Kita Evaluasi Diri
Kita Evaluasi Diri
Saefullah Cavin Al-Abarokms
Ketika kita melihat saudara kita yang sempat terbujuk dengan keadan yang mengharuskan keluar dari agamanya. Apakah kita akan mengecap mereka kafir, saya kira kurang bijak. Saya kira kita tidak perlu menyalahkan mereka, justru kita harus bertanya kenapa mereka harus keluar dari agamanya? Dan sudahkah kita bertanya tetang penyebabnya? Kalau belum jangan salahkan mereka. Kalau sudah apa penyebabnya? Apa karena kenyamanan? Atau kebutuhan hidup? Atau mungkin yang lainnya yang seharusnya kita kaji, jadikan evaluasi buat kita yang awalnya seagama.
Memang tidak banyak saudara kita yang terjebak dengan masalah perut, hingga ia berani untuk mempertaruhkan keyakinannya demi perut. Saya yakin semua umat Islam mempunyai iman tapi apakah yang diterangkan dalam cerpen “Mas Umar” karya Sentoso, Arief Budi (104:2006). Tak heran juga kalau orang menukar imannya dengan sejumlah beras dan beberapa bungkus mie. Kemudian orang-orang menyalahkan umat lainnya. Memang kemana mereka saat saudara-saudaranya membutuhkan makan? Kelaparan dan kedinginan. Pantas kalau hati yang lemah itu condong atas kemurahan hati orang lain. Jangan cuma salahkan orang, salahkan diri yang tak mau ambil peduli. Iman memang tak kenal perut kenyang dan lapar, tapi mungkinya butuh makan. Mukmin juga manusia.
Ini mungkin salah satu eveluasi kita yang bisa saja, tak mau ambil peduli dengan saudara kita yang seiman dan tak mau mengarahkan mereka pada kebutuhan mereka. Padahal kalau kita kaji lebih dalam tentang zakat, saya kira saudara kita yang seiman tak akan kelaparan. Saya yakin dari sekian umat Islam banyak yang kaya, yang sanggup mengeluarkan 2,5 dari penghasilkan dan umat Islam di Indonesia ini bisa dikatakan agama mayoritas. Tapi aneh yang peduli kok agama minoritas, terlepas bentuk kepedulian itu untuk membujuk umat Islam.
Kita juga jangan sampai seperti tokoh Mas Umar yang terdapat dalam cerpen “Mas Umar” bahwa hidup dan berekerja cukup dengan ikhlas. Tapi ikhlas juga perlu untuk dihargai agar orang-orang yang merasa mempekerjakan diri kita tahu diri, bahwa bekerja perlu keringat dan bayaran untuk keringat juga perlu untuk makan serta istirahat yang nyaman. Apalagi dengan hidup di jaman sekarang ini segala sesuatu pasti dijadikan bayaran sampai kita kalau ke kota barak saja bayar. Yang mingkin kalau hidup di kampung yang namanya berak itu cukup di kali saja atau di cubluk atau di WC umum yang dibuatkan dengan dana pemerintah kalau ada. Atau kalau ingin nikmat nebeng kerumah tetangga yang dianggap mampu mempunyai WC enak, tapi kan orang tersebut tidak selamanya suka menerima kita, mungkin saja jadi runyam masalahnya kalau kita banyak nebeng. Karena perasaan tak bisa disembunyikan terus.
Sehingga tokoh Mas Umar telah diberikan hidayah oleh Allah yang awalnya ketakutan terlena akan gemerlap harta. Juga akan istri, anak atau tahta, yang itu semua pitrahnya dunia. Namun ternyata itu semua bukan berarti harus dihindari. Guru ngaji seperti Mas Umar mungkin tidak butuh bayaran saing ikhlasnya, tapi dakwah agak perlu materi. Dakwah yang bermartabat juga perlu cara yang terhormat. Dakwah perlu kemandirian ekonomi, bukan mengemiskan diri. Bila tidak, dakwah akan kehilangan berkahnya, ulama tak lagi berwibawa, umat bisa gocang keyakinannya(Santoso, 104: 2006). Sehingga guru nagaji seperti Mas Umar juga perlu kaya, apalagi dalam dirinya niatan untuk membantu saudaranya yang seiman, sangat bersemangat setelah menemukan peristiwa yang memilukan.
Berpijak dari pengalaman yang telah dilaluinya Mas Umar mencoba mengubah hidupnya dengan berdagang bubur kacang ijo dan membuka privat baca Quran atau ngaji pada malam hari. Mas Umar pun memiliki tekad boleh punya banyak uang di tangan, tapi jangan dimasukan kehati. Dunia boleh dimiliki, tapi jangan dimiliki oleh dunia. Bahkan orang-orang yang berimanlah yang berhak menguasai dunia. Bila tidak dunia akan semakin rusak di bawah orang-orang durjana. Dalam prinsip yang pernah kita dengan kita jangan mau kaya tapi kita harus kaya. Artian itu kita jangan sampai ketika diberi kesempatan kaya hanya bisa memperkaya diri kita, disekitar kita tak dipedulikan. Setelah orang sekitar berpaling karena masalah kelaparan, kita menyalahkan penyebabnya tanpa mengoreksi langkah dan kepedulian selama ini. Sebelumnya penulis mohon maaf dengan tuisan ini semoga jadi jawaban bagi umat Islam yang kaya, yang belum peduli dengan saudaranya yang lemah.
