Antara Puisi dan Prosa
Antara puisi dan prosa
Saefullah Cavin Al-Abarokms
Pada perlombaan menulis puisi Pelestina kemarin entah penulis lupa tanggal dan hari penyenggaraan lomba tersebut. Yang jelas penyelenggaraan lomba penulisan puisi diadakan untuk momen menyambut tamu NF kalau tidak salah dari KISPA. Jelasnya saya diminta oleh panitian penyenggara acara tersebut, untuk menjadi juri lomba puisi, sebenarnya berat hati ini untuk menjadi juri kerana untuk menilai puisi di masa sekarang ini, tidak jelas patokan menilai tulisan puisi. Walau saya genar menulis puisi belum tentu gemar menilai puisi dalam artian menilai secara pendekatan konteks sastra secara utuh, baik dalam pendekatan struktruralisme, pendekatan persepsi sastra, dan pendekatan-pendekatan lainya yang menyangkut telaah teks sastra serta apresiasi sastra.
Saya menilai puisi baru tataran rasa saya pribadi, yang saya lihat pada keindahan kata, konkrit kata, Familiars kata dan susunan puisi yang dianggap menarik oleh saya. Karena ketika saya diajarkan tentang menulis puisi oleh dosen saya Moh.Wan. Anwar. Dia mengajarkan saya ketika puisi ditulis terangkai dengan memperhatikan konkrit katanya, familiars katanya yang intinya kata-kata puisi tersebut ditulis dengan tidak vulgar seperti dalam catatan harian kita, seperti dalam pesanan prosa kita.
Kata Moh. Wan Anwar kalau mau menulis puisi, ya puisi saja tidak usah disamakan dengan prosa. Seorang penyair juga perlu mengenal etika menulis, sehingga tulisannya tidak vulgar, menggelegar seperti tak terkendali. Walaupun media tulis adalah salah satu sarana penulis untuk mengungkapkan batin tulisan, tapi ini akan berakar pada citraan puisi si penulis kalau tidak dikendalikan. Ya penulis mengakui selama ini belum menuju kearah tulisan puisi yang diungkapkan di atas, tapi ketika menuju ruang lomba insya Allah hal-hal seperti itu akan saya perhatikan yang dimulai dengan tulisan di bloger saya.
Memang kalau kita lihat beberapa tulisan penyair terkemukan yang hadir di media Nasional bahkan regional. Kita sempat bingung, kita harus memakai gaya siapa dalam menulis puisi? Bentuk apa saja yang selalu disajikan, dari mulai kata-kata yang ngalir (mudah dimengerti) sampai dengan tulisan yang absut atau sur-realis (tidak mudah dipahami begitu saja layaknya puisi mengalir). Tapi kita tidak usah terjebak dengan tulisan mereka mulailah dari apa yang kita pahami, mulai lah dari apa yang kita kuasai, kita punya. Sebab puisi tercipta dari mulai terikat sampai ke hal yang tidak terikat. Kalau yang saya ungkapakan itu persepsi saya selaku penilai.
Ada beberepa kemungkinan yang akan terjadi pada beberapa orang ketika mengikuti, mendampingi anak didiknya dalam perlombaan. Ada satu kejanggalan dalam melakukan penilaian hasil lomba yang telah diselenggarakan. Makanya ketika selesai ada pendapat ini pasti jurinya disogok, saya katakan ini tidak ada kaitan dengan sogok menyogok, tapi yang jelas ini berkaitan denga rasa si juri itu sendiri. Mengapa demikian, saya ungkapkan karena ini berkaitan dengan pengalaman saya, ketika itu seorang penulis sekaligus pemerhati dan penggiat sastra yaitu Arif Senjaya. Kita tidak usah malu untuk mencoba tampil dalam perlombaan yang waktu itu ada perlombaan peksiminas di Lampung, tidak ada kata berpengalaman atau tidak berpengalaman. Juri dalam menilai berdasarkan rasanya, berdasarkan prediksinya yang saat itu pasti terjadi kemungkinan-kemungkinan pada peserta lomba yang tidak mungkin terjadi. Ia menuturkan ketika ada pembaca puisi dengan nada teratur, sesuai teks dan serba anggun disampaikan pada penonton. Tapi ada salah satu peserta membaca puisi dengan nada tidak teratur atau mungkin menyimpang dari yang sesungguhnya, tapi kok bisa menang. Itulah kekuatan rasa
Maaf apabila ada sesautu hal dalam menilai hasil tulisan anda yang ikut lomba tapi ini jujur berdasarkan rasa saya. Yang saya dapat dari pengalaman jangan putus asa dalam mengikuti lomba, sutu saat akan ada peluang menjadi pemenang atau anda yang menjadi pemenang. Tapi sebenarnya semua peserta lomba sudah menjadi pemenang dalam menaklukan keraguan diri yang ada pada diri peserta lomba, tinimbang orang-orang yang mau ikut lomba, tapi tidak jadi. Sungguh orang tersebut sudah kalah beberapa langkah. Saya selaku pemerhati, penilai meresa bahwa tampilan puisi peserta lomba bagus semua walau pun, diri saya merasa tersiksa untuk memberikan keputusan dalam menentukan siapa pemenangnya. Wallahu alam.
