catatan perjalanan

February 25, 2008

Kita Evaluasi Diri

Filed under: Petualangan Kita

Kita Evaluasi Diri

Saefullah Cavin Al-Abarokms

Ketika kita melihat saudara kita yang sempat terbujuk dengan keadan yang mengharuskan keluar dari agamanya. Apakah kita akan mengecap mereka kafir, saya kira kurang bijak. Saya kira kita tidak perlu menyalahkan mereka, justru kita harus bertanya kenapa mereka harus keluar dari agamanya? Dan sudahkah kita bertanya tetang penyebabnya? Kalau belum jangan salahkan mereka. Kalau sudah apa penyebabnya? Apa karena kenyamanan? Atau kebutuhan hidup? Atau mungkin yang lainnya yang seharusnya kita kaji, jadikan evaluasi buat kita yang awalnya seagama.

Memang tidak banyak saudara kita yang terjebak dengan masalah perut, hingga ia berani untuk mempertaruhkan keyakinannya demi perut. Saya yakin semua umat Islam mempunyai iman tapi apakah yang diterangkan dalam cerpen “Mas Umar” karya Sentoso, Arief Budi (104:2006). Tak heran juga kalau orang menukar imannya dengan sejumlah beras dan beberapa bungkus mie. Kemudian orang-orang menyalahkan umat lainnya. Memang kemana mereka saat saudara-saudaranya membutuhkan  makan? Kelaparan dan kedinginan. Pantas kalau hati yang lemah itu condong atas kemurahan hati orang lain. Jangan cuma salahkan orang, salahkan diri yang tak mau ambil peduli. Iman memang tak kenal perut kenyang dan lapar, tapi mungkinya butuh makan. Mukmin juga manusia.

Ini mungkin salah satu eveluasi kita yang bisa saja, tak mau ambil peduli dengan saudara kita yang seiman dan tak mau mengarahkan mereka pada kebutuhan mereka. Padahal kalau kita kaji lebih dalam tentang zakat, saya kira saudara kita yang seiman tak akan kelaparan. Saya yakin dari sekian umat Islam banyak yang kaya, yang sanggup mengeluarkan 2,5 dari penghasilkan dan umat Islam di Indonesia ini bisa dikatakan agama mayoritas. Tapi aneh yang peduli kok agama minoritas, terlepas bentuk kepedulian itu untuk membujuk umat Islam.

Kita juga jangan sampai seperti tokoh Mas Umar yang terdapat dalam cerpen “Mas Umar” bahwa hidup dan berekerja cukup dengan ikhlas. Tapi ikhlas juga perlu untuk dihargai agar orang-orang yang merasa mempekerjakan diri kita tahu diri, bahwa bekerja perlu keringat dan bayaran untuk keringat juga perlu untuk makan serta istirahat yang nyaman. Apalagi dengan hidup di jaman sekarang ini segala sesuatu pasti dijadikan bayaran sampai kita kalau ke kota barak saja bayar. Yang mingkin kalau hidup di kampung yang namanya berak itu cukup di kali saja atau di cubluk atau di WC umum yang dibuatkan dengan dana pemerintah kalau ada. Atau kalau ingin nikmat nebeng kerumah tetangga yang dianggap mampu mempunyai WC enak, tapi kan orang tersebut tidak selamanya suka menerima kita, mungkin saja jadi runyam masalahnya kalau kita banyak nebeng. Karena perasaan tak bisa disembunyikan terus.

Sehingga tokoh Mas Umar telah diberikan hidayah oleh Allah yang awalnya  ketakutan  terlena akan gemerlap harta. Juga akan istri, anak atau tahta, yang itu semua pitrahnya dunia. Namun ternyata itu semua bukan berarti harus dihindari.  Guru ngaji seperti Mas Umar mungkin tidak butuh bayaran saing ikhlasnya, tapi dakwah agak perlu materi. Dakwah yang bermartabat juga perlu cara yang terhormat. Dakwah perlu kemandirian ekonomi, bukan mengemiskan diri. Bila tidak, dakwah akan kehilangan berkahnya, ulama tak lagi berwibawa, umat bisa gocang keyakinannya(Santoso, 104: 2006). Sehingga guru nagaji seperti Mas Umar juga perlu kaya, apalagi dalam dirinya niatan untuk membantu saudaranya yang seiman, sangat bersemangat setelah menemukan peristiwa yang memilukan.

Berpijak dari pengalaman yang telah dilaluinya Mas Umar mencoba mengubah hidupnya dengan berdagang bubur kacang ijo dan membuka privat baca Quran atau ngaji pada malam hari. Mas Umar pun memiliki tekad boleh punya banyak uang di tangan, tapi jangan dimasukan kehati. Dunia boleh dimiliki, tapi jangan dimiliki oleh dunia. Bahkan orang-orang yang berimanlah yang berhak menguasai dunia. Bila tidak dunia akan semakin rusak di bawah orang-orang durjana. Dalam prinsip yang pernah kita dengan kita jangan mau kaya tapi kita harus kaya. Artian itu kita jangan sampai ketika diberi kesempatan kaya hanya bisa memperkaya diri kita, disekitar kita tak dipedulikan. Setelah orang sekitar berpaling karena masalah kelaparan, kita menyalahkan penyebabnya tanpa mengoreksi langkah dan kepedulian selama ini. Sebelumnya penulis mohon maaf dengan tuisan ini semoga jadi jawaban bagi umat Islam yang kaya, yang  belum peduli dengan saudaranya yang lemah.

Pesta Makanan

Filed under: Petualangan Kita

Saefullah Cavin Al-Abarokms Jalan menuju ke indahan banyak cara untuk diciptakan orang dengan aneka nama termasuk pesta. Pesta yang selalu identik dengan keindahan bahkan kesesatan didalamnya kadang ada, kadang tidak tergantung penyajian pesta itu sendiri. Namun penyajian perta kali ini agak berbeda, kami hanya sekedar makan-makan sesuai kesepakatan bersama, sesuai keingin bersama baik yang telah lama kami janjikan atau secara mendadak kami buat. Sekumpulan para pemuda yang bertemapt di asrama The Flawers, kali ini malam senin, tepatnya tanggal 24 setelah usai mengghadiri acara bedah kampus di Universitas Indonesia dari mulai pagi sampai sore. Kami baru tiba di tempat kami pukul 18.40, namun sebelum kami tiba ke tempat kami. Kami sempatkan berhenti di pasar Ayer tepatnya pukul 17.30, kami manfaatkan untuk berbelanja, teman kami Heru mempunyai ide kalau uang sisa jajan kami dibelikan martabak Bangka dan martabak telor. Tidak banyak martabak yang kami beli Cuma dua Loyang saja, tapi agak berbeda nunsanya walaupun hanya dua Loyang. Karena martabak yang kami beli adalah martabak yang benuansa pertemanan kalau yang sering diungkapkan MT dalam tulisannya. Kami bersepakat mala mini untuk tidak kembali ke asrama masing-masing, kami bersepakat untuk menyantap makanan itu di asrama The Flawers. Ketika tiba bus yang kami tumpangi di bumi Nurul Fikri yang menjadikan jantung hidup, kami langsung menurunkan peserta kunjungan untuk melaksanakan shalat magrib, setelah usai para tholib diminta untuk kembali ke asramanya masing-masing. Sepertinya benak mereka yang berjanji akan menyantap martabak di asrama The Flawers, sama seperti saya ingin cepat-cepat menyantap martabak. Salah satu kasus penguat yaitu ketika martabak dibuka dari bungkusannya semuanya untuk perseta pesta makan dalam setegah jam tak henti-hentinya mengunyah walaupun martabaknya sudah habis. Entah apa ya yang dikunyah? Tapi yang jelas martabak yang kami santap cukup puas. Kerena dalam pesta tersebut tidak hanya martabak yang kami nikmati tapi guyon yang kami nikmati. Dari mulai guyon yang cerdas, mencerdaskan, sampai dicerdaskan. Sajaian pesta dirasakan oleh peserta pesta makan The Flawers itu berlangsung sampai pukul 09.00 itu yang dirasakan oleh saya. Tepi bagi yang masih ingin melek itu sampai pukul 10.00. Entah ya? Kerena saya sempat bangun pukul 03 peserta pesta The Flawer masih menikmatinya dengan nonton bola. Saya bukan tidak menghargai teman, tapi saya sedang menghargai ngantuk saya. Jadi saya tidur lagi karena esok saya harus piket. Oh ya maaf teman-teman yang tinggal di asrama Marbela tak sempat kami undang. Karena kami tak sempat membuat undangan pestanya, lagian acaranya juga dadakan. sekali lagi maaf ya.

Antara Puisi dan Prosa

Filed under: Petualangan Kita

Antara puisi dan prosa

Saefullah Cavin Al-Abarokms

 

Pada perlombaan menulis puisi Pelestina kemarin entah penulis lupa tanggal dan hari penyenggaraan lomba tersebut. Yang jelas penyelenggaraan lomba penulisan puisi diadakan untuk momen menyambut tamu NF kalau tidak salah dari KISPA. Jelasnya saya diminta oleh panitian penyenggara acara tersebut, untuk menjadi juri lomba puisi, sebenarnya berat hati ini untuk menjadi juri kerana untuk menilai puisi di masa sekarang ini, tidak jelas patokan menilai tulisan puisi. Walau saya genar menulis puisi belum tentu gemar menilai puisi dalam artian menilai secara pendekatan konteks sastra secara utuh, baik dalam pendekatan struktruralisme, pendekatan persepsi sastra, dan pendekatan-pendekatan lainya yang menyangkut telaah teks sastra serta apresiasi sastra.

Saya menilai puisi baru tataran rasa saya pribadi, yang saya lihat pada keindahan kata, konkrit kata, Familiars kata dan susunan puisi yang dianggap menarik oleh saya. Karena ketika saya diajarkan tentang menulis puisi oleh dosen saya Moh.Wan. Anwar. Dia mengajarkan saya ketika puisi ditulis terangkai dengan memperhatikan  konkrit katanya, familiars katanya  yang intinya kata-kata puisi tersebut ditulis dengan tidak vulgar seperti dalam catatan harian kita, seperti dalam pesanan prosa kita.

Kata Moh. Wan Anwar kalau mau menulis puisi, ya puisi saja tidak usah disamakan dengan prosa. Seorang penyair juga perlu mengenal etika menulis, sehingga  tulisannya tidak vulgar, menggelegar seperti tak terkendali. Walaupun media tulis adalah salah satu sarana penulis untuk mengungkapkan batin tulisan, tapi ini akan berakar pada citraan puisi si penulis kalau tidak dikendalikan. Ya penulis mengakui selama ini belum menuju kearah tulisan puisi yang diungkapkan di atas, tapi ketika menuju ruang lomba insya Allah hal-hal seperti itu akan saya perhatikan yang dimulai dengan tulisan di bloger saya.

Memang kalau kita lihat beberapa tulisan penyair terkemukan yang hadir di media Nasional bahkan regional. Kita sempat bingung, kita harus memakai gaya siapa dalam menulis puisi? Bentuk apa saja yang selalu disajikan, dari mulai kata-kata yang ngalir (mudah dimengerti) sampai dengan tulisan yang absut atau sur-realis (tidak mudah dipahami begitu saja layaknya puisi mengalir). Tapi kita tidak usah terjebak dengan tulisan mereka mulailah dari apa yang kita pahami, mulai lah dari apa yang kita kuasai, kita punya. Sebab puisi tercipta dari mulai terikat sampai ke hal yang tidak terikat. Kalau yang saya ungkapakan itu persepsi saya selaku penilai.

Ada beberepa kemungkinan yang akan terjadi pada beberapa orang ketika mengikuti, mendampingi anak didiknya dalam perlombaan. Ada satu kejanggalan dalam melakukan penilaian hasil lomba yang telah diselenggarakan. Makanya ketika selesai ada pendapat ini pasti jurinya disogok, saya katakan ini tidak ada kaitan dengan sogok menyogok, tapi yang jelas ini berkaitan denga rasa si juri itu sendiri. Mengapa demikian, saya ungkapkan karena ini berkaitan dengan pengalaman saya, ketika itu seorang penulis sekaligus pemerhati dan penggiat sastra yaitu Arif Senjaya. Kita tidak usah malu untuk mencoba tampil dalam perlombaan yang waktu itu ada perlombaan peksiminas di Lampung, tidak ada kata berpengalaman atau tidak berpengalaman. Juri dalam menilai berdasarkan rasanya, berdasarkan prediksinya yang saat itu pasti terjadi kemungkinan-kemungkinan pada peserta lomba yang tidak mungkin terjadi. Ia menuturkan ketika ada pembaca puisi dengan nada teratur, sesuai teks dan serba anggun disampaikan pada penonton. Tapi ada salah satu peserta membaca puisi dengan nada tidak teratur atau mungkin menyimpang dari yang sesungguhnya, tapi kok bisa menang. Itulah kekuatan rasa

Maaf apabila ada sesautu hal dalam menilai hasil tulisan anda yang ikut lomba tapi ini jujur berdasarkan rasa saya. Yang saya dapat dari pengalaman jangan putus asa dalam mengikuti lomba, sutu saat akan ada peluang menjadi pemenang atau anda yang menjadi pemenang. Tapi sebenarnya semua peserta lomba sudah menjadi pemenang dalam menaklukan keraguan diri yang ada pada diri peserta lomba, tinimbang orang-orang yang mau ikut lomba, tapi tidak jadi. Sungguh orang tersebut sudah kalah beberapa langkah. Saya selaku pemerhati, penilai meresa bahwa tampilan puisi peserta lomba bagus semua walau pun, diri saya merasa tersiksa untuk memberikan keputusan dalam menentukan siapa pemenangnya. Wallahu alam.  

Semoga Tahun 2008 Ini UN Pada Jujur

Filed under: Petualangan Kita

Semoga Tahun 2008 Ini UN Pada Jujur

Saefullah Cavin Al-Abarokms.

 

Untuk meningkatkan kualitas kelulusan sekaligus mencetak SDM bermutu, hendaknya dimulai dari bangku sekolah. Salah satunya berlaku jujur dalam pelaksanaan UN (Ujian Nasional). Tidak menuntup kemungkinan ini pada semua unsur  yang terlibat, mulai siswa, pengawas, pihak sekolah, Dinas Pendidikan dan pihak terkait lainya harus memerangi praktik kecurangan dalam pelaksanaan UN. Itulah kalimat yang dikutip di Fajar Banten sabtu 8 Desember 2007.

Kalimat jujur yang diungkapkan dalam media tersebut semoga terealisasi dengan baik pasalnya, pada pelaksanaan UN kemarin banyak, sekolah yang melakukan ketidak jujuran atau untuk lebih jelasnya kecurangan membocorkan soal UN. Persoalan ini sudah tidak menjadi rahasia umum lagi di masyarakat, Indonesia dan ini di ungkapkan oleh Yunan” Berdasarkan pengalaman sebelumnya celah-celah kecurangan UN bisa terjadi pada saat pengambilan soal dari Dinas Pendidikan Kabupaten kesekolah, rekayasa jumlah peserta UN setiap ruangan, dan sisa soal UN disimpan di ruangan kepala sekolah”.

“Ada jeda waktu sekitar dua jam pada saat pengambilan naskah soal dari Disdik Kabupaten ke sekolah. Waktu 2 jam itulah biasanya dimanfaatkan oknum yang kurang bertanggung jawab membocorkan soal (membuat kunci jawaban)”. Inilah ungkapan Yunan yang diungkapkan di Fajar Banten yang perlu dipikirkan kedepan setelah dampak kecurangan terus berlanjut di sekolah tersebut.

Apabila kecurang UN terus terulang, bagaimana dengan mutu kelulusan generasi sekolah tersebut. Tentunya ia lulus dengan tidak bisa apa-apa artinya, keilmuan yang ia jawab tak sempat dihapal, tak sempat diujikan secara tidak langsung kemampuannya tak akan pernak terpakai karena ilmu di sekolah tidak semuanya terpakai dimasyarakat, uji coba yang menantang di UN ini, malas untuk menghapal, malas bekerja keras karena aka dibantu oleh oknum yang menyalahgunakan  soal UN tersebut.

Adapun para orang tua wali saat ini kurang berterima dengan anaknya yang tidak lulus. Ini perlu ada kerjasama bahwa kelulusan siswa bukan ditentukan oleh guru saja. Kelulusan siswa bisa tercapai itu karena ada koordinasi dengan orang tua wali siswa, orang tua wali juga salah satu motivasi bukan menyerahkan sepenuhnya pada guru saja. Bagaimana bisa tercapai kalau anaknya dirumah tidak  dimotivasi. Yang paling disayangkan tidakan masyarakat membiarkan adanya pengerusakan gedunng, tindakan kekerasan pada guru yang terjadi pada tahun yang lalu karena oknum yang tak berterima apabila tidak lulus. Inipun perlu  dibereskan di masyarakat, bentuknya tolong pikirkan para pembaca yang budiman.

Akan tetapi tidak semua sekolah terlibat curang masih, ada yang berlaku jujur dalam proses pengerjaan UN kemarin. Harapan penulis sekolah yang telah melakukan kecurangan seharusnya di UN sekarang ini secepatnya berubah pola untuk mendapat nilai dengan jujur. Kalau ini terus dilakukan maka, niatan untuk meningkatkan mutu anak tidak akan tercapai, agar siswa-siswi kelas satu, kelas dua yang sedang mengikuti proses belajar saat ini lebih berjuang untuk meraih kelulusan yang murni. Tanpa harus membebani para guru untuk membantu siswa-siswinya lulus, padahal tak seharusnya untuk diluluskan. Mulailah  belajar pada sekolah yang masih mencoba meningkatkan hasil usahanya dengan belajar.

Kalau ini dibiarkan terus, terus terang ini akan menjadi penyakit menggerogoti para guru, dan yang tenang adalah para siswa-siswinya yang belaku seperti raja. Lama-lama gurunya dilunjak sama siswa-siswi karena anggapan siswa-siswi ngapain belajar toh pada akhirnya pasti lulus kok. Terus yang diungkapkan Yunan dalam Fajar Banten meminta masyarakat untuk ikut mensuksekan UN dengan jujur. Semoga saja sejalan dengan permintaan Yunan dan kita semua bukan hanya selogan belaka. Ingat pesan bang Napi ada niat ada kesempatan baik negatif maupun positip. Tinggal dipilih saja, tapi yang jelas Alabarok mendoakan semua peserta UN lulus dari hasil kerja keras siswa-siswinya.

Sebelumnya Alabarok mohon maaf apabila ada yang tersinggung, tapi ini semoga menjadi motivasi siswa-siswinya, para guru dan semua unsur yang terkait agar jujur serta lulus dengan hasil kerja kerasnya. Tentunya dengan persiapan yang betul-betul matang. wasalam

 

 

February 20, 2008

Kebenaran Fiksi Santri Pilihan Pada “Mas Umar” Karya Arief Budi Sentoso

Filed under: Essai

Kebenaran Fiksi  Antologi Cerpen Santri Pilihan pada “Mas Umar” Karya Arief Budi Santoso

Saefullah Cavin  Al-Abarokms

 

“Mas Umar” adalah salah satu wahana kehidupan yang terjadi dalam kahidupan kita, atau hanya fiksi belaka. Tetapi kita selaku manusia yang mempunyai jiwa hablum minallah, mempunyai jiwa hablum minanas. tentunya ini berkaitan dengan kebutuhan dunia dan akhirat, secara tidak langsung berdampak pada proses manusia dalam menggapai dunia itu sendiri. Apabila dalam proses pencarian dunia atau dibaratkan keinginan akan dunia, mungkin bisa saja tahta, wanita, kekayaan, ilmu dunia dan lain sebagainya yang berkitan, itu tidak dengan jalan baik atau atas dasar rido Allah SWT. Tentu jalan menuju akhirat agak tersendat atau tidak sama sekali menggapainya wallah hualal bisoab dan selalu terjadi pada proses manusia.

Akan tetapi agak berbeda dengan tokoh utama bernama “Mas Umar” yang terjadi dalam “Mas Umar” ia mencoba memproses hidupnya dalam menggapai akhirat tanpa mempedulikan dunia atau harta kekayaan, tahta, wanita, dan sejenisnya. Baginya sudah cukup hidup dalam sebuah mesjid menjadi Kaum atau petugas, penjaga, pembersih masjid serta mengamalkan ilmu agamanya pada saat sore hari dalam praktinya mengajari mengaji. Walaupun ia mengajar di sekolah Dinyah, dalam pikirannya tak dapat gaji tak masalah, asalkan ada untuk makan saja. Pasalnya ketika ia ditawari anak gadis tetangganya dengan tanpa mengharap macem-macem, dari dirinya. Mungkin kita baca kutipannya “ Entah kenapa di usianya yang menjelang kepala tiga, Mas Umar belum juga mencari istri. Padahal, sudah banyak ibu yang datang menawarkan anak berserta tempat tinggal baginya. Ada juga yang berani menawarkan diri. Secara diam-diam, terang-terangan, atau lewat orang. (101:2005) itulah kalau sudah terpesona pada hati. Tak peduli bahwa Mas Umar hanya seorang ta’mir masjid atau guru ngaji.

 “soal jodoh itu ada ditangan tuhan. Bukan urusan manusia” jawab Mas Umar.

“loh kalau tidak diambil-ambil berarti kan ditangan tuhan terus” jawab temannya.

“ ya engga nanti juga . kalau sudah waktunya nanti kan dikasihkan” jawab mas Umar.

“Iya, dikasikan ke orang lain karena tak diambil-ambil” kata temannya

“Jodoh itu seperti rejeki. Sudah ditentukan baginya masing-masing orang, nggak akan keliru. Kalau jodoh pasti ketemu. Jodoh itu soal panggilan hati. Kalau terpanggil ya belum dituruti. Walau dipaksa sama wanita cantik dan kaya, kalau tidak sreg ya tidak jadi. Tapi kalau hati sudah ketemu, meski tampilan pas-pasan pun tidak bisa ditawar lagi. Itu bagi yang diperkirakan masih idelais.

Dalam kitipan selanjutnya

            Salah satu pintu hidayah bahwa hidup tidak sekedar ikhlas dan tanpa menggharap materi tapi ini terjadi pada Mas Umar “ Namun bicara tentang materi akhir-akhir ini Mas Umar agak resah juga. Bukan mengalami ia kesulitan utang. Namun begini ceritanya…..

Pada suatu malam, ada seorang abang becak datang menemui mas Umar. Memang selama ini banyak yang senang menemuinya. Sekedar ngajak ngobrol, curhat, ‘konsultasi’, atau ada keperluan tertentu. Abang becak itu datang bersama istrinya yang tampak sangat kesakitan di atas becaknya.

“Mas…. Tot-tolong Mas istri saya, toloong…..”

  “sabar ya, Pak, sabaar. Apa yang saya bisa tolong?”

“Istri saya mau melahirkan. Sudah enggak tahan….”

“Ya Allah! Tapi saya ‘nggak bisa membantu orang melahirkan. Apa yang bisa saya tolong?”

“Anu … eeng… tolong saya butuh biaya buat oprasi di rumah sakit. Mas Umar punya duit ‘gak? Atau tolong dicarikan pinjaman. Saya janji akan saya langsung kembalikan jika punya uang. Atau setelah melahirkan nanti akan carikan utang untuk membayarnya. Kalau perlu bawa beca saya sebagai jaminan… “

Ternyata, istri abang becak itu sudah saatnya untuk melahirkan. Namun ia kesulitan mengeluarkan cabang bayi pertamanya itu. Menurut keterangan seorang bidan, istrinya harus dibedah cesar. Nah, dia datang minta bantuan Mas Umar, setelah ditolak rumah sakit karena tak punya jaminan dan putus asa cari pinjaman uang. Inilah masalahnya. Mas Umar sendiri tidak mempunyai uang dan waktu itu sudah tengah malam. Di mana Mas Umar mau mencari pinjaman? Bahkan sampai jutaan! Akhirnya setelah menggedor dari pintu ke pintu, belum sempat uang itu terkumpul, istri abang becak itu keburu menghembuskan nafas penghabisan di serambi mesjid. Diiringi raungan tangis abang becak, suminya. Di dapan mata Mas Umar.

“innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun…,” hanya ucapan itulah yang bisa diberikan Mas Umar, serta beberapa tetes airmatanya.

Mas umar tambah benar-benar percaya bahwa seorang ibu berkorban airmata, darah bahkan nyawa dalam melahirkan anaknya. Peristiwa itu selalu terbayang di pelupuk mata Mas Umar (104:2005). Menghantui pikirannya. Berhari-hari hingga shalatnya tidak khusyu’ lagi. Mengajarpun tidak konsentrasi. Ritme hidupnya jadi tidak teratur. Dia membayangkan seandainya saja saat itu menjadi orang kaya. Pasti wanita itu bisa diselamatkan bersama bayinya. Tidak menjadi korban kemiskinan tukang becak dan guru ngaji sepertinya. Juga oleh ketamakan kapitalisme rumah sakit, serta mereka yang tak mempedulikan hak-hak asasi yang paling manusiawi sekalipun.

Selama ini Mas Umar takut akan generlap harta. Juga akan istri, anak atau tahta, yang itu semua adalah firahnya dunia. Namun ternyata itu semua bukan harus dihindari Mas Umar merasa selama ini dia menjadi seorang pengecut. Guru ngaji seperti Mas Umar mungkin tidak perlu bayaran saking ikhlasnya, tapi dakwah agak perlu materi. Dakwah yang bermartabat perlu cara yang bermartabat. Dakwah perlu kemandirian ekonomi, bukan mengemiskan diri. Bila tidak, dakwak akan kehilangan berkahnya, ulama tak lagi berwibawa, umat bisa gocang keyakinannya.

Ah, Mas Umar jadi malu sama gusti Allah. Rejeki itu ya sepeti jodoh. Harus dijemput kedatangannya. Memang sudah dibagi-bagi jatahnya untuk tiap orang. tapi kalau tidak diambil-ambil yah angus atau dialihkan ke orang. mengambilnya dengan usaha, bekerja. Ditambahi ‘keras’ kalau perlu.

Dia jadi teringat sebuah peristiwa dengan seseorang yang pernah shalat di mesjidnya. Orang itu menawari sebuah peluang bisnis. Syaratnya dia harus masuk kenggotaan sebuah MML, MLM, LML, atau entah apa namanya. Orang itu begitu gigih merayu Mas Umar. Tak sekali dia datang beberapa kali bahkan. Bicaranya juga begitu memikat.

Namaun ia baru sadar akan pentingnya sebuah impian. Memang segala sesuatu bisa terwujud dari sebuah impian, imajinasi. Bahkan kata sijenius Einstein; imajinasi lebih berarti dari sekedar ilmu pasti. Sekarang Mas umar ingin punya banyak impian. Tapi bukan untuk dirinya sendiri. Ia ingin bisa menolong banyak orang. orang-orang sepertinya abang becak  dan istrinya dulu itu. Juga para pengemis, gelandangan, anak-anak yatim, janda-janda tua… bukankah mereka juga manusia yang mempunyai hak hidup yang layak? Ah, mulia sekali hatinya.

Mas Umar segera cari strategi untuk beraksi. Dia mulai memutar otak agar cepat menjadi kaya. Tentunya dengan jalan yang halal, bukan cari pesugiahan. Mencari-cari usaha apa yang kira-kira bisa segera dilakukan. Dia kembali mengingat sebuah kisah Nabi berhijrah ke Madinah. Saat itu Nabi mempersaudarakan antara orang-orang Muhajirin dari Makah dengan Anshar dari Madinah. Dalam persaudaraan itu, ada seoarang Anshar yang kaya raya bermasud membagi separoh hartanya untuk saudara Muhajirinnya. Kalau perlu, salah seorang dari dua istri cantiknya akan diceraikannya agar bisa dipilih dan dinikahi saudaranya itu. Namun dengan halus si Muhajirin menolak tawaran saudara Asarnya. Dia hanya minta ditujukan arah menuju pasar. Dia ingin berkerja dengan tangan dan keringatnya sendiri. Dikemudian hari orang tersebut menjadi salah seorang yang terkaya di Madinah. Benar-benar luar biasa, piker Mas Umar. Dia ingin seperti si Muhajirin itu. Berarti Mas Umar harus segera pergi ke pasar! (Santoso, 107:2006).

Di depan pasar Mas Umar memilih salah satu yang cocok dengan naluri bisnisnya. Yang tidak begitu perlu banyak modal tapi laris. Cepat laku dan cepat kembali modalnya. Banyak untungnya… apa ya? Sepertinya pedagang makanan bisa bakso, mie ayam, sate, bubur kacang ijo… ya, bubur kacang ijo! Di salah satu kios pasar ada penjual bubur kacang ijo, kebetulan Mas Umar pun kenal penjualnya; bubur kacang ijo Asli Madura Cak Dikin. Jika Jumatan dia shalatnya di masjid Mas Umar. Mereka pun pernah ngobrol bareng. Dia pun menuju kios itu.

Mas Umar mencoba mecicipi setelah Cak Dikin mempersilahkan. Mas Umar dalam benaknya bubur kacang ijo. Cukup kacang ijo, ketan hitam, kelapa untuk santan… Warung Cak Dikin juga laris. Berarti cepat laku dan cepat kembali modalnya. Kayanya untungnya juga banyak begitu benak Mas umar.

Mas Umar bertanya “Ee… kira-kira jika saya ikut ‘mbantu-mbantu Cak Dikin di sini boleh ‘nggak ya? Saya ingin belajar dagang sama Cak Dikin. Saya ‘nggak minta bayaran kok. Ini kalau Cak ‘nggak keberatan…

Mulai pagi hari itu juga setelah Cak Dikin menyatakan menerimanya, Mas Umar mulai menyingsingkan lengan bajunya. Mankok dan gelas yang masih di atas meja langsung dibawanya ke belakang. Segera di cucinya peralatan yang kotor (Sentoso, 109:2006).

Hari demi hari Mas Umar semakin rajin bekerja di warung Cak Dikin. Sedari pagi membantu memasak bubur, melayani pembeli, mencuci memkok dan gelas. Mas Umar sudah mengerti memasak bubur yang lezat. Bagaimana cara menanak kacang ijo dan ketan hitamnya, menjaga temperatur apinya atau meramu bumbunya.

Minggu pun berganti bulan. Tanpa terasa tiga bulan sudah Mas Umar bekerja di warung Cak Dikin. Mas Umar sudah merasa mampu untuk mandiri. Tabungannya pun cukup. Dia ingin meneruskan tahap strategi bisnis selanjutnya. Dia segera minta izin undur diri dan terus terang bilang pada Cak Dikin untuk membuka usaha sendiri. Cak Dikin sebenarnya merasa berat hati melepas Mas Umar. Tapi dia pun ingin melihat Mas Umar maju, kalau bisa melebihi dirinya, tanpa takut tersaingi.

Gerobak dorong bertuliskan “Bubur Kacang Ijo Mas Umar” telah selesai bersama seorang tukang. Hari-harinya pun disibukan dengan berdagang keliling bubur kacang ijo. Dari pagi hari sampai menjelang Zuhur.  Langganannya pun semakin banyak, terutama warga di perumahan. Seiring bertambahnya tabungan yang ia miliki. Bahkan dia pun mulai membuka privat mengaji pada malam hari. Satu-satunya keahlian yang dimiliki Mas Umar sebelumnya. Dunia boleh dimiliki tapi jangan dimiliki oleh dunia. Bahkan seharusnya orang-orang yang berimanlah yang menguasai dunia. Bila tidak dunia akan rusak di bawa orang-orang durjana (Sentoso, 110:2006).

Meskipun Mas Umar belum menjadi orang kaya. Kurang dari dua bulan dia telah mampu menanggung biaya SPP lima orang anak SD yang tak mampu serta sedikit bantuan untuk beberapa orang sekitar.

Setelah membaca Al-Quran sebentar, jam lima tepat Mas Umar mendorong gerobaknya. Pagi masih agak gelap. Dia mencoba berjualan di perumahan yang baru. Sambil menyusuri jalan raya, Mas Umar teringat akan bapak dan emaknya yang telah mendahului untuk selamanya. Mas Umar sangat rindu akan mereka berdua. Apakah sekarang mereka bahagia di alam sana? Dia terbuai kerinduan yang sangat pada orang tuannya. Samapi tidak disadarinya suara truk yang ngebut dari arah belakang…

“Bruaakkk…!!

“Allaahu Akbar!!! Itulah pekikan spontan yang sepat dia ucapkan. Sopir truk yang tadinya ngatuk pun segera tancap gas. Meninggalkan sosok tubuh yang terkapar bersama sebuah gerobak yang remuk. Namun ada bau wangi yang menyeruak di antara ceceran darah dan tumpahan bubur di jalanan. Melayang bersama ruh dan impian yang suci.

Salah satu kutipan cerpen yang sangat panjang, tapi ini semua saya sajikan untuk para pembaca agar mendapat pengalaman tidak hanya mendengar beberapa kalimat yang sudah terpahami maknanya oleh saya.  Cerpen “Mas Umar” adalah salah satu karya yang dapat mengubah tokoh utama beberapa derajat dalam memperbaki hidup yang lebih mulia. Awal mulanya kekeyaan hanyalah ketamakan belaka, tapi setelah Allah membukakan pintu hidayah bahwa kekayaan harus dimiliki oleh orang yang beriman bukan dengan orang yang dapat merusak dunia dengan keserakahan tanpa mau peduli pada sekitarnya.

Ini adalah salah satu dakwah dari santri bernama Arif Budi Sentoso dan permainan penama yang begitu dahsyat. Saya kira siapapun bisa menjadi Mas Umar tinggal daya dan upaya, saya yakin inin tidak sekedar fiksi belaka. Tapi fiksi yang satu ini dapat menggerakan para pembaca untuk “Ceng” atau merubah dirinya beberapa derajat apabila ditelaah dengan baik dan positif. Pembelajaran yang menarik serta ada keritik pada pekerjaan manusia selama ini, apabila didera sibuk terkadang kita akan lupa kewajiban awal kita. Tapi tidak untuk Mas Umar, tetap menjalankan tugasnya sebagai tamir mesjid dan bahkan menambah pekerjaannya dengan membuka privat baca Al-Quran. Apabila tidakan ini ada dalam dunia nyata betapa ia mulia, tapi saya yakin ada kerena kebenaran fiksi tidak sekedar fiksi saja.

Kebenaran fiksi dapat sanggup termunculkan dikehidupan manusia, karena fiksi berasal dari kisah nyata penulis.

  

    

Cacat Tidak Mengubah Ruang Upaya Manusia

Filed under: Petualangan Kita

Cacat Tidak Akan Mengubah Ruang Upaya Manusia

Saefullah  Cavin  Al-Abarokms 

 

Bagi ibu-ibu atau bapak-bapak atau muda mudi yang suka jalan-jalan ke kota Jakarta, pasti kita sering menemukan beberapa pengemis mengais rizki di kota ini. Dengan kemampuan alamiah para pengemis seolah menjadi aktor di jalanan bersaing dengan pedagang asongan. Terlihat beberapa pengemis dalam menjalankan tugasnya tidak seragam dalam bertindak, mungkin ada yang seperti orang pincang, berwajah kumal, memanfaatkan anak kecil, orang buta, dan bentuk lainnya bermacam-macam ditemukan disana.  Aneka peran mereka mainkan namun, sayang mereka berbuat seperti itu bukan membuat sadar untuk berpikir kreatif, malah dijadikan nafkah keseharian mereka, sepertinya tak pernah ada niatan untuk berubah atau mengubah hidupnya yang lebih mulya.

Kemiskinan yang terjadi pada penyandang cacat atau karena tak mampu mengatasi kehidupan, saya yakin bukan jalan yang dianggap mulus untuk jadi pengemis atau dianggap nasib miskin. Saya pernah menonton beberapa acara di televisi yang memuncukan ide kreatif para penyandang cacat untuk mengubah hidup dengan tidak jadi pengemis. Contoh di acara yang saya tonton namun sayang, saya lupa nama acaranya. Seorang penyandang cacat mampu menciptakan lapangan kerja dengan menciptakan home Industry membuat kaligrafi  yang dibuat dari kaleng-kaleng minuman. Pera pekerja yang membatu pembuatan kaligrafi  Al-Quran itu para pekerja yang keadaan fisiknya normal, dalam artian ia seorang penyandang cacat, mampu memberikan kehidupan pada orang-orang yang keadan fisiknya mungkin lebih lengkap tinimbang dia selaku bosnya.

Inilah salah satu palajaran atau hikamah pada kita bahwa, Allah memberikan kekurangan pada hambanya, tidak semata-mata ia tidak bisa berpikir untuk maju atau berubah dari keadannya pada saat itu. Mungkin lebih tepatnya kita selaku hamba Allah, kalau mau berpijak pada ayat yang berbunyi “Allah tidak akan mengubah suatu kaum kalau kaum tersebut tidak akan mengubahnya” kalimat ini bukan selogan tapi bisa menjadi sumber inspirasi bagi manusia di muka bumi ini, untuk terus inovasi dalam hidupnya, sekalipun kegagalan atau ketak mungkinan itu terjadi. Tapi satu usaha memerlukan sebuah pengorbanan yang kelak akan jadi tolak ukur, bagi manusia yang hendak merenungkan perjuangan diri dalam meraih kesuksesannya.

Saya yakin seorang penyandang cacat yang saya ceritakan di atas tidak lantas sukses menjadi pengusahan kaligrafi Al-Quran, Ia dalam awal hidupnya tidak semulus yang kita bayangkan. Ia dalam menjalankan hidupnya penuh dengan hinan, comoohan dan lain sebagainya, tapi bagi ia sendiri hal seperti itu dijadikan pembawa semangat hidupnya untuk mengubah hidupnya. Bagaimana ketika ia hidup di pesantren, ia mencoba belajar membaca, menghapal, dan menulis bahkan sampai ia mampu mefisualisasikan imajinasinya, lewat kaleng bekas minuman. Ketika hasil karyanya selesai, ternyata  bisa terjual dengan harga Rp.100 ribu per kaligrafinya bahkan lebih.

Bahkan dari keteranganya ia dalam memasarkan karyanya, ia tidak sampai menjual langsungkepembeli, ada tetangganya yang bertindak sebagai penjual melalui si pemesan. Ini juga salah satu ruang kehidupan atau nafkah bagi masyarakat setempat. Sungguh indah sekali apabila kita rasakan dengan menikmati kemampuan si penyandang cacat tersebut. Ia bukan saja sanggup memberikan rizki bagi pekerjanya, tapi ia mampu memberikan rizki pada tetangganya yang bukan pekerjanya. Seandainya semua orang bisa menerima keadanya yang dianggap kurang, tapi tidak menutup ruang usaha yang lebih mulya dari orang yang apabila kita lihat lengakapn keadaan fisiknya, entah keadaan mentalnya. Disnilah kita bisa memetik hikmah tentang kedahsyatan ruang pikir manusia,  sanggup menembus batas dimensi runag fisik yang lengkap. Mungkin ini keagungan Allah dalam menciptakan makhluknya yang musti direnungkan makhluknya.

Sungguh kemampuan yang sangat mulya, kemampuan yang dahsyat seorang penyandang cacat sanggup mengubah roda perekonomian orang. tapi, saya pernah menonton sebuah tayangan kebohongan pengemis yang berpura-pura menjadi orang cacat dengan berbagai teknik dan gaya ia mainkan di kota pengais rezki. Awalnya mungkin orang-orang akan memandang iba dan pasti akan memberi, tapi setelah diperlihatkan pada khalayak bahwa yang menjadi orang cacat itu, bukan orang cacat, melaikan orang yang kalau dibuka kedoknya ia adalah orang yang mempunyai fisik normal. Ini salah satu penyakit manusia yang sempit dalam menyisikapi hidup dan tak pernah berkaca pada kehidupan orang yang sukses. Walaupun sulit untuk berusaha, seharusnya belajar dari kesulitan tersebut artinya kenapa sulit? Pasti aka nada pertanyaan tentang kemudahan yang mulya dimata Allah dan makhluk Allah.

Tuna Netra Sanggup Melahirkan Para Hafizd

Di pesantren tepatnya di wilayah Bogor, dikutip di Majalah Sabili seorang ulama tunanetra. Nama pesantren adalah Mambul Furqan, sebuah pondok pesantren tradisionil yang sangat sederhana. Terletak dipematang sawah yang terbentang luas sepanjang mata memandang. Tepatnya di desa Bojong Kerekhel, Leuwiliang, Bogor, Jawa Barat. Dari pondok ini telah lahir dan bermunculan sekian banyak huffaz al-Quran ternyata hasil dari manajemen dan bibanaan langsung seorang dai tuna netra, yaitu KH. Abdullah Ma’shum.

Salah seorang santrinya, sebut saja Wahyudi, yang berasal dari Banten sudah tiga tahun mondok di pesantren ini punya kesan tersendiri pada gurunya, Abdullah Ma’shun. Santri hafizh tamatan STM ini berkomentar, “Alhamdulillah, berkat bimbingan KH. Abdullah Ma’sum saya dapat menyempurnakan hafalan al-Qur’an saya dengan baik. Sebelumnya saya beberapa kali mondok di pesantren, tapi kerap kali tidak berhasil. Di pondok ini inspirasi untuk merampungkan hafalan hingga 30 juz penuh selalu menguat”

Kepercayaan masyarakat atas kemampuan KH. Abdullah Ma’shum mencetak kader-kader dai muda semakin tumbuh. Beberapa lembaga pendidikan Islam di sekitarnya, bahkan juga dari luar kota berkali-kali meminta bantuan SDM dalam bidang penghafalan al-Qur’an. Tidak berlebihan bila dai kita yang satu ini dikatakan sebagai aset umat. Keberhasilannya dalam menjalankan roda dakwahtidak hanya sebatas internal, tapi juga eksternal. Sudah enam orang nonmuslim diislamkan olehnya. Keikhlasan dalam menjalankan kiprahnya patut dijadikan teladan.

Dai yang berusia 52 tahun ini memiliki keluarga yang sangat sederhana dengan seorang istri dan empat orang anak. Walau kondisinya cacat, ia mampu melaksanakan kewajibannya sebagai kepala rumah tangga yang bertanggung jawab dengan memberikan nafkah keluarganya dari rizki yang halal. Padahal ia tak pernah memungut bayaran dari para orang tua santri atau mendapat bantuan dari lembaga dakwah nasional maupun iternasional. Untuk menutupi kebutuhan keluarga, ia merasa cukup dengan hasil olah sebidang tanahnya yang dimanfaatkan senagai garapan sawah. Hingga kini ia tetap kuat memegang prinsip bahwa manusia harus hidup dengan izzah, tidak boleh menghinakan diri dengan meminta-minta. (dilutip utuh dari majalah Sabili tanggal 19 Juni 2003).

Olimpiade Olahraga Penyandang Cacat

Malam itu saya berkumpul di rumahnya pak Pras dalam pengayaan bisnis keling, dengan mengudang pemateri dari Jakarta. Awalnya bisa-biasa saja, karena pengayaan tersebut tak jauh dengan bisnis serupa keling lainnya, tapi ketika salah satu pemateri dari bapak-bapak menampilkan CD olimpiade penyandang cacat dunia. Saya merasa ada yang berbeda dengan tempilan CD tersebut, dalam hati. Mereka saja sanggup mengubah diri mereka sampai titik harapan mereka. Apalagi kita yang mempunyai fisik lebih lengkap tinimbang mereka.

yang membuat terenyuh penulis mengenai  tampilan olimpiade tersebut, peserta olimpiade renang kalau tidak salah ada salah satu peserta yang tak memiliki kaki, tapi dia sanggup menuju finish dengan kecepatan renang melebihi orang normal. Bergitupun denga peserta olimpiade  lari penulis menyaksikan penyandang cacat yang tidak bisa menatap dunia ini. Tapi ia sanggup mengcapai garis finish dengan mulus bahkan menempati urutan pertama. Penulispun sempat menonton penyandang cacat yang tak memiliki kaki satu. Dengan kaki satu ia berlari, serupa loncatan kecil persis seperti orang yang lari dalam keadaan pincang dan melompat ke galang yang begitu tinggi.

Jangan Cemas Dengan Anak Cacat

Para ibu yang diberikan amanah oleh Allah untuk mengurus anak-anaknya jangan lah kecewa, ingat pepetah  Khalil Gibran  “anak-anak adalah laksana panah dan para orang tua dalam cinta, keindahan, kesunyian adalah busur panah. Busur panah yang membidik an kemana anak panah akan meluncur. Namun Gibran juga mengingatkan bahwa anak-anak mu bukan sepenuhnya milikmu. Mereka akan melangkah ke mana mereka mau. Kemana mereka punya cita-cita tentunya dengan dorongan para pengasuh atau orang tuanya.

Sungguh saya menulis ini tidak ada niatan untuk menyinggung tapi, harapan saya menulis ini agar dapat dijadikan pelajaran oleh manusia yang mau berpikir maju kedepan. Saya juga mohon maaf apabila ada yang tersinggung, tapi, walaupun ada yang tersinggung, semoga ketersinggungan ini bisa menjadikan motivasi hidup kedepan.

 

 

February 9, 2008

Demokrasi Gelisah

Filed under: Puisi

Demokrasi Gelisah

Saefullah Cavin Al-Abarokms

 

Seperti tak sempat terampungkan

Tugas-tugas yang ada

Karena para gelisah tak menunggu

Sudah menghujam, menelusuk

Dikala tak sampai terselesaikan

Habislah kesempatan untuk bermimpi

Malam kian bingung

Untuk beberapa menit kedetik jadi linglung

Saraf-saraf otak menjadi keram

Denyut berloncata menghantam pilar

Yang sedang dijernihkan.

Di situ berjuta masalah bertumpuk

Lagi-lagi para dedenyut

Berdemontrasi meminta ada penyelesaian

Memaksa saat itu

“kalau lah tidak!

Penjarahan jiwa-jiwa jernih di ruko-ruko

Menelusuri toko-toko

Mungkin selanjutnya moneter

Sang pemimpin mengumpulkan para hakim

Bersama dewan sidang

Tak sempat naik banding

Karena pamplet, sepanduk mengepung

Menangkap gerah para terdakwa

Dewan sidang memutuskan dari para saksi

Yang kena sangsi

Hakim menjatuhkan keputusan

Menilai perekonomian bersama politik

Perlu berjalan sebagaimana mestinya.

 

                                                Cisitu, Januari 2008

 

Hari Ini

Filed under: Puisi

Hari Ini

Saefullah Cavin Al-Abraokms

 

Hari ini tak sanggup bersama gugup

Kumengungkap kata di muka para pembicara

Hari esok

Walau tak mampu seperti dulu

Ku coba kembali memupuk kata lantas jadi permanen

Dimuka para pembaca.

Seperti sejarah Cina dunia mengakuinya

 saat ini masih tetap utuh karena referensinya

dulu sudah penuh

bukan dengan lisan

tapi dengan tulisan

yang terun temurun sebelum para kaisar dinobatkan

memerintah  

kalimat-kalimat sastra sempat tergoreskan

sempat terhapalka

hingga dalam pemerintahannya tahu akan batas kekuasannya dengan penuh

sempat ilmunya menjebol gerbang dunia.

Menggetarkan Negara adikuasa, adidaya

Dengan kalimat-kalimat takut ia kutuk tindakan uji cobanya.

 

                                                                Rangkasbitung, 2005

Berjalan

Filed under: Puisi

Berjalan

Saefullah Cavin Al-Abarokms

 

Kini berjalanlah dengan kalimat yang tak

Sempat mampu terungkapkan.

Terungkapkan dengan aneka kepedihan disela-sela gembira

menjadikan relun-relung sakti

yang menghunus hari-hari penuh gelisah

menjadi tasbih hati

dalam memenuhi hidup sandang, pangan, bersama papan

agar nanti dapat berteduh dengan istikomah

untuk memupuk naluri yang dalam janji belum terpenuhi

sebagaimana masih menebak-nebak.

Sampai tiada henti berpikir

Sebelum malaikat maut mampir

Namun dibalik itu sudahkah menghilangkan kupur, kesombongan

Dikala menggap diri paling mampu

Paling tawadhu diantara orang-orang yang tawadhu

Dan sampai manakah memperkirakan hal itu

Teragungkan dengan baik.

 

                                Flower,  Januari  2008

Aku Ingin

Filed under: Puisi

Aku Ingin

Saefullah Cavin  Al-Abarokms

 

Aku ingin belajar pada mereka

Dalam bekerja

Tak terlewatkan satu puntung rokok

Dalam menjamah besi ke besi

Untuk anak dan bini

Yang tiap hari menanti  anggaran pagi

 Walau tak cukup sang bini mencoba mensiasati

Hingga tumbuh dari generasi kegenerasi

Entah kandungan gizi berpengaruh pada mereka

Ataukah gizi mensiasati mereka untuk tetap tumbuh

Sebagaimana mestinya

Tapi Allah tak membatasi mereka untuk berpikir keritis

Ditiap usaha yang ia lakukan

Ia tetap berdagang mesti gerimis membuat orang pesimis

Tak pasti Allah memberi

Allah menghargai kerja kerasnya

Di teras rumah anak kecil menanti dengan tangis yang histeris

Sag ibu tak tega memandang anaknya

Ia terpaksa membeli.

 

                                Cisitu, Januari 2008






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Naoko M