catatan perjalanan

January 29, 2008

Kita Awali Saja

Filed under: Puisi

Kita Awali Saja

Saefullah Al-Abarokms

 

Kisah ini awali saja

Sebagaimana mestinya, kita memulai mencangkul

berjalan menurut naluri petani.

berbangglah bila itu nasib hidupmu kedepan

Tapi

Jangan bersedih ketika panen gagal

Mungkin esok

hari-hari yang menguntungkan

Tebarkan terus benih, rawat terus,

pupuk ia dengan aneka nutrisi.

Jangan biarkan hama-hama yang lalu

hinggap mengerogoti padimu.

apabila hasilmu belum ketemu terus berupaya.

apabila hasilmu dicuri orang berdo’a lah

Agar ia sadar

Ingat segala upaya kita bukan mesti miliki kita

dan bukan miliki kita.

Yang berhak memiliki hanya Allah semata

Kita hanya mengemban amanah saja.

Panen yang nyata adalah panen setelah kita berkarya

tertebar di alam baka.

 

                        Talhah, 12 Januari 2008

 

 

Riwayat Hidup

Filed under: Riwayat Penulis

RIWAYAT HIDUP

 

Saefullah Cavin Al-Abarok.ms nama lengkap penanya dan seniman teater. Nama singkatnya penanya Saefullah Al-Abraok.ms adalah putra pasangan bapak Maksudi dan ibu Sari yang lahir di Lebak, 09 Mei 1980. Penulis adalah anak pertama dari tiga bersaudara.

Penulis memulai pendidikannya di TK Aisyah tahun 1986-1987, melanjutkan kependidikan dasar di SDN Sudamanik lulusan pada tahun 1994, setelah itu penulis melanjutkan ke SMPN Cimarga hingga tahun 1996, lalu penulis melanjutkan ke SMAN 2 Rangkasbitung hingga tahun 2000.

Di tahun 2000 penuli melanjutkan pendidikannya ke Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten dan kuliah di FKIP Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Dalam perjalanan kuliahnya di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten, penulis aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Masyarakat Seni Kafe Ide (MSKI) dan sering terlibat dalam pementasan teater, diantaranya “Orang-Orang Bangkai” karya Farid dan Bunga (2001), “Jakarta 2034” karya Seno Gumira Adjidarma (2002), “Orang-Orang Empang” karya Arip Senjaya (2003), “Kisah Cinta dan Lain-Lain” karya Arifin C. Noor, “Lagu Di Atas Bus” bersama Hamsad Rangkuti, dan “Dukun Palsu” Karya Arifin C. Noor.

Penulis juga pernah menyutradarai naskah pementasan dramatisasi puisi “Disebabkan Oleh Angin” karya W.S. Rendra, “BAN-POL (Banyolan Politik) karya Yusef Muldiyana (Astrada), dan turut mendirikan teater Tanahliat bersama alumni teater MSKI Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten dan mendirikan Sanggar Teater Orang-Orang Gunung.

Dalam struktur keorganisasian penulis pernah menjabat Menteri Agama BEM FKIP Untirta 2002-2003, dalam kepengurusan UKM MSKI Untirta Banten penulis pernah menjabat manajer pemetasan 2001-2002, wakil Dewan Pertimbangan (DP) 2002-2003, dan Ketua Dewan Pertimbangan (DP) 2003-2004.

Penulis juga pernah aktif di organisasi luar kampus diantaranya GPML (Garda Persaudaraan Muslim Lebak) menjabat Departemen Pendidikan dan Budaya, KMMS (Kumpulan Mahasiswa Maja Serang), KUMLA (Kumpulan Mahasiswa Lebak) Kom Untirta Banten, dan sempat bergabung dalam kesenian Tari Pencak Silat TTKDH, Paguron Pakem Banten Asuhan Bapak Tb. Manca Hulapa.

Beberapa tulisan penulis telah dimuat di media Regional Banten dan Belutin kampus Ritual diantaranya Cerpen, Puisi dan Resensi Buku. Perjalanan penulis setelah lulus kuliah sempat menjadi watawan mingguan Detik Pos (Staf Redaksi), Mingguan Fokus Banten (Redaktur Fokus Banten), Mendirikan Sanggar Teater Bukit Siliwangi di SMAN 2 Rangkasbitung sempat ikut lomba manjadi juara II diacara Hari Pendidikan Nasional oleh HPBI Lebak, mengajar di SMAN Ciomas, mengajar di SMAN 2 Rangkasbitung, SMP Islam Terpadu Pondok Pesantren Al-Huda.

Organisasi yang pernah dilalu setelah lulus kuliah diantaranya HPBI (Himpunan Pembinaan Bahasa Indonesia) Lebak, Komonitas Budaya Lebak diprakarsai bunda Iroh, dan sekarang mengajar di SMA Islam Ibnu Salam Nurul Fikri Boarding School Cinangka. Mencoba merintis Sanggar Teater Panggung Alang-Alang dan Komunitas Menulis Kreatif Sastra.

Penulis juga penikmat pementasan teater ketika ada pematasan di Rumah Dunia, MSKI Untirta, TIM, Lembur Bitung UPI Bandung Lakon, dan dimana saja ketika peristiwa pemetasan teater terjadi. Beberapa tulisan yang sempat di muat di media lokal Banten ditulis di Blognya Alabarokms dalam Catatan perjalanan serata dalam luang waktunya penulis sempatkan membaca puisi di berbagai acara pemabacaan puisi.    

 

January 8, 2008

Suara Kita

Filed under: Puisi

Suara Kita

Saefullah Al-Abarok.Ms

 

Sura kita Kini dicumbu rayu

Di antara riuh bertaruh

Menebar janji

Di tukung jalan, kita

Berkaca dengan wajah mereka, dengan anggun

lekat, dikemas dalam pamplet sejuta hias.

Menebar di tiang, tak ayal di awan-awan

dan di pekarangan terjadi perbincangan tentang pristiwa,

dikala samset menjemput rinkink jangkrik bernyanyi tak henti

lintas nurani jadi milik, sebelum tentu di bilik suara.

 

Pabuaran, November 2006

Jika

Filed under: Puisi

Jika

Untuk Dinda Muslihat

saefullah Al-Mubarok.Ms

 

Jika tersayat patah

Riak sembilu Teriris, badan memandang ringis

Pisau masa lalu, demam terlukis di deretan dengkur.

 Jangan biarkan selimut turut membungkus,

kembali menikam dalam gurau tak harap

di mata terlukis berganti empedu,

tak.

Entah tak.

 

Cinangka, 2006

Iweul

Filed under: Puisi

Iweul

Saefullah Al-Mubarok.Ms.

 

 Setumpuk serbuk parutan kelapa

Diketemukan gula yang menganga

 Siap serap panasnya

wajan Pasrah terkoyak

Saat otaknya menaburi beberapa

Merica Sampai terkelupas kulit mukanya

Tak digenangi darah yang masih bagianya

Lunglai dibiarkan pucat

Berjalan mengitari lidah penikmat

Disantap di piring-piring Bersama ledak tawa,

menimbang bimbang.

 Ciomas, Februari 2007

Di Tengah Gemuruh

Filed under: Puisi

Di tengah Gemuruh

Saefullah Al-Abarokms

 

Rumput-rumput memainkan daun

di tengah gemuruh ombak berlari

ditiap serambi pantai terkapar

reranting menggelepar di atas pasir,

bertasbih karang peristirahatan memacu laju

 tanpa takut tertelan bah

tertelan lumpur-lumpur yang dikabarkan orang

berbagai makan bersambut elang

di lepas lembah danau mekar teratai

ikan-ikan berseliweran tak kehilangan pendapatan

nelayan memandang sayap murka di bagan

menyisihkan waktu

tak kehilangan langkah gagah menggantungkan nafasnya tapi,

menghilangkan jerit tangis bocah rindu terburai durian

menganga di samping batu masih menyisakan

lorong penuh kecemasan tapi

indah menyita waktu kita.

 Cihideung, Februari 2007

January 3, 2008

Mengalir

Filed under: Puisi

Mengalir

Saefullah Al-Abarokms

 

 

Sepenggal jiwa mengalir dalam nadi

Sepenggal kata mengalir dalam serpih mata

Dan raga-raga kau lenturkan

Begitu permadani baca

Dimimbar mengelegar

Riang, risau kau sapu menjadi senyap

Menyapa.

Tapi dititik usai kau lepas mereka berteriak

Memanggil-manggil

Ranum-ranum ku tunggu ditahun-tahunmu

Kembali meraba kata

Menginsyafi makna murka, duka, gembira kau

ayun-ayunkan mereka menerka

mencari, mebiarkan terkapar dalam kehilangan

lalu sama menyapa peristiwa serupa

sebelum malaikat maut menjemput.

Entah…

 

Padarincang, 2007

 

 

 

 

 

 

Tentang Temabang

Filed under: Puisi

Tentang Tembang

Saefullah al-Abarok M.S.

 

Ajari tentang tembang kata,

tersimpan dalam maya karya,

Tak sempat termaknai ia

Karena tak mampu akan lelakunya,

Tapi  telah diketemukan senja menuju magrib

Diantara para penari yang sempat membawakan

Beberapa lagu syahdu, lugu, mendayu-dayu.

Di tengah riuh kepak tangan para penonton

Dalam kalimat-kalimat yang tak sempat

Ingin rasanya memandang teks itu

Selalu bermuara dalam piawai

Yang masih retak-retak nirwana

Dipenat tak sempat ku sampaikan

 beberapa saja, terlalui begitu saja

raut mematung

 

                        Untirta, 4 Desember 2007

 

Berkelebat

Filed under: Puisi

Berkelebat

Saefullah Al-Abarok M.S.

 

Di kampungku, kata salah seorang penyair!

Menggigil sepucat lampu

Dan bebarapa titik gawat berkelebat

Di tikung rimbun perkebunan

diusung para kelompok

Penggebrak resah.

Apabila senja menyingsing kelam

dan lampu totok seperti mati

Di tiang listrik

menjadikan denyut malam

Tapi, siang muram.

 

Namun kini

Sudah tersulap ringkas

Jantung kampungku yang dulu mengelupas

Diambang debu, tapi masih berkabut.

dihiasi para penyapu jalan bertengger adipura

dan pasar yang tak lagi berwajah

kini berantakan tinggal puing-puing kesemrawutan

masa silam

bersama kita tatap di ring alun-alun berdansa ria

berjajar jajanan anak manja

beralih ke rabinsa

tak berani membiarkan anak merengek

sesobek gaun beringsut memilah-milah

bagaimana mungkin kita menahan mereka

sedang beberapa ruas jalan terlindas cepat

para angkot, setatap mata yang lagi terpana

 

dan kini para ibu

memangku dagu di teras rumah

medengkur sekali terjaga jingkrak anak

kian waktu meminta pitrah.

 

Rangkasbitung, 2007

  

 

 

 

 

 

 

Filed under: Puisi






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Naoko M