Kebenaran Fiksi Antologi Cerpen Santri Pilihan pada “Mas Umar” Karya Arief Budi Santoso
Saefullah Cavin Al-Abarokms
“Mas Umar” adalah salah satu wahana kehidupan yang terjadi dalam kahidupan kita, atau hanya fiksi belaka. Tetapi kita selaku manusia yang mempunyai jiwa hablum minallah, mempunyai jiwa hablum minanas. tentunya ini berkaitan dengan kebutuhan dunia dan akhirat, secara tidak langsung berdampak pada proses manusia dalam menggapai dunia itu sendiri. Apabila dalam proses pencarian dunia atau dibaratkan keinginan akan dunia, mungkin bisa saja tahta, wanita, kekayaan, ilmu dunia dan lain sebagainya yang berkitan, itu tidak dengan jalan baik atau atas dasar rido Allah SWT. Tentu jalan menuju akhirat agak tersendat atau tidak sama sekali menggapainya wallah hualal bisoab dan selalu terjadi pada proses manusia.
Akan tetapi agak berbeda dengan tokoh utama bernama “Mas Umar” yang terjadi dalam “Mas Umar” ia mencoba memproses hidupnya dalam menggapai akhirat tanpa mempedulikan dunia atau harta kekayaan, tahta, wanita, dan sejenisnya. Baginya sudah cukup hidup dalam sebuah mesjid menjadi Kaum atau petugas, penjaga, pembersih masjid serta mengamalkan ilmu agamanya pada saat sore hari dalam praktinya mengajari mengaji. Walaupun ia mengajar di sekolah Dinyah, dalam pikirannya tak dapat gaji tak masalah, asalkan ada untuk makan saja. Pasalnya ketika ia ditawari anak gadis tetangganya dengan tanpa mengharap macem-macem, dari dirinya. Mungkin kita baca kutipannya “ Entah kenapa di usianya yang menjelang kepala tiga, Mas Umar belum juga mencari istri. Padahal, sudah banyak ibu yang datang menawarkan anak berserta tempat tinggal baginya. Ada juga yang berani menawarkan diri. Secara diam-diam, terang-terangan, atau lewat orang. (101:2005) itulah kalau sudah terpesona pada hati. Tak peduli bahwa Mas Umar hanya seorang ta’mir masjid atau guru ngaji.
“soal jodoh itu ada ditangan tuhan. Bukan urusan manusia” jawab Mas Umar.
“loh kalau tidak diambil-ambil berarti kan ditangan tuhan terus” jawab temannya.
“ ya engga nanti juga . kalau sudah waktunya nanti kan dikasihkan” jawab mas Umar.
“Iya, dikasikan ke orang lain karena tak diambil-ambil” kata temannya
“Jodoh itu seperti rejeki. Sudah ditentukan baginya masing-masing orang, nggak akan keliru. Kalau jodoh pasti ketemu. Jodoh itu soal panggilan hati. Kalau terpanggil ya belum dituruti. Walau dipaksa sama wanita cantik dan kaya, kalau tidak sreg ya tidak jadi. Tapi kalau hati sudah ketemu, meski tampilan pas-pasan pun tidak bisa ditawar lagi. Itu bagi yang diperkirakan masih idelais.
Dalam kitipan selanjutnya
Salah satu pintu hidayah bahwa hidup tidak sekedar ikhlas dan tanpa menggharap materi tapi ini terjadi pada Mas Umar “ Namun bicara tentang materi akhir-akhir ini Mas Umar agak resah juga. Bukan mengalami ia kesulitan utang. Namun begini ceritanya…..
Pada suatu malam, ada seorang abang becak datang menemui mas Umar. Memang selama ini banyak yang senang menemuinya. Sekedar ngajak ngobrol, curhat, ‘konsultasi’, atau ada keperluan tertentu. Abang becak itu datang bersama istrinya yang tampak sangat kesakitan di atas becaknya.
“Mas…. Tot-tolong Mas istri saya, toloong…..”
“sabar ya, Pak, sabaar. Apa yang saya bisa tolong?”
“Istri saya mau melahirkan. Sudah enggak tahan….”
“Ya Allah! Tapi saya ‘nggak bisa membantu orang melahirkan. Apa yang bisa saya tolong?”
“Anu … eeng… tolong saya butuh biaya buat oprasi di rumah sakit. Mas Umar punya duit ‘gak? Atau tolong dicarikan pinjaman. Saya janji akan saya langsung kembalikan jika punya uang. Atau setelah melahirkan nanti akan carikan utang untuk membayarnya. Kalau perlu bawa beca saya sebagai jaminan… “
Ternyata, istri abang becak itu sudah saatnya untuk melahirkan. Namun ia kesulitan mengeluarkan cabang bayi pertamanya itu. Menurut keterangan seorang bidan, istrinya harus dibedah cesar. Nah, dia datang minta bantuan Mas Umar, setelah ditolak rumah sakit karena tak punya jaminan dan putus asa cari pinjaman uang. Inilah masalahnya. Mas Umar sendiri tidak mempunyai uang dan waktu itu sudah tengah malam. Di mana Mas Umar mau mencari pinjaman? Bahkan sampai jutaan! Akhirnya setelah menggedor dari pintu ke pintu, belum sempat uang itu terkumpul, istri abang becak itu keburu menghembuskan nafas penghabisan di serambi mesjid. Diiringi raungan tangis abang becak, suminya. Di dapan mata Mas Umar.
“innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun…,” hanya ucapan itulah yang bisa diberikan Mas Umar, serta beberapa tetes airmatanya.
Mas umar tambah benar-benar percaya bahwa seorang ibu berkorban airmata, darah bahkan nyawa dalam melahirkan anaknya. Peristiwa itu selalu terbayang di pelupuk mata Mas Umar (104:2005). Menghantui pikirannya. Berhari-hari hingga shalatnya tidak khusyu’ lagi. Mengajarpun tidak konsentrasi. Ritme hidupnya jadi tidak teratur. Dia membayangkan seandainya saja saat itu menjadi orang kaya. Pasti wanita itu bisa diselamatkan bersama bayinya. Tidak menjadi korban kemiskinan tukang becak dan guru ngaji sepertinya. Juga oleh ketamakan kapitalisme rumah sakit, serta mereka yang tak mempedulikan hak-hak asasi yang paling manusiawi sekalipun.
Selama ini Mas Umar takut akan generlap harta. Juga akan istri, anak atau tahta, yang itu semua adalah firahnya dunia. Namun ternyata itu semua bukan harus dihindari Mas Umar merasa selama ini dia menjadi seorang pengecut. Guru ngaji seperti Mas Umar mungkin tidak perlu bayaran saking ikhlasnya, tapi dakwah agak perlu materi. Dakwah yang bermartabat perlu cara yang bermartabat. Dakwah perlu kemandirian ekonomi, bukan mengemiskan diri. Bila tidak, dakwak akan kehilangan berkahnya, ulama tak lagi berwibawa, umat bisa gocang keyakinannya.
Ah, Mas Umar jadi malu sama gusti Allah. Rejeki itu ya sepeti jodoh. Harus dijemput kedatangannya. Memang sudah dibagi-bagi jatahnya untuk tiap orang. tapi kalau tidak diambil-ambil yah angus atau dialihkan ke orang. mengambilnya dengan usaha, bekerja. Ditambahi ‘keras’ kalau perlu.
Dia jadi teringat sebuah peristiwa dengan seseorang yang pernah shalat di mesjidnya. Orang itu menawari sebuah peluang bisnis. Syaratnya dia harus masuk kenggotaan sebuah MML, MLM, LML, atau entah apa namanya. Orang itu begitu gigih merayu Mas Umar. Tak sekali dia datang beberapa kali bahkan. Bicaranya juga begitu memikat.
Namaun ia baru sadar akan pentingnya sebuah impian. Memang segala sesuatu bisa terwujud dari sebuah impian, imajinasi. Bahkan kata sijenius Einstein; imajinasi lebih berarti dari sekedar ilmu pasti. Sekarang Mas umar ingin punya banyak impian. Tapi bukan untuk dirinya sendiri. Ia ingin bisa menolong banyak orang. orang-orang sepertinya abang becak dan istrinya dulu itu. Juga para pengemis, gelandangan, anak-anak yatim, janda-janda tua… bukankah mereka juga manusia yang mempunyai hak hidup yang layak? Ah, mulia sekali hatinya.
Mas Umar segera cari strategi untuk beraksi. Dia mulai memutar otak agar cepat menjadi kaya. Tentunya dengan jalan yang halal, bukan cari pesugiahan. Mencari-cari usaha apa yang kira-kira bisa segera dilakukan. Dia kembali mengingat sebuah kisah Nabi berhijrah ke Madinah. Saat itu Nabi mempersaudarakan antara orang-orang Muhajirin dari Makah dengan Anshar dari Madinah. Dalam persaudaraan itu, ada seoarang Anshar yang kaya raya bermasud membagi separoh hartanya untuk saudara Muhajirinnya. Kalau perlu, salah seorang dari dua istri cantiknya akan diceraikannya agar bisa dipilih dan dinikahi saudaranya itu. Namun dengan halus si Muhajirin menolak tawaran saudara Asarnya. Dia hanya minta ditujukan arah menuju pasar. Dia ingin berkerja dengan tangan dan keringatnya sendiri. Dikemudian hari orang tersebut menjadi salah seorang yang terkaya di Madinah. Benar-benar luar biasa, piker Mas Umar. Dia ingin seperti si Muhajirin itu. Berarti Mas Umar harus segera pergi ke pasar! (Santoso, 107:2006).
Di depan pasar Mas Umar memilih salah satu yang cocok dengan naluri bisnisnya. Yang tidak begitu perlu banyak modal tapi laris. Cepat laku dan cepat kembali modalnya. Banyak untungnya… apa ya? Sepertinya pedagang makanan bisa bakso, mie ayam, sate, bubur kacang ijo… ya, bubur kacang ijo! Di salah satu kios pasar ada penjual bubur kacang ijo, kebetulan Mas Umar pun kenal penjualnya; bubur kacang ijo Asli Madura Cak Dikin. Jika Jumatan dia shalatnya di masjid Mas Umar. Mereka pun pernah ngobrol bareng. Dia pun menuju kios itu.
Mas Umar mencoba mecicipi setelah Cak Dikin mempersilahkan. Mas Umar dalam benaknya bubur kacang ijo. Cukup kacang ijo, ketan hitam, kelapa untuk santan… Warung Cak Dikin juga laris. Berarti cepat laku dan cepat kembali modalnya. Kayanya untungnya juga banyak begitu benak Mas umar.
Mas Umar bertanya “Ee… kira-kira jika saya ikut ‘mbantu-mbantu Cak Dikin di sini boleh ‘nggak ya? Saya ingin belajar dagang sama Cak Dikin. Saya ‘nggak minta bayaran kok. Ini kalau Cak ‘nggak keberatan…
Mulai pagi hari itu juga setelah Cak Dikin menyatakan menerimanya, Mas Umar mulai menyingsingkan lengan bajunya. Mankok dan gelas yang masih di atas meja langsung dibawanya ke belakang. Segera di cucinya peralatan yang kotor (Sentoso, 109:2006).
Hari demi hari Mas Umar semakin rajin bekerja di warung Cak Dikin. Sedari pagi membantu memasak bubur, melayani pembeli, mencuci memkok dan gelas. Mas Umar sudah mengerti memasak bubur yang lezat. Bagaimana cara menanak kacang ijo dan ketan hitamnya, menjaga temperatur apinya atau meramu bumbunya.
Minggu pun berganti bulan. Tanpa terasa tiga bulan sudah Mas Umar bekerja di warung Cak Dikin. Mas Umar sudah merasa mampu untuk mandiri. Tabungannya pun cukup. Dia ingin meneruskan tahap strategi bisnis selanjutnya. Dia segera minta izin undur diri dan terus terang bilang pada Cak Dikin untuk membuka usaha sendiri. Cak Dikin sebenarnya merasa berat hati melepas Mas Umar. Tapi dia pun ingin melihat Mas Umar maju, kalau bisa melebihi dirinya, tanpa takut tersaingi.
Gerobak dorong bertuliskan “Bubur Kacang Ijo Mas Umar” telah selesai bersama seorang tukang. Hari-harinya pun disibukan dengan berdagang keliling bubur kacang ijo. Dari pagi hari sampai menjelang Zuhur. Langganannya pun semakin banyak, terutama warga di perumahan. Seiring bertambahnya tabungan yang ia miliki. Bahkan dia pun mulai membuka privat mengaji pada malam hari. Satu-satunya keahlian yang dimiliki Mas Umar sebelumnya. Dunia boleh dimiliki tapi jangan dimiliki oleh dunia. Bahkan seharusnya orang-orang yang berimanlah yang menguasai dunia. Bila tidak dunia akan rusak di bawa orang-orang durjana (Sentoso, 110:2006).
Meskipun Mas Umar belum menjadi orang kaya. Kurang dari dua bulan dia telah mampu menanggung biaya SPP lima orang anak SD yang tak mampu serta sedikit bantuan untuk beberapa orang sekitar.
Setelah membaca Al-Quran sebentar, jam lima tepat Mas Umar mendorong gerobaknya. Pagi masih agak gelap. Dia mencoba berjualan di perumahan yang baru. Sambil menyusuri jalan raya, Mas Umar teringat akan bapak dan emaknya yang telah mendahului untuk selamanya. Mas Umar sangat rindu akan mereka berdua. Apakah sekarang mereka bahagia di alam sana? Dia terbuai kerinduan yang sangat pada orang tuannya. Samapi tidak disadarinya suara truk yang ngebut dari arah belakang…
“Bruaakkk…!!
“Allaahu Akbar!!! Itulah pekikan spontan yang sepat dia ucapkan. Sopir truk yang tadinya ngatuk pun segera tancap gas. Meninggalkan sosok tubuh yang terkapar bersama sebuah gerobak yang remuk. Namun ada bau wangi yang menyeruak di antara ceceran darah dan tumpahan bubur di jalanan. Melayang bersama ruh dan impian yang suci.
Salah satu kutipan cerpen yang sangat panjang, tapi ini semua saya sajikan untuk para pembaca agar mendapat pengalaman tidak hanya mendengar beberapa kalimat yang sudah terpahami maknanya oleh saya. Cerpen “Mas Umar” adalah salah satu karya yang dapat mengubah tokoh utama beberapa derajat dalam memperbaki hidup yang lebih mulia. Awal mulanya kekeyaan hanyalah ketamakan belaka, tapi setelah Allah membukakan pintu hidayah bahwa kekayaan harus dimiliki oleh orang yang beriman bukan dengan orang yang dapat merusak dunia dengan keserakahan tanpa mau peduli pada sekitarnya.
Ini adalah salah satu dakwah dari santri bernama Arif Budi Sentoso dan permainan penama yang begitu dahsyat. Saya kira siapapun bisa menjadi Mas Umar tinggal daya dan upaya, saya yakin inin tidak sekedar fiksi belaka. Tapi fiksi yang satu ini dapat menggerakan para pembaca untuk “Ceng” atau merubah dirinya beberapa derajat apabila ditelaah dengan baik dan positif. Pembelajaran yang menarik serta ada keritik pada pekerjaan manusia selama ini, apabila didera sibuk terkadang kita akan lupa kewajiban awal kita. Tapi tidak untuk Mas Umar, tetap menjalankan tugasnya sebagai tamir mesjid dan bahkan menambah pekerjaannya dengan membuka privat baca Al-Quran. Apabila tidakan ini ada dalam dunia nyata betapa ia mulia, tapi saya yakin ada kerena kebenaran fiksi tidak sekedar fiksi saja.
Kebenaran fiksi dapat sanggup termunculkan dikehidupan manusia, karena fiksi berasal dari kisah nyata penulis.