh dari tempat itu. Mendengar sura yang lari, Aku lebih bersemagat untuk mengejar pasti ini pelakunya, ketika badanku sudah mendekat ku tentang ia. Heri membantunya dengan pukulan, ia terus saja berusahan berlari walau sudah jatuh. Sepertinya ia sempoyongan, Aku tak memberi kesempatan, kembali menendang dengan beberapa pukulan. Akhirnya jatuh tersungkur, Aku tak membuang kesempatan, ku tikam dia. Sepertinya dia sudah tidak biasa apa. Lalu ku buka tergos yang menutupi kepala dan mukanya. Aku tersentak ternyata “mang Jarman”.
“jadi selama ini yang menyebarkan isu yang kurang baik pada taman Aku mang Jarman”
Aku menghela napas, ingin rasa memukul kembali, tapi tak tega ketika yang kulihat mangku sendiri.
“sebentar Jang, Sapri juga ikut terlibat dalam sekenaryo ini”
“yang benar Mang!”
“jangan bikin pitnah aja” sambil kekerot gigi ku
Tiba-tiba datang warga dan Bapak ku menghampiriku, Aku langsung berbicara.
“ini yang jadi Demit” sambil memandang najis
“jangan salah Jang Bapak ujang juga ikut terlibat, ulang mungkir!”
Bapakku menunduk, sesudah Aku Tanya dan mengakuinya. Aku merasa malu pada masyarakat kampung halamanku, sambil memukul dada Bapakku dengan kesal.

Heboh Bunga Ajaib

Filed under: Petualangan Kita

Di penghujung  Ramadhan semua masyarakat Islam sibuk menyiapkan acara untuk menyambut hari kemenangan yakni hari  Raya Idul Fitri. Dalam menyambut  Hari Raya Idul Fitri banyak budaya yang disajikan oleh masyarakat termasuk budaya ziarah kubur atau berkunjung kesanak saudara yang sudah dikuburkan atau dikebumikan.  Budaya ziarah kubur banyak dilakukan masyarakat muslim setelah menjalani ritual salat sunat Idul Fitri termasuk di kampung Cilaki.

Ritual ziarah kubur di kampung Cilaki tidak ada bedanya dengan di tempat lainya, tapi pada pelaksanaan ziarah kubur masyarakat menangkap keanehan atau hal yang ganjil ketika ada bunga tumbuh di pusara bayi. Awalnya keluarga jenazah tersebut biasa-biasa saja dengan kehadiran bunga tersebut, tapi setelah melewati beberapa hari bunga tersebut mekar dan membesar persis bunga bangkai yang tumbuh di Kebun Raya Bogor.

Bunga ini ternyata benar bunga Bangkai, setelah ada penelitian dari salah satu masyarakat yang tahu bentuk bunga Bangkai dan kabar bunga Bangkai tersiar ke seluruh kampung di kawasan kecamatan Cimarga. Dalam kabar tersebut meluas hingga bunga tersebut mendapat julukan dari masyarat bunga ajaib, mungkin kejaiban itu dikarenakan bunga tersebut tumbuh di pusara makam bayi dan bunga tersebut belum pernah ada sebelumnya ditempat tersebut. 

Menurut sumber yang diungkapkan oleh seorang pemuda yang mengetahui sejarah singkat  bunga tersebut. Bunga tersebut diketemukan oleh keluarga jenazah ketika ziarah kubur  tepat tanggal 1 Oktober 2008 atau lebih dikenalnya 1 Syawal 1429 H dan pada 4 Oktober 2008 bunga tersebut mekar dengan indahnya hingga menarik perhatian yang lewat di tempat itu. Saking menariknya bunga itu jadi bahan tontonan masyarakat, tidak hanya masyarakat setempat bahkan luar wilayah kecamatan Cimarga juga ikut nimrung melihat bunga tersebut, bahkan kehadiran bunga tersebut dapat memberikan income bagi yang kreatif dengan situasi tersebut. Wujud kreatif tersebut terlihat dengan adanya penjualan foto bunga Bangkai yang dijual Rp. 10.000 per foto.

Dengan kehadiran bunga di pusara bayi yang tidak jauh dari jalan raya. Masyarakat menjadi terhibur dan dengan kreatifnya, agar bunga Bangkai tetap terjaga dari tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab, pusara jenazah bayi itu pun dipagar dengan tralis serta malamnya ada  lampu penerang,  walau di setiap malam tak ada pengunjung.  Ini adalah salah satu wujud kepedulian warga mencoba menjaga kelestarian bunga Bangkai yang tumbuh di wilayah mereka. Sedikit ada kekhawatiran dengan penampilan bunga Bangkai yang unik lagi ajaib. Masyarakat menganggap bunga ajaib, padahal kejaiban itu telah Allah ciptakan agar makhluknya mensyukuri tentang keindahan ciptaanNya, bukan takjub sepenuhnya akan ciptaannya atau kata lain mendewakan ciptaannya.

Artinya Allah akan mensajikan dalam bentuk apapun, apabila Allah telah berkehendak dimanapun kehendak itu Allah sajikan seperti kata “Kun” dalam surat Yassin yang tidak ada keragu-raguan lagi, bagi makhluknya yang bertaqwa padaNya. Semoga kehadiran bunga Bangkai  ini adalah rahmat untuk masyarakat Cilaki dan sekitarnya. Amin 

Kabar Pengkramatan Bunga Bangkai

Dari hasil survai Alabarok ke TK bunga tersebust tumbuh, saya tidak menemukan praktik pengkeramatan. Di TK bunga Bankai tumbuh, hanya ada pemanfaatan situasi masyarakat setempat yang halal lagi terhormat  diantaranya, masyarakat mencoba berkreasi menjual foto bunga Bangkai yang sudah dilaminating, ada pun pemagaran yang dilakukan oleh masyarakat. Alasan masyarakat, agar bunga tersebut terjaga dari tangan-tangan jahil, baik disegaja maupun tidak disegaja, sehingga terlihat terlindungi.

Dalam aktivitas warga yang hendak menonton keberadaan bunga Bangkai  di makam tersebut, tidak memperlihatkan adanya sebuah aktivitas pengkeramatan. Seperti terlihat aktivitas ziarah berlebihan atau makam bayi tersebut diziarahi oleh pengunjung yang hendak mengunjungi tempat tersebut. Ada pun penamaan bunga ajaib, mungkin karena kekaguman pengunjung saja, akan keindahannya.

Ketika pengunjung menonton bunga tersebut, para pegunjung juga diberi penjelasan oleh Pemuda yang ada di tempat bunga bangkai tersebut, tentang bermacam-macam nama dan bentuk bunga Bangkai yang tumbuh di Indonesia. ketika Alabarok bertanya pada pemuda tersebut, pemuda tersebut menjelaskan pengetahuan akan jenis bunga tersebut berasal dari internet. Dengan bukti beberapa gambar bunga bangkai, lengkap dengan nama ilmiahnya di bawah pagar. Alabarok menyimpulkan tumbuhnya bunga Bangkai tersebut tidak lantas  diberi nama bunga Bangkai, ada penelitian dulu melalui literatur internet.

Sumber berita diambil ketika pulang mudik, akan tetapi kabar tersebut sudah terdengar oleh penulis ketika pulang dari pasar Rangkasbitung, di mobil ada salah satu penumpang yang hendak mengunjungi bunga Bangkai dengan julukan bunga ajaib.

Puisi Desember 2009

Filed under: Puisi

Usai

 

Usai sudah panorama yang kemarin tersimak

Karena kini telah melebur kegelisahan

Yang dulu tersimpan resah

Dalam-dalam hanya menyimpan riwayat

Dilubuh hati yang masih berpapas senyum

Dan ku jadikan catatan

Dikala lembar-lembar album mengingatkan

 

Cihideung, 17 Desember 2009

 

Dalam

 

Dalam satu detik kita akan hancur

Apa melaju mujur?

Dalam satu langkah kita akan terpaku

Apa melenggang kaki?

Dalam satu napas kita akan terhenti

satu rindu seolah jauh

satu rindu seolah dekat

satu rindu tertinggal

dalam ketenggelaman

kelupaan kita diingatkan akan peristiwa

cinta

siksa

maksa

tidak terasa

seolah kita!

Cihideung, Desember 2008

 

 

Tidak

 

Tidak ada rasa ini terpenjara

Yang ada orang bego yang memenjarakan aku

mengangap bego

padahal?

Tak jauh sama begonya

Tak akan enyah

Apabila hati ini belum karena titahMu

Suatu saat

Tak perlu kau

Tak mengharap kabarpun

Aku sudah berkemas

Karena telah menungguku

Hanya lillah hita’ala

 

Cihideung, Desember 2008

 

Hai

Murtadha Muthari

 

Hai, pagi ….

Pagi ini kau ingatkan kami tentang kebersihan

Kami tahu. Tapi kami jarang melakukan

Kadang kala ada saja

Kelakuan kami yang menjengkelkan

Tapi, buat ….

Entah itu sadar apa pasrah

Jelas kau tetap tersenyum

Aku rindu senyum itu

Aku rindu akan keramahanmu

Aku rindu semua ….

Waktu tak seberapa lama lagi disini

Dan ku mohon kau mau memaafkan

Kehilafanku

Disengaja atau pun tidak

Yang kau tahu

Mau pun tidak kau tahu

Sorry aku rindu itu semua

 

Cihideung, Desember 200

 

Menyisakan Gelisah
 

Kedamaian yang masih menyisakan gelisah

Dalam segores resah

Tertuju pada kerut muka

Yang gembira, tapi mencari solusi api-api

Saat itu

Derit meja mesih dimainkan tangan

Dalam memainkan nyaman

Tapi sang pemerhati

Melukis masa depan yang begitu panjang

Begitu rumit

Tapi mesih menanti harapan

Dalam kanvas barunya segumpal kepal

Baru tersandar

Menyadari riwayat di hutan ini

Selesai sudah

Dikala secarik kertas berharap lain

Sudah tak bermakna lagi

Seutas senyum masih!

 

Cihideung, Desember 2008

 

Ngeh

 

Senandung rindu berjalan begitu saja

Setelah kita tersandung di isyarat

Yang lagi mendung

Menunggu

Akan lelakunya

Dimana pasrah sudah tak lagi

Pasrah wah!

Itulah perjalanan kita

Seperti saja kita bertemu

Antara kaprah

Kaprah

Kita seperti kembali lagi

Mengeja peristiwa

Kita seperti saja masa tua

Padahal

Hidup kita hanya beberapa kepal tangan

Tak tahu

Tak?

 

Cihideung, Desember 2008

 


Ku Cari

Saefullah Cavin Al-Abarokms

 

Sunyi masih dicari, dimana kediaman masih belum,

sesunyi yang dicari.

Dalam gelisah yang tanpa pasrah. Ingin terarah langkah

Kini masih terpatah-patah, mengarungi kekonyolan. Ketika

Sadar menerpa, seperti diselingi noda-noda yang tiada terkira.

Mungkin hijrah kembali bernasib, dijalanan ini.

Meneruskan artefak-artefak yang telah didapat disini.

Yang patut disyukuri untuk beberapa ketidak tahuan

akan anugrah.

Tapi kesanggupan ini pantaskah dipaksakan, ditiang malam

kubiarkan mengupat damprat.

Allah kira memberikan keputusan yang lurus lagi tak terulang

Ditempat, yang sempat kusinggahi nanti.

Kalau saja itu masih

Harus apakah ya Allah pengusa alam,  nasib makhluk ini,

Pengusa yang tak terhingga.

Hati ini ingin selalu liburan dalam jiwa yang kerja, Allah tunjukan

Apabila ada kan ku kejar ia, dengan izinMU yang mulya.  

 

Cinangka, 22 Desember 2008

Sastrawan Bicara Guru Bertanya

Filed under: Petualangan Kita


Satu acara yang aku hadiri senin ini tanggal 4 sampai dengan tanggal 5 selasa, pelatihan menulis kreatif untuk guru dan mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia dengan pemateri Nenden Lilis dan Moderator Firman Vanayaksa diselenggarakan oleh Hima Prodi Diksatrasia di gedung Auditorium Untirta Banten. Satu acara yang sangat menarik untuk disimak, terutama olah para guru bahasa Indonesia yang selama ini selalu dijadikan kambing hitam oleh para kaum intetektul terutama dalam pidato yang di bawakan oleh bapak Muhyidin, M.Pd selaku Ketua Prodi Diksatrasia menurutnya pembelajaran sastra di sekolah terutama menulis kreatif  sering dikesampngkan oleh para guru hingga pelajaran bahasa Indonesia menjadi menjenuhkan, lantaran guru tak memahami sepenuhnya tetang sastra.

Ungkapan di atas apakah hasil riset atau hanya opini saja, saya kira ini perlu diperbaiki bagaimanapun juga guru menjadikan tolak ukur pemahaman muridnya ketika pelajaran disampaikan. Yang perlu diubah sekarang adalah program dulu  “sastrawan bicara siswa bertanya” saya kira dipending dulu, sebab kalau diteruskan guru bahasa Indonesia dikencingi muridnya, bagaimana tidak dikencingi muridnya? muridnya tahu tentang sastra dari hasil Tanya jawab pada Sastrwan melalui acara program “Sastrawan Bicara Siswa Bertanya” gurunya belum pernah melakukan ini. Tentunya tidak harus dibahas pembaca yang budiman yang akan menelaahnya

Sungguh lucu bukan pemeparan tadi? Tapi ini bukan untuk diketawakan sebagai orang berpikir dan ingin menyumbangkan pemecahanya. Saya selaku penulis lebih tepat masalah ini ditangkis oleh “Sastrawan Bicara Guru Bertanya” intinya bertanya untuk muridnya, untuk bahan pembelajaran kedepan dan penembahan amalibadah para Sastrawan tidak sekedar berkaya untuk dibaca, tetapi pengalaman proses dalam berkarya dapat terbagikan pada para Guru.

Terima kasih pada Ibu Nenden Lilis yang telah memberikan seribu pengalaman pada saya dan teman-teman semoga ini langkah awal Sastrwan Bicara Guru Bertanya yang jelas saya menunggu gagasan hangat untuk saya transfer pada siswa saya di kelas






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Naoko M