Pajang Mulud
Anda kenal dengan panjang mulud? Kalau anda melintasi kawasan Palka (Palima, Pabuaran, Padarincang, Cinangka dan sekitarnya), pada bulan Maulid, pasti anda akan menemukan orang-orang memanggul aneka bentuk panggulan. Diantaranya bentuk yang dipanggul dapat berupa perahu, menara Masjid, burung Merpati, atau bentuk laninnya. Dibalut dengan sarung atau samping perempuan dan kalau anda sempatkan terhenti sejenak di Masjidnya, semuan panggulan itu dikumpulkan di halaman Masjid, dari mulai pembukaan acara sampai selesai membaca doa, baru dapat Panjang Mulud akan dibongkar, didalam terdapat nasi satu bakul, aneka ikan yang sudah dimasak bahkan mie instan ada didalamnya dan lain sebagainya bias disajika di Panjang Mulud asal berupa makanan yang layak makan.
Ketika pembongkaran Panjang Mulud, serasa seperti ada nilai kebersamaan dan ada berbagi disitu karena masyarakat setempat tidak memakan hidangan yang dimasukan kedalam Panjang Mulud. Yang intinya Panjang Mulud disajikan untuk para tamu undangan yang datang ke Masjid tersebut. Panjang Mulud memang sudah menjadi tradisi masyarakat Serang dan sekitarnya. Entah sejarah dari mana, tapi tradisi itu tercipta di bulan Maulid, sebagai perayaan Maulid Nabi Muhammad. Alabarok sempat bertanya kapan tradisi Panjang Mulud ternyata tak ada yang tahu atau mungkin Alabarok belum menemukan orang yang tahu sejarah Panjang Maulid.
Akan tetapi, Panjang Mulud menurut Alabarok mempunyai nialai yang sangat berharga. Nilai kekeluargaan antar kampung, baik kampung terdekat maupun kampung yang jauh. Momen kekeluargaan yang lebih mendalam dapat dirasakan dengan tradisi seperti ini. Kalau tradisi ini dapat berjalan terus. Tradisi ini sacara tidak langsung dapat menghilangkan permusuhan antar warga yang selama ini, kita dapat lihat ditayangan televisi. Tentang konflik antar kampung, padahal konflik tersebut berawal dari masalah sepele dan diantara mereka awalnya sodara, tapi proses penyelesainya seperti berabe untuk diselesaikan. Inilah satu cermin persaudaraan masyarakat Indonesia harus melalu tradisi masayarakat. Intinya penyelesaian butuh ada rasa nyaman dan dibangun melalui situasi tradisi kemasyarakatannya atau tidak terburu-buru.
Foto ini diambil ketika perayan Maulid Nabi di wilayah Padarincang minggu pagi
